Bank Mandiri luncurkan program Mandiri Sahabat Difabel untuk latih 350 siswa SLB di Jakarta dan sediakan jalur magang guna perkuat lingkungan kerja inklusif.
Stabilitas.id – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) terus memperkuat implementasi tata kelola berbasis keberlanjutan (environmental, social, and governance/ESG) melalui perluasan akses kerja inklusif bagi penyandang disabilitas.
Lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk Mandiri Sahabat Difabel, emiten bank berkode saham BMRI ini menggandeng Yayasan Institusi Disabilitas Indonesia (INDISI) untuk memberikan pelatihan kesiapan kerja (job readiness training) kepada 350 siswa penyandang disabilitas dari tujuh Sekolah Luar Biasa (SLB) di wilayah DKI Jakarta.
Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista menjelaskan bahwa perseroan berkomitmen memberikan kesempatan yang setara bagi setiap individu untuk berkembang dan berkontribusi terhadap perekonomian nasional.
BERITA TERKAIT
“Melalui program Mandiri Sahabat Difabel, kami ingin membekali para peserta dengan keterampilan, kepercayaan diri, dan kesiapan memasuki dunia kerja. Ini merupakan bagian dari komitmen Bank Mandiri untuk menciptakan ekosistem yang semakin inklusif,” ujar Adhika dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (6/8/2026).
Rangkaian pelatihan yang berlangsung mulai 20 Juli hingga 11 September 2026 tersebut mencakup 90 sesi pelatihan yang terbagi dalam 15 kelas. Materi yang diberikan meliputi pembentukan pola pikir kerja (growth mindset), peningkatan working attitude, penyusunan rekam jejak (curriculum vitae), hingga pemahaman hak dan kewajiban ketenagakerjaan.
Menariknya, program ini tidak hanya berhenti pada tahap pelatihan. Setelah menyelesaikan seluruh kurikulum, para peserta berkesempatan mengikuti proses seleksi oleh tim Human Capital Bank Mandiri untuk memperoleh posisi magang di lingkungan Bank Mandiri.
Adhika menambahkan, kolaborasi lintas sektor bersama lembaga independen seperti INDISI menjadi kunci utama agar materi pelatihan dapat diserap secara efektif sesuai kebutuhan khusus para peserta.
“Sinergi dengan pemangku kepentingan menjadi kunci menciptakan dampak yang berkelanjutan. Kami optimistis program ini dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk meningkatkan daya saing di dunia kerja,” pungkasnya. ***

















