Destry Damayanti dicalonkan sebagai Gubernur BI. EBC Financial Group beberkan 5 faktor penentu prospek rupiah, mulai dari inflasi hingga independensi BI.
Stabilitas.id – Pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) oleh Presiden Prabowo Subianto dinilai meredakan risiko transisi kepemimpinan di bank sentral, meski prospek pergerakan nilai tukar rupiah masih dibayangi lima faktor krusial.
Pengajuan figur internal yang saat ini menjabat sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI tersebut memberikan kepastian arah kebijakan (policy continuity) pasca-pengunduran diri Perry Warjiyo. Kurs rupiah pun sempat menguat 0,79% ke level Rp17.755 per dolar AS merespons pengumuman ini.
Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group Sana Ur Rehman menjelaskan bahwa meski calon tunggal menekan premi risiko institusional, penguatan rupiah yang berkelanjutan tetap bergantung pada respons kebijakan moneter, dinamika global, serta independensi BI.
BERITA TERKAIT
“Pengajuan Destry menghilangkan skenario kekhawatiran pasar atas hadirnya figur yang belum teruji atau sarat agenda politik. Namun, dampaknya saat ini baru berupa penurunan premi risiko, bukan jaminan apresiasi berlanjut,” ujar Sana dalam keterangannya, Senin (17/8/2026).
Lima Faktor Penentu Prospek Rupiah
EBC Financial Group merangkum lima faktor utama penentu kurs rupiah pasca-pencalonan Gubernur BI:
Kontinuitas vs Tekanan Eksternal: Penunjukan figur internal mengurangi “diskon kepemimpinan” pada rupiah, tetapi intervensi valas BI tetap berhadapan dengan volatilitas dolar AS, harga energi global, dan kebutuhan devisa domestik.
Disiplin Suku Bunga & Inflasi: Inflasi Juli 2026 yang terkendali di level 2,88% memberi ruang moneter, tetapi BI diimbau tidak terburu-buru memotong suku bunga agar aset rupiah tidak kehilangan daya tarik bagi investor asing.
Neraca Perdagangan & Minyak: Defisit perdagangan Juni 2026 yang menyempit jadi US$450 juta membantu menopang pasokan devisa, namun lonjakan harga minyak mentah akibat konflik Timur Tengah masih menjadi titik lemah.
Pertumbuhan Ekonomi Solid: Capaian PDB Q2/2026 sebesar 5,29% memberi BI keleluasaan untuk mengambil pendekatan sabar (patient approach) tanpa tergesa-gesa mengubah arah kebijakan moneter secara agresif.
Uji Independensi UU P2SK: Di bawah mandat perluasan UU P2SK, independensi BI akan diuji secara nyata saat tuntutan menjaga stabilitas rupiah berbenturan dengan dorongan pemerintah untuk menurunkan suku bunga demi pertumbuhan sektor riil. ***

















