• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Internasional

Berharap Perubahan dari Davos

by Sandy Romualdus
12 Februari 2012 - 00:00
12
VIEWS
Berharap Perubahan dari Davos
0
SHARES
12
VIEWS

Krisis AS dan Eropa yang menjadi bahasan utama pertemuan Davos kali ini telah menjurus pada kesimpulan bahwa ada yang salah dengan sistem ekonomi yang digunakan selama ini. Banyak pihak yang berharap bahwa Forum Ekonomi Dunia kali ini menghasilkan perubahan penting.

Oleh : Ainur Rahman

  • Baca juga: Manfaatkan Alat Otomatis Artex AI: Peretas Tembus Sistem Tujuh Bank Raksasa di Seoul

 

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Angin yang bertiup di Davos mungkin masih seperti dulu, saat Sir Arthur Conan Doyle, pengarang cerita detektif Sherlock Holmes menulis artikel tahun 1899. Setelah itu, kota di Swiss bagian timur itu mulai ramai dikunjungi pelancong terutama asal Inggris Raya dan Belanda yang berolahraga musim dingin. Setelah mulai meredup pada era 1970-an, kota tertinggi di Swiss itu mulai mendapatkan pamornya lagi setelah Forum Ekonomi Dunia berdiri dan rutin mengadakan pertemuan tahunan di sana.

Dan tahun ini, angin yang sama tetap menemani pertemuan yang dihadiri oleh lebih dari 2.600 tokoh ekonomi dunia itu. Akan tetapi bisa jadi angin tersebut tidak bisa menghilangkan ‘hawa panas’ yang tengah menyelimuti kawasan Eropa bahkan ancamannya dikhawatirkan bisa menyebar ke seluruh dunia.

Pertemuan Davos tahun ini juga dipanaskan oleh munculnya kekhawatiran terhadap tatanan global yang semrawut. Sebut saja, krisis AS dan Zona Euro yang belum ada perbaikan, memanasnya krisis di Selat Hormuz, Revolusi musim semi di Arab atau ancaman lain seperti makin lebarnya ketimpangan antara si kaya dan si miskin.

Sesaat sebelum pertemuan yang dimulai pada 26 Januari waktu setempat itu berlangsung, forum tersebut menerbitkan laporan yang berisi dua risiko terbesar yang berpotensi berdampak paling besar dalam satu dasawarsa ke depan. Ancaman ekonomi tersebut adalah ketimpangan fiskal serta disparitas pendapatan yang kronis.

Laporan World Economic Forum (WEF) bertajuk Global Risk 2012, menyebutkan dua risiko ini dihadapi oleh negara maju maupun berkembang. Kemiskinan, kerusuhan, dan beberapa persoalan serta fenomena sosial lain juga disebut-sebut berpeluang mengancam perekonomian global. “Kita menghadapi defisit struktural dan beban pembiayaan pensiun yang besar. Kita berpeluang dihadang isu seperti ini untuk jangka panjang jika tidak bertindak,” kata Steve Wilson, Ekonom Financial Services AG. Dunia juga masih dihadang isu besar berkepanjangan yakni krisis utang Eropa.

Menurut laporan itu, risiko-risiko itu bisa terjadi ketika angkatan muda yang jumlahnya besar dihadapkan pada tingkat pengangguran yang tinggi. Sementara itu, angkatan lanjut usia yang telah mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah menjadi beban bagi pemerintahan di negara maju yang sudah banyak menanggung utang. Baik angkatan muda maupun angkatan tua bisa menghadapi ketimpangan ekonomi dan sosial yang sangat lebar sehingga mengancam stabilitas sosial dan politik.

Ketika negara-negara maju mengalami tantangan besarnya beban dari kelompok usia lanjut, sebaliknya negara-negara berkembang mempunyai keuntungan demografi (demographic dividend) berupa angkatan muda yang besar. Negara-negara berkembang seperti Indonesia, Vietnam, Filipina, Meksiko, Peru, dan kelompok BRIRIC (Brazil, Rusia, India ,dan China) akan berlomba-lomba memanfaatkan keuntungan ini sebelum angkatan muda mereka memasuki usia lanjut.

Namun, negara berkembang menghadapi tantangan yang berbeda karena pertumbuhan pesat di negara berkembang tidak langsung memuaskan seluruh lapisan masyarakat, sehingga potensi terjadi ketimpangan ekonomi dan sosial tetap besar. Kegagalan menanggulangi ketimpangan ini membawa konsekuensi yang membahayakan.

“Fakta-fakta ini adalah seruan untuk bertindak bagi komunitas internasional dalam upaya berkoordinasi dan berkolaborasi karena risiko global dalam laporan itu bersifat lintas batas negara,” kata Klaus Schwab, Pendiri dan Kepala Eksekutif World Economic Forum dalam laporan itu.

Selain dua risiko besar di atas, volatilitas harga energi dan agribisnis yang ekstrem serta kegagalan sistem keuangan juga bisa berdampak buruk. WEF menyarankan pemerintah negara-negara di dunia aktif melibatkan peran pengusaha dan otoritas penyusun kebijakan.

  • Baca juga: Tercepat Sejak Pandemi: Ekonomi Vietnam Tumbuh 9,95 Persen di Kuartal III/2026

Beberapa analis dari sejumlah lembaga riset, seperti Morgan Stanley, bahkan berani memprediksi resesi akan terjadi tahun ini. Sedangkan World Economic Forum menyatakan dampak krisis utang Eropa akan menciptakan berbagai kekacauan baru yang bisa melahirkan revolusi seperti Arab Spring.

Kapitalisme Jadi Penyebab

Dalam pertemuan tersebut muncul pendapat bahwa seharusnya dunia sudah tidak lagi bergantung pada sistem ekonomi kapitalis bahkan sistem itu diprediksi akan punah digantikan dengan system lain. Namun demikian jika ada sistem lain yang dianggap bisa menjadi alternatif, forum itu mengatakan bahwa sistem yang paling pas kemungkinan adalah sistem kapitalisme negara.

Ini merujuk pada sistem mekanisme pasar dengan sentuhan tangan pemerintah yang kuat, sebagaimana dijalankan di China. Dengan kata lain, korporasi dijalankan seperti biasa yang terjadi di Barat, tetapi peran pemerintah yang kuat sangat mendominasi.

”Kapitalisme barangkali merupakan bentuk terburuk dari berbagai sistem,” kata David Rubenstein, salah satu pendiri Carlyle Group, perusahaan pengelola dana investasi global yang bermarkas di Washington.

Gelombang krisis yang terjadi sekarang diakibatkan oleh gurita kapitalisme yang sudah mengglobal dan menyebabkan munculkan berbagai persoalan global. Krisis AS dan Eropa yang saat ini belum pulih telah dinilai banyak pihak akan berdampak pada perlambatan ekonomi global. Ujung-ujungnya, melambatnya pertumbuhan ekonomi, akan mendorong terjadinya kesenjangan ekonomi. “Siklus ‘bom’ dan ‘letusan’ memang merupakan bagian dari struktur capital,” kata Brian Moynihan, pimpinan umum Bank of America.

Beberapa waktu sebelumnya, Kepala Eksekutif Unilever Paul Polman menyatakan memang ada ancaman besar akibat pertumbuhan ekonomi yang melambat saat ini. Karena itu salah solusi yang bisa dilakukan adalah dengan penciptaan lapangan pekerjaan. “Ada risiko yang luar biasa discohesion sosial dengan pertumbuhan yang lambat dalam perekonomian yang saat ini terjadi sehingga penciptaan lapangan kerja bagi perusahaan adalah sangat penting,” kata Paul Polman.

Karena itu, kelompok usaha yang membuat Sup Knorr, Teh Lipton dan sabun Dove ini berharap bisa segera menciptakan 500.000 pekerjaan untuk petani dan berencana untuk membuka 30 pabrik baru di pasar berkembang.

Sementara itu, Vineet Nayar, Chief Executive dari perusahaan perangkat lunak terbesar keempat di India juga mengikuti langkah Paul Polman. Pada pertemuan di Davos, dirinya akan mengumumkan rencana untuk menciptakan 10.000 pekerjaan di Amerika Serikat dan Eropa.

Dan menjelang pertemuan tersebut, Klaus Schwab, pendiri WEF itu mengatakan bahwa kapitalisme memang layak untuk disalahkan dan dia memastikan pertemuan tahun ini akan memfokuskan bagaimana mengembangkan model dunia baru karena kapitalisme dalam bentuknya yang sekarang, tak lagi mendapat tempat di dunia. Sebuah pengakuan bahwa perlunya sebuah perombakan perbaikan total dari kapitalisme. “Kapitalisme dalam bentuknya sekarang, tidak lagi pas dengan dunia sekitar kita. Kita telah gagal mengambil pelajaran dari krisis keuangan tahun 2009,” ujar Schwab.

Schwab menegaskan perlunya sebuah tranformasi global dengan menegaskan kembali tanggungjawab sosial global. Semua pemimpin dunia memiliki tanggung jawab untuk mencari jalan baru terhadap berbagai persoalan yang ada sekarang.

  • Baca juga: Rekor Belanja Rp2.811 Triliun, Tiongkok Borong 1.000 Ton Emas demi Mitigasi Syok Geopolitik

Tampaknya kita memang perlu berharap bahwa pertemuan Davos tahun ini akan menghembuskan angin baru dalam perumusan kembali sistem ekonomi dunia yang lebih bertanggung jawab. Dan ‘angin’ itu diharapkan bisa membersihkan efek-efek buruk dari kapitalisme.

Sementara di Davos, di kawasan lereng pegunungan yang dipenuhi udara bersih, angin yang berhembus tetaplah sama. SP

 
 
 
 
 
Previous Post

Memaksimalkan Manisnya Komoditas Cokelat

Next Post

Memaknai Angka 50 Tahun

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Strategi Penerapan Keamanan Siber di Perbankan

Manfaatkan Alat Otomatis Artex AI: Peretas Tembus Sistem Tujuh Bank Raksasa di Seoul

by Stella Gracia
8 Oktober 2026 - 11:49

Korea Selatan menyelidiki pembobolan data 68.000 nasabah di tujuh bank terkemuka akibat serangan siber otomatis berbasis Artex AI. Stabilitas.id - Pemerintah...

Tercepat Sejak Pandemi: Ekonomi Vietnam Tumbuh 9,95 Persen di Kuartal III/2026

Tercepat Sejak Pandemi: Ekonomi Vietnam Tumbuh 9,95 Persen di Kuartal III/2026

by Stella Gracia
5 Oktober 2026 - 14:11

Ekonomi Vietnam tumbuh 9,95 persen pada kuartal III/2026 ditopang ekspor dan investasi, memicu ADB merevisi proyeksi pertumbuhan tahunan menjadi 7,8...

Setahun Berjalan, Bullion Bank Pegadaian dan BSI Himpun 153 Ton Emas

Rekor Belanja Rp2.811 Triliun, Tiongkok Borong 1.000 Ton Emas demi Mitigasi Syok Geopolitik

by Stella Gracia
23 September 2026 - 10:36

Tiongkok membukukan rekor impor emas melampaui 1.000 ton senilai Rp2.811 triliun. Manuver ini menjadi langkah mitigasi risiko seiring kolapsnya properti...

Hindari Jebakan Utang Unsustainable, IMF Dorong Regulator Global Perketat Manajemen Risiko Defisit Anggaran

Hindari Jebakan Utang Unsustainable, IMF Dorong Regulator Global Perketat Manajemen Risiko Defisit Anggaran

by Stella Gracia
22 September 2026 - 10:49

IMF membunyikan alarm terkait rasio utang publik global yang akan melampaui 100% PDB pada 2029. Investor mulai rekalibrasi portofolio menjauhi...

Inflasi di Atas Target, The Fed Didesak Tunda Akselerasi Pemangkasan Suku Bunga

Lawan Intervensi Trump, The Fed Kerek Suku Bunga Acuan ke Level 4 Persen

by Stella Gracia
18 September 2026 - 18:14

Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan menjadi 3,75-4,00 persen demi menekan inflasi, mengabaikan kritik dan desakan Presiden Donald...

Deeskalasi Timur Tengah: Trump Tangguhkan Serangan, Iran Ajukan Proposal 10 Poin

Ambisi Trump di Ladang Emas Hitam: Bayang-Bayang Skenario Venezuela di Tanah Persia

by Stella Gracia
14 September 2026 - 14:48

Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil alih kendali minyak Iran mengadopsi skenario kesepakatan Venezuela, di tengah memanasnya konflik Selat...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Memaknai Angka 50 Tahun

Memaknai Angka 50 Tahun

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance