Stabilitas.id – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang digelar pada Kamis (12/3/2026) menyepakati sejumlah keputusan strategis, mulai dari pembagian dividen jumbo, rencana buyback saham, hingga perubahan susunan pengurus perseroan untuk periode 2026–2029.
BCA menetapkan penggunaan laba bersih tahun buku 2025 yang mencapai Rp57,5 triliun untuk dibagikan sebagai dividen tunai sebesar Rp336,00 per saham. Nilai ini setara dengan dividend payout ratio (DPR) sebesar 72%, meningkat 12% dibandingkan dividen tahun buku sebelumnya.
Dividen tersebut sudah termasuk dividen interim sebesar Rp55,00 yang dibayarkan Desember lalu, sehingga sisa yang akan dikucurkan kepada pemegang saham adalah sebesar Rp281,00 per saham. Selain itu, manajemen mengonfirmasi terobosan baru berupa rencana pembagian dividen interim sebanyak tiga kali atau setiap kuartal pada tahun buku 2026.
BERITA TERKAIT
Perubahan Struktur Kepemimpinan
RUPST kali ini menandai babak baru kepemimpinan di bank swasta terbesar nasional tersebut. Jabatan Presiden Komisaris kini dipercayakan kepada Jahja Setiaatmadja, sementara posisi Presiden Direktur dijabat oleh Hendra Lembong.
Perseroan juga mengangkat David Formula sebagai Direktur Teknologi Informasi, menggantikan peran yang sebelumnya ada. David telah dinyatakan lulus fit and proper test oleh OJK pada Februari 2026. Di sisi lain, perseroan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Cyrillus Harinowo dan Rudy Susanto atas dedikasi mereka selama masa jabatannya.
Susunan Dewan Komisaris & Direksi BCA (Hasil RUPST 2026):
-
Presiden Komisaris: Jahja Setiaatmadja
-
Komisaris: Tonny Kusnadi
-
Presiden Direktur: Hendra Lembong
-
Wakil Presiden Direktur: Armand Wahyudi Hartono & John Kosasih
-
Direktur: Subur Tan, Lianawaty Suwono, Santoso, Vera Eve Lim, Haryanto T. Budiman, Frengky Chandra Kusuma, Antonius Widodo Mulyono, Hendra Tanumihardja, dan David Formula.
Rencana Buyback dan Optimisme 2026
Selain pembagian laba, pemegang saham menyetujui rencana pembelian kembali saham (shares buyback) dengan nilai maksimal Rp5 triliun. Langkah ini dipandang sebagai bentuk kepercayaan manajemen terhadap nilai intrinsik perusahaan di tengah dinamika pasar global.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menyatakan optimismenya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2026 meskipun dibayangi ketidakpastian geopolitik. “BCA berupaya mendukung momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan mendorong penyaluran kredit ke berbagai segmen dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian,” ujar Hendra.
Dengan penetapan Kantor Akuntan Publik (KAP) PwC Indonesia untuk audit tahun buku 2026, BCA menegaskan komitmennya terhadap transparansi dan tata kelola yang baik. Fokus perseroan di kuartal II/2026 ini adalah memperkuat fundamental bisnis serta memastikan transisi kepemimpinan berjalan mulus demi memberikan nilai tambah berkesinambungan bagi seluruh pemegang saham. ***
















