• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 19, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Figur

Bankir, Indonesia dan Perang terhadap Kebutaan

by Sandy Romualdus
16 Desember 2011 - 00:00
15
VIEWS
Bankir, Indonesia dan Perang terhadap Kebutaan
0
SHARES
15
VIEWS

Sebagai bankir, Sir John Peace sejatinya sudah boleh berpuas diri atas pencapaiannya. Menjadi top manajer di bank sekelas Standard Chartered Bank jelas bukan prestasi yang main-main, selain juga prestasi lainnya di bidang sosial.

John Peace sendiri memang baru bergabung dengan dewan direksi Standard Chartered pada tahun 2007 sebagai Deputy Chairman, kemudian diangkat sebagai Chairman pada 2009. Awalnya pada Januari 2009, Mr Peace, menjadi pelaksana Direktur Utama Standard Chartered setelah pendahulunya Mervyn Davies, ditunjuk menjadi Menteri Promosi dan Investasi di Kabinet Perdana Menteri Inggris Gordon Brown. Kemudian resmi memegang jabatan tersebut pada Juni di tahun yang sama.

  • Baca juga: Srikandi di Benteng Finansial: Saat Kepemimpinan Intuisi dan Presisi Menjaga Marwah Otoritas

Di bawah kepemimpinannya, kini Standard Chartered berada di urutan 20 perusahaan terkemuka dalam daftar FTSE 100 berdasarkan kapitalisasi pasar. Standard Chartered juga menjadi salah satu bank Inggris yang tidak rekapitalisasi dalam program bailout senilai 37 miliar poundsterling pada bulan Oktober. Bank itu juga dinilai telah lolos dari dampak terburuk krisis kredit karena sebagian besar berfokus pada pasar berkembang.

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Oleh karena itu seolah ingin membalas jasa pada negara-negara berkembang, dia bersama perusahaannya mencetuskan program “Seeing is Believing” (SIB) untuk memerangi kebutaan khususnya di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia.

Bahkan dua bulan lalu, pria yang sukses mengembangkan bisnis yang didirikannya sendiri pada 1980, menyambangi Jakarta terkait program sosialnya itu. “Memerangi kebutaan merupakan salah satu bentuk intervensi kesehatan yang paling efektif dari segi pembiayaan. Mengapa? Karena sekitar 80 persen dari kasus kebutaan dapat dicegah atau diobati,” ujar John Peace saat membagi-bagikan kacamata gratis di SMPN 101 Palmerah, Jakarta.

Berdasarkan data sekitar 314 juta orang di dunia saat ini mengalami cacat penglihatan dan hampir semuanya bisa sembuh dengan bantuan kacamata atau operasi mata. Untuk itu, Standard Chartered Bank bekerjasama dengan LSM-LSM yang concern terhadap kesehatan mata di berbagai negara dalam memberikan akses layanan kesehatan mata. “Program ini akan menyalurkan total 100 juta dolar AS sejak diluncurkan tahun 2003 hingga 2020 nanti,” ujar John.

Dan setelah melihat bahwa Indonesia yang menempati urutan kedua dalam daftar negara dengan tingkat kebutaan tertinggi di dunia, John tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Di negara dengan jumlah penduduk lebih dari 230 juta jiwa ini, ada sekitar 3,5 juta orang (1,5 persen dari populasi) mengalami kebutaan pada kedua belah mata.

Penyebab utama kebutaan di Indonesia adalah katarak. Sekitar 50-60 persen atau 1,5 juta orang mengalami kebutaan akibat katarak. “Katarak merupakan penyebab utama kebutaan di Indonesia. Padahal operasi katarak hanya memerlukan biaya sekitar Rp500 ribu. Untuk itu, sejauh ini kami sudah mendonasikan lebih dari 2 juta dolar AS yang digunakan untuk operasi katarak gratis. Selain itu, kami juga memberikan pelatihan bagi pekerja kesehatan, melakukan pemeriksaan mata dan mendistribusikan kacamata,” jelas John.

Selain program SiB, John Peace kini juga sibuk mengkampanyekan program-program sosial lainnya, antara lain: “Living with HIV” (program edukasi HIV), “Goal”(kampanye olah raga untuk mengubah kehidupan anak-anak perempuan), serta “Nets for Life (pembagian kelambu mengandung insektisida untuk mencegah malaria di Afrika).

  • Baca juga: Dari LPPI ke Malta: Siasat CEO Prospero Taklukkan Monopoli GRC Global

Dan atas kepeduliannya dan aktivitasnya dalam bidang sosial, John Peace diganjar gelar kebangsawanan “Sir” oleh Ratu Elizabeth.

Namun kesibukan dalam kegiatan sosial tak membuatnya lupa akan posisinya sebagai Chairman Standard Chartered Bank. Saat berkunjung ke Indonesia, selain membagi-bagikan kacamata, dia juga mengunjungi orang nomor satu di Republik Indonesia. John Peace meyakinkan pemerintah Indonesia tentang komitmen bank yang dipimpinnya untuk berinvestasi di bidang infrastruktur. Standard Chartered sendiri sudah lebih dari 140 tahun beroperasi di Indonesia. Di matanya, Indonesia terbukti cukup tahan banting dalam situasi ekonomi global yang sedang bergejolak saat ini. “Standard Chartered ingin sekali bisa memainkan peran penting di masa depan Indonesia dan menjadi bank internasional lokal bagi Indonesia,” Peace menjelaskan.

PERJALANAN KARIR

John Peace memiliki pengalaman di bidang layanan keuangan dan dan retail. Pada 1980, ia mendirikan CCN Systems, perusahaan yang mempelopori teknik penilaian kredit; model risiko dan pengembangan sistem segmentasi konsumen.

CCN juga menyediakan layanan memproses kartu kredit bagi organisasi-organisasi retail dan keuangan. CCN kemudian berubah menjadi Experian plc, sebuah perusahaan layanan informasi global yang menyediakan data dan sarana analisa bagi klien-klien yang tersebar di lebih dari 90 negara.

Di tahun 2000, John Peace ditunjuk menjadi Group CEO GUS plc, di mana Experian dan Burberry merupakan anak perusahaan. Ia mempelopori strategi restrukturisasi besar-besaran untuk memfokuskan kembali Group GUS plc yang meliputi akuisisi serta pelepasan lebih dari 50 unit bisnis di seluruh dunia.

Di tahun 2002, Burberry terdaftar secara resmi di London Stock Exchange dengan John Peace sebagai Chairman. Kini Burberry merupakan brand mewah terkemuka dengan bisnis retail yang tersebar di seluruh dunia.

Di tahun 2006, GUS plc mengalami demerger (terpisah dari induk perusahaan) dan Experian menjadi bisnis yang terdaftar di FTSE 100 di mana Sir John Peace menjadi Chairman perusahaan.

  • Baca juga: Dari AO Jadi Dirut, Kindaris Resmi Pimpin PNM Gantikan Arief Mulyadi

Komitmennya yang tinggi dalam mendukung komunitas lokal dan komitmennya terhadap pendidikan, membuat ia dipercaya sebagai Chairman Board of Governors di Universitas Nottingham Trent selama 10 tahun.

John Peace juga mengepalai Nottingham Economic Resilience Forum yang memfokuskan diri pada isu-isu seputar resesi dan tingkat pengangguran lokal. Ia juga menjabat sebagai East Midlands Ambassador fo Business di komunitasnya. Selain itu, ia merupakan Deputy Lieutenant of Nottinghamshire dan dinobatkan menjadi High Sheriff of Nottinghamshire pada April 2011. Sir John merupakan Fellow of the Royal Society of Arts dan memperoleh gelar Honorary Doctorate dari Universitas Nottingham. SP

 
 
 
 
 
Previous Post

Go Public Masih Pantas Dilirik

Next Post

Menangkap Momentum Pelemahan Global

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Modal Asing Masuk US$ 8,5 Miliar di Q2 2026, BI Pastikan Cadangan Devisa Tetap Tebal

Srikandi di Benteng Finansial: Saat Kepemimpinan Intuisi dan Presisi Menjaga Marwah Otoritas

by Sandy Romualdus
10 Agustus 2026 - 20:17

Rupiah melonjak ke level Rp17.753 per dolar AS usai Surpres Gubernur BI diserahkan. Simak analisis lengkap rekam jejak Destry Damayanti...

Dari LPPI ke Malta: Siasat CEO Prospero Taklukkan Monopoli GRC Global

Dari LPPI ke Malta: Siasat CEO Prospero Taklukkan Monopoli GRC Global

by Sandy Romualdus
3 Juni 2026 - 22:47

Stabilitas.id – Panggung Global Startup Awards (GSA) 2026 di Valletta, Malta, pada 7–8 Mei 2026 menjadi saksi runtuhnya dominasi barat...

Dari AO Jadi Dirut, Kindaris Resmi Pimpin PNM Gantikan Arief Mulyadi

Dari AO Jadi Dirut, Kindaris Resmi Pimpin PNM Gantikan Arief Mulyadi

by Stella Gracia
12 Mei 2026 - 14:14

Stabilitas.id – PT Permodalan Nasional Madani (PNM) resmi mengumumkan nakhoda baru untuk memimpin perusahaan pembiayaan ultra mikro tersebut. Kindaris ditunjuk...

Reni Wulandari, Direktur Operasi Perempuan Pertama SIG: Dobrak Bias Gender di Industri Semen

Reni Wulandari, Direktur Operasi Perempuan Pertama SIG: Dobrak Bias Gender di Industri Semen

by Stella Gracia
21 April 2026 - 18:54

Stabilitas.id – Industri semen yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki kini memiliki wajah baru dalam kepemimpinannya. Reni Wulandari, seorang...

Obituari Michael Bambang Hartono: Berpulangnya Sang Arsitek Diversifikasi Bisnis Djarum

Obituari Michael Bambang Hartono: Berpulangnya Sang Arsitek Diversifikasi Bisnis Djarum

by Stella Gracia
21 Maret 2026 - 16:49

Stabilitas.id – Dunia usaha Indonesia berduka. Michael Bambang Hartono, salah satu pilar utama di balik imperium bisnis Djarum Group dan...

Friderica Widyasari Dewi: Menjaga Marwah Otoritas dengan Intuisi dan Presisi

Friderica Widyasari Dewi: Menjaga Marwah Otoritas dengan Intuisi dan Presisi

by Sandy Romualdus
12 Maret 2026 - 00:05

Stabilitas.id - Sejarah sering kali ditulis melalui langkah-langkah sunyi yang konsisten sebelum akhirnya meledak dalam sebuah panggung besar. Di lantai...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Mengembalikan Pengaruh BI Rate

Mengembalikan Pengaruh BI Rate

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance