• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Selasa, Oktober 6, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Ekonomi

DBS: Obligasi Masih Jadi Pilihan Utama, Saham Teknologi dan Asia Tetap Menarik di Kuartal IV 2025

by Sandy Romualdus
14 Oktober 2025 - 12:00
14
VIEWS
DBS: Obligasi Masih Jadi Pilihan Utama, Saham Teknologi dan Asia Tetap Menarik di Kuartal IV 2025
0
SHARES
14
VIEWS

Stabilitas.id – Chief Investment Officer Bank DBS, Hou Wey Fook, menilai kuartal IV 2025 sebagai periode penting bagi investor untuk “bergerak mengikuti arah tren” di tengah pelonggaran kebijakan moneter global, ketidakpastian fiskal Amerika Serikat, dan momentum positif di Asia. Dalam laporan bertajuk Investment Insights 4Q25, Hou menyebut obligasi tetap menjadi aset paling menarik, sementara sektor teknologi dan saham Asia di luar Jepang menawarkan potensi kenaikan yang menjanjikan.

Menurut Hou, pasar global kini diwarnai oleh transisi kebijakan bank sentral, dengan The Federal Reserve (The Fed) telah memulai penurunan suku bunga di tengah tekanan politik dan pelemahan pasar tenaga kerja. Namun, “aktivitas ekonomi AS yang kuat, risiko inflasi akibat tarif, dan kondisi fiskal yang memburuk dapat memicu resistensi pasar,” ujar Hou dalam laporan yang dirilis Senin (13/10/2025).

  • Baca juga: Rebound Tipis ke US$4.128: Harga Emas Uji Level Psikologis di Tengah Sikap Hawkish The Fed

Hou menjelaskan bahwa langkah The Fed menurunkan suku bunga akan menjadi katalis bagi pergerakan pasar keuangan global hingga 2026. Namun, risiko terhadap kredibilitas kebijakan moneter masih tinggi karena utang pemerintah AS telah menembus 120% terhadap PDB. “Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan dominasi fiskal, di mana kebutuhan pemerintah dalam pembiayaan utang dapat mulai mengarahkan kebijakan bank sentral,” kata Hou.

BERITA TERKAIT

Rebound Tipis ke US$4.128: Harga Emas Uji Level Psikologis di Tengah Sikap Hawkish The Fed

Lawan Intervensi Trump, The Fed Kerek Suku Bunga Acuan ke Level 4 Persen

Bayang-bayang The Fed: Pemerintah Akui Suku Bunga AS Bakal Picu Repricing Surat Utang Negara

Bayang-bayang FOMC: Kenaikan Bunga The Fed Siap Beri Tekanan Jangka Pendek ke IHSG

Di Eropa, pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat di paruh kedua tahun ini setelah sempat direvisi naik menjadi 1,2% di semester pertama. Sementara Jepang menghadapi tekanan ekspor, konsumsi domestik yang tangguh dan kenaikan upah tetap menjadi penopang utama.

Untuk Asia, DBS menilai pasar obligasi kawasan masih menarik di tengah pelonggaran suku bunga lokal dan dinamika utang yang sehat. “Arus eksternal yang menguntungkan dan narasi dolar yang melemah memperkuat momentum positif Asia,” jelas Hou.

Saham: Fokus ke Teknologi dan Asia

Dalam strategi lintas asetnya, Hou menyebut DBS menaikkan posisi saham AS menjadi netral sambil menambah eksposur terhadap sektor teknologi dan pasar Asia non-Jepang (AxJ).

“Kami merekomendasikan pendekatan ‘barbell’ — menyeimbangkan pertumbuhan dari sektor teknologi AS dan valuasi menarik di Asia,” tutur Hou.

Menurutnya, valuasi pasar Asia kini jauh lebih kompetitif dibanding negara maju, di tengah pelemahan dolar AS dan prospek pertumbuhan laba yang solid. Untuk membiayai rotasi portofolio ini, DBS menurunkan peringkat Eropa menjadi netral dan Jepang menjadi underweight dalam tiga bulan mendatang.

Obligasi: Kredit Investasi Lebih Menarik

  • Baca juga: Lawan Intervensi Trump, The Fed Kerek Suku Bunga Acuan ke Level 4 Persen

DBS tetap menempatkan obligasi sebagai aset unggulan kuartal IV tahun ini. “Obligasi lebih disukai daripada saham karena imbal hasil yang menarik dan sifatnya yang defensif,” ungkap Hou.

Ia menambahkan, imbal hasil obligasi jangka panjang berpotensi meningkat karena kurva yield yang makin curam, namun peluang terbaik masih berada pada kredit korporasi berkualitas tinggi (A/BBB) dengan durasi 2–3 tahun.

“Kami lebih memilih kredit dengan peringkat investasi dibanding obligasi pemerintah, karena fundamental korporasi masih solid sementara risiko fiskal pemerintah meningkat,” ujarnya.

Aset Alternatif: Infrastruktur dan Emas

Di tengah pelonggaran fiskal dan moneter AS yang bersamaan, Hou menyoroti pentingnya diversifikasi melalui aset riil. Infrastruktur privat dan emas menjadi dua fokus utama.

“Infrastruktur menawarkan arus kas jangka panjang yang terlindungi dari inflasi, sementara emas berfungsi sebagai lindung nilai terhadap devaluasi moneter dan risiko geopolitik,” katanya.

Harga emas yang telah menembus level USD 3.400 per ons, menurut Hou, berpotensi mencapai USD 4.450 pada paruh pertama 2026.

Taktik Portofolio: Bergerak Tapi Waspada

Secara keseluruhan, Hou menilai reli pasar aset berisiko masih akan berlanjut seiring ekspektasi penurunan suku bunga The Fed hingga lima kali sampai akhir 2026. Namun, risiko pasar tetap tinggi, terutama dari konsentrasi saham teknologi besar dan valuasi yang mendekati ekstrem historis.

  • Baca juga: Bayang-bayang The Fed: Pemerintah Akui Suku Bunga AS Bakal Picu Repricing Surat Utang Negara

“Probabilitas kenaikan tajam aset berisiko tetap tinggi, tetapi investor perlu memanfaatkan momentum ini sambil tetap melindungi sisi bawah portofolio melalui diversifikasi,” tegas Hou.

Dengan pendekatan hati-hati dan selektif, Hou Wey Fook merekomendasikan strategi follow the trend — bergerak mengikuti arah tren, sambil menjaga keseimbangan antara peluang pertumbuhan dan perlindungan risiko di tengah fase baru kebijakan moneter global. ***

Tags: 4Q25Asia non-JepangBank DBSDBSDBS CIOEmasHou Wey Fookinfrastruktur privatpasar obligasirekomendasi investasisaham teknologistrategi investasisuku bungathe fed
 
 
 
 
 
Previous Post

Harga Emas Antam Cetak All Time High, Sentuh Rp2,36 Juta per Gram

Next Post

Aset Kustodian BSI Tembus Rp125 Triliun, Tumbuh 34% di 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Inflasi September 2026 Terjaga 3,28 Persen: Bank Indonesia Kunci Target Sasaran 2,5 Persen

Inflasi September 2026 Terjaga 3,28 Persen: Bank Indonesia Kunci Target Sasaran 2,5 Persen

by Stella Gracia
5 Oktober 2026 - 14:17

Inflasi IHK September 2026 terjaga di level 3,28 persen yoy berkat konsistensi kebijakan moneter BI dan pengendalian harga pangan nasional....

Astra (ASII) Tebar Dividen Rp32,7 Triliun, Sisa Rp292 Per Saham Cair 25 Mei 2026

Laba Turun 19 Persen: Astra Tetap Guyur Dividen Interim Rp3,9 Triliun di Tengah Buyback Jumbo

by Stella Gracia
5 Oktober 2026 - 14:16

Astra International siap menyalurkan dividen interim 2026 senilai Rp3,9 triliun atau Rp98 per saham di tengah realisasi buyback jumbo Rp8...

Tawarkan 76 Proyek Strategis: Pemerintah Buka Peluang Investasi KPBU Senilai US$63 Miliar

Tawarkan 76 Proyek Strategis: Pemerintah Buka Peluang Investasi KPBU Senilai US$63 Miliar

by Stella Gracia
5 Oktober 2026 - 14:10

Pemerintah menawarkan 76 proyek KPBU senilai US$63,45 miliar dalam PPP Book 2026 mencakup jalan tol, kereta perkotaan, hingga tanggul laut...

Kekayaan RI US$343 Miliar Lari ke LN, Presiden Prabowo Tabuh Genderang Perang Lawan Fraud Ekspor

Guyur Stimulus Rp31 Triliun: Prabowo Siapkan Bansos Beras, BSU, dan Diskon Pajak

by Sandy Romualdus
5 Oktober 2026 - 14:08

Pemerintah menyiapkan stimulus ekonomi Rp31 triliun mencakup bansos beras 10 kg, BSU Rp300 ribu, dan insentif PPh 21 hingga 2027....

Garuda – Citilink Indonesia Kuasai Pangsa Pasar Domestik

Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

by Stella Gracia
5 Oktober 2026 - 13:56

Garuda Indonesia, Kemenpar, dan Mastercard merilis program stopover bebas biaya terbang domestik guna memperluas distribusi turis asing ke daerah prioritas....

Hari Batik Nasional 2026, BNI Kerek Daya Saing UMKM Kriya Menuju Kancah Global

HUT ke 28, Bank Mandiri Guyur Investor dengan Dividen Interim Rp6,16 Triliun

by Stella Gracia
2 Oktober 2026 - 13:45

Memperingati HUT ke 28, Bank Mandiri membagikan dividen interim Rp6,16 triliun. Kinerja solid ini ditopang lonjakan penyaluran kredit sebesar 17,6...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Daftar Forbes 2026: BCA Peringkat 1 Bank Terbaik RI, SeaBank Juara di Kategori Digital

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Kerek Cuan Penenun Baduy, BCA Promosikan Wastra Ramah Lingkungan ke Nasabah Kaya

Ubah Sampah Jadi Biogas: DPRD DKI Apresiasi Inovasi Biodigester Bank Jakarta di Rusunawa Rorotan

Inflasi September 2026 Terjaga 3,28 Persen: Bank Indonesia Kunci Target Sasaran 2,5 Persen

Laba Turun 19 Persen: Astra Tetap Guyur Dividen Interim Rp3,9 Triliun di Tengah Buyback Jumbo

Tercepat Sejak Pandemi: Ekonomi Vietnam Tumbuh 9,95 Persen di Kuartal III/2026

Tawarkan 76 Proyek Strategis: Pemerintah Buka Peluang Investasi KPBU Senilai US$63 Miliar

Guyur Stimulus Rp31 Triliun: Prabowo Siapkan Bansos Beras, BSU, dan Diskon Pajak

Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

Targetkan 5 Bank Syariah Jumbo pada 2027: OJK Dorong Konversi dan Wajibkan Merger Bank Kecil

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Aset Kustodian BSI Tembus Rp125 Triliun, Tumbuh 34% di 2025

Aset Kustodian BSI Tembus Rp125 Triliun, Tumbuh 34% di 2025

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance