Stabilitas.id – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memproyeksikan potensi aliran modal masuk (capital inflows) fantastis hingga US$500 miliar atau setara Rp8.950 triliun (asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS). Dana jumbo dari konglomerat dunia tersebut dibidik mendarat di Indonesia melalui pembentukan ekosistem family office di Bali.
Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan, tingginya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi makro global saat ini memicu eksodus modal besar-besaran. Banyak individu maupun keluarga super kaya (ultra-high-net-worth) di dunia yang tengah gencar berburu yurisdiksi aman (safe haven) untuk memarkirkan sekaligus mengelola kekayaan mereka.
Guna menangkap peluang emas tersebut, pemerintah tengah mengebut penyiapan platform digital terintegrasi serta regulasi kerangka hukum (legal framework) yang solid untuk memayungi operasional firma penasihat manajemen kekayaan tersebut.
BERITA TERKAIT
Sebagai langkah konkret, sebuah forum investasi internasional dijadwalkan digelar pada 18 Juli 2026 mendatang untuk mempertemukan para pemegang modal global (global wealth owners) dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
“Per tadi malam yang saya dengar kira-kira ada potensi US$500 miliar dolar yang mau datang ke sana [family office Bali]. Ini di luar APBN, tidak ada kaitannya. Kita sebenarnya agak terlambat, kalau diusulkan awal tahun lalu, hari ini mungkin sudah banyak duit masuk dari Timur Tengah seperti Dubai dan Abu Dhabi,” ujar Luhut saat ditemui di Jakarta, dikutip Rabu (17/6/2026).
Special Financial Center
Gagasan pembentukan pusat keuangan internasional ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang berniat menyulap Pulau Dewata menjadi kawasan Special Financial Center.
Dalam arahan strategis sebelumnya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa stabilitas politik dan keamanan domestik menempatkan Indonesia di peringkat atas sebagai negara paling aman dari risiko konflik global, termasuk potensi pecahnya Perang Dunia III.
Daya tarik alamiah dan keamanan Bali dinilai tecermin dari tingginya angka kunjungan serta keputusan menetap jangka panjang para warga negara asing, termasuk migrasi ekspatriat asal Rusia dan Ukraina. Karakteristik ini dinilai menjadi modal kuat untuk menarik minat para investor, terutama para pemodal dari kawasan Timur Tengah yang mencari suaka investasi aman.
Investasi Sektor Riil Tanpa Pajak
DEN mengonfirmasi bahwa skema family office ini akan diintegrasikan ke dalam status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pusat Keuangan di Bali. Fasilitas penampungan dana asing ini dirancang untuk memberikan kemudahan penempatan modal, termasuk opsi pengelolaan dana tertentu yang menarik bagi investor kakap global.
Kendati menawarkan fleksibilitas penempatan aset keuangan, KEK Pusat Keuangan ini nantinya akan difungsikan sebagai gerbang utama (gateway) untuk mengalirkan likuiditas asing tersebut ke berbagai proyek produktif di sektor riil dalam negeri.
Luhut optimistis, kehadiran dana abadi para konglomerat dunia ini tidak hanya akan mempertebal likuiditas di pasar saham domestik, melainkan juga ampuh mendongkrak peringkat kredit (credit rating) Indonesia di level internasional. ***

















