Stabilitas.id – Pemerintah mengambil langkah cepat dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa Indonesia telah mengalihkan sumber impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dari Timur Tengah ke sejumlah negara alternatif.
Langkah diversifikasi ini dilakukan untuk memitigasi gangguan rantai pasok migas dari Teluk Persia yang saat ini menjadi zona merah konflik bersenjata.
“Sudah kami alihkan sumber impor ke negara lain seperti Amerika Serikat, Australia, dan beberapa negara lainnya. Kami pastikan pasokan LPG Indonesia dalam kondisi aman,” ujar Bahlil saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Senin (6/4/2026).
BERITA TERKAIT
Selain LPG, pemerintah juga menerapkan strategi serupa untuk pemenuhan kebutuhan minyak mentah (crude oil). Ketergantungan terhadap pasokan Timur Tengah mulai digeser ke wilayah yang lebih stabil secara geopolitik.
Bahlil merinci, pasokan minyak mentah kini dikonversi dari sumber tradisional ke negara-negara di benua Afrika, seperti Angola dan Nigeria. Sebagai informasi, tahun ini Indonesia memproyeksikan impor LPG sebesar 7,8 juta ton, dengan komposisi mayoritas sebesar 70% dari AS dan 30% dari produksi Saudi Aramco.
Ketahanan Stok
Di sisi hilir, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memastikan ketersediaan bahan bakar masyarakat selama periode Ramadan dan Idulfitri 2026 tetap terjaga. Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 116.K/HK.02/MEM.S/2026, rata-rata ketahanan stok LPG nasional berada di level 11,6 hari.
Anggota Komite BPH Migas, Erika Retnowati, melaporkan bahwa penyaluran LPG selama periode Posko ESDM (12–31 Maret 2026) mengalami kenaikan sebesar 6,5% dari rata-rata normal.
“Penyaluran rata-rata mencapai 34.206 metrik ton. Puncak kenaikan terjadi pada 16 Maret lalu, dan meskipun ada isu kelangkaan di beberapa wilayah, tim di lapangan telah menangani hal tersebut dengan baik,” jelas Erika dalam penutupan Posko ESDM, Selasa (31/3/2026).
Ditjen Migas terus melakukan pengawasan harian untuk memastikan distribusi dari penyalur hingga sub-penyalur tetap lancar, guna mendukung mobilitas dan kebutuhan konsumsi masyarakat di tengah dinamika harga energi global yang fluktuatif. ***
















