PNM perkuat pembiayaan dan pendampingan Mekaar bagi perempuan pengusaha ultra mikro di wilayah 3T guna dukung ekonomi inklusif Danantara.
Stabilitas.id – PT Permodalan Nasional Madani (PNM) terus mengakselerasi pemerataan ekonomi nasional melalui perluasan jangkauan pembiayaan dan pendampingan usaha bagi perempuan pelaku usaha ultra mikro, khususnya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Langkah ini diwujudkan lewat optimalisasi Program Membina Ekonomi Keluarga Prasejahtera (Mekaar).
Melalui Program Mekaar, PNM mengintegrasikan penyaluran modal kerja dengan pendampingan serta edukasi finansial secara berkala. Strategi pemberdayaan kelompok ini dirancang untuk mendongkrak kapasitas usaha, memperkuat resiliensi ekonomi keluarga prasejahtera, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat akar rumput.
Inisiatif penguatan UMKM ini sejalan dengan mandat transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia. Chief Operating Officer Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menegaskan bahwa peran BUMN dituntut untuk memberikan dampak sosial yang luas di samping penciptaan nilai ekonomi.
BERITA TERKAIT
“BUMN didorong tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi keberlanjutan sosial dan lingkungan,” ujar Dony dalam keterangannya, Selasa (4/8).
Direktur Utama PNM, Kindaris, menjelaskan bahwa ukuran keberhasilan pemberdayaan PNM tidak hanya dilihat dari besarnya nilai pembiayaan yang disalurkan, melainkan pada keberlanjutan dan kemampuan nasabah dalam menaikkan skala bisnisnya.
“PNM membersamai sebagian kecil dari perjalanan mereka. Kekuatan sesungguhnya ada pada para ibu yang setiap hari memilih untuk bangkit, bekerja, dan menjaga harapan keluarganya. Tugas kami adalah memastikan mereka tidak berjalan sendiri dan terus memiliki ruang untuk bertumbuh,” kata Kindaris.
Kindaris menambahkan, penjangkauan hingga ke pelosok 3T menjadi prioritas perseroan agar masyarakat di daerah terisolasi memperoleh kesempatan finansial yang setara. Pemberdayaan perempuan di sektor ultra mikro terbukti memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap perputaran ekonomi desa, peningkatan daya beli, serta penguatan ketahanan ekonomi daerah secara inklusif. ***

















