KPwBI Purwokerto mencatat ekonomi Banyumas Raya tumbuh di Triwulan I-2026 disokong konsumsi & investasi. BI siapkan mitigasi kekeringan di semester II-2026.
Stabilitas.id – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto melaporkan perekonomian di wilayah Banyumas Raya mencatatkan pertumbuhan positif pada triwulan I-2026. Kinerja ekonomi regional ini didorong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga serta berlanjutnya investasi pada proyek-proyek strategis di daerah.
Dalam media briefing bersama wartawan se-Jawa Tengah yang digelar secara hibrida di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis (13/8/2026), Kepala KPwBI Purwokerto Aswin Gantina menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi ini mencakup empat kabupaten wilayah kerja KPwBI Purwokerto, yakni Kabupaten Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, dan Purbalingga.
Aswin menjelaskan, penguatan konsumsi rumah tangga pada triwulan pertama tahun ini dipicu oleh momentum penyesuaian Upah Minimum Provinsi (UMP), pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), serta efektivitas penyaluran stimulus pemerintah. Peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat selama periode Ramadhan dan Idul Fitri turut memberikan dorongan signifikan terhadap roda perekonomian daerah.
“Penyaluran stimulus pemerintah serta meningkatnya aktivitas ekonomi selama Ramadhan dan Idul Fitri menjadi penopang utama konsumsi rumah tangga. Di sisi lain, berlanjutnya proyek strategis pemerintah dan swasta serta masuknya investasi baru turut menopang pertumbuhan melalui sektor konstruksi,” ujar Aswin, dilansir Antara.
Ditinjau dari lapangan usaha, pendorong utama pertumbuhan di Banyumas Raya disokong oleh industri pengolahan, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, perdagangan besar dan eceran, serta konstruksi. Sementara dari sisi pengeluaran, kinerja ekonomi disokong oleh investasi, konsumsi pemerintah, serta konsumsi masyarakat yang tetap solid.
Inflasi Terjaga
Dari aspek stabilitas harga, wilayah Banyumas Raya menunjukkan tren pergerakan harga yang terkendali. Pada Juli 2026, dua kota pemantauan inflasi yakni Purwokerto dan Cilacap sama-sama mencatatkan deflasi.
Purwokerto membukukan deflasi sebesar 0,05% secara bulanan (month-to-month), sedangkan Kabupaten Cilacap mencatatkan deflasi sebesar 0,06%. Aswin menegaskan capaian inflasi daerah ini masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5% ± 1%.
Di Purwokerto dan Cilacap, deflasi terutama dipengaruhi oleh penurunan harga bensin, telepon seluler, sepeda motor, bawang putih, dan daging ayam ras. Meski demikian, penurunan harga lebih dalam tertahan oleh kenaikan harga komoditas pangan seperti bawang merah, cabai rawit, telur ayam ras, cabai merah, serta emas perhiasan.
Mitigasi Risiko Kekeringan
Memasuki semester II-2026, Bank Indonesia memberi perhatian khusus pada potensi risiko iklim, terutama fenomena musim kemarau yang diperkirakan memuncak hingga akhir September 2026. Risiko kekeringan ini berpotensi mengganggu pasokan dan produksi pangan lokal.
Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, KPwBI Purwokerto bersama Pemerintah Daerah di wilayah Banyumas Raya menyusun langkah mitigasi komprehensif, antara lain:
- Optimalisasi Infrastruktur Air: Memastikan ketercukupan pasokan air pertanian melalui pompanisasi, perbaikan jaringan irigasi, serta mendorong penggunaan varietas bibit adaptif kemarau.
- Pengembangan Sentra Pangan & Digital Farming: Mendorong ekspansi sentra produksi baru, optimalisasi lahan idle, pemanfaatan digital farming, serta pembinaan kelompok petani milenial.
- Stabilisasi Pasokan & Harga: Mengintensifkan Gerakan Pangan Murah (GPM), Operasi Pasar, peningkatan Kerja Sama Antardaerah (KAD), serta pengawasan ketat terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET) dan biaya distribusi logistik.
***
Indikator Ekonomi & Pemantauan Harga Wilayah Banyumas Raya (2026)
| Parameter Ekonomi & Wilayah | Indikator / Komoditas | Capaian / Pergerakan | Faktor Pendorong Utama / Keterangan |
| Pertumbuhan Ekonomi (Triwulan I-2026) | Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, Purbalingga | Tumbuh Positif | Kenaikan UMP, THR, aktivitas Ramadhan-Idul Fitri, & Proyek Konstruksi. |
| Deflasi Purwokerto (Juli 2026) | Inflasi Bulanan (mtm) | -0,05% | Pendorong deflasi: Bensin, ponsel, motor, bawang putih, daging ayam. |
| Deflasi Cilacap (Juli 2026) | Inflasi Bulanan (mtm) | -0,06% | Penahan deflasi: Bawang merah, cabai rawit, telur ayam, emas perhiasan. |
| Target Inflasi Nasional | Inflasi Tahunan (yoy) | 2,5% ± 1% | Posisi harga regional terpantau stabil dalam sasaran. |
| Fokus Mitigasi Semester II-2026 | Risiko Kekeringan / Pertanian | Puncak s.d. Sept 2026 | Pompanisasi, irigasi, varietas tahan kering, GPM, & digital farming. |

















