BPS catat neraca perdagangan Indonesia surplus USD 3,58 miliar pada Semester I 2026. Ekspor nonmigas tumbuh 4,90% yoy.
Stabilitas.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia sepanjang Semester I 2026 membukukan surplus sebesar USD 3,58 miliar. Hasil positif ini berhasil ditorehkan kendati kinerja perdagangan sempat mengalami defisit pada Juni 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan bahwa capaian surplus sepanjang Januari–Juni 2026 tersebut terutama ditopang oleh solidnya kinerja ekspor sektor nonmigas.
“Surplus sepanjang periode Januari–Juni 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar USD 19,35 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit USD 15,77 miliar,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/8).
BERITA TERKAIT
Secara kumulatif, total nilai ekspor Indonesia pada paruh pertama tahun ini menembus USD 140,81 miliar. Angka ini tumbuh 4,13% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ekspor nasional tersebut didorong oleh ekspor nonmigas yang naik 4,90% yoy menjadi USD 134,58 miliar.
Tiongkok masih menjadi pasar tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia dengan nilai USD 34,56 miliar (25,68% dari total ekspor nonmigas), disusul Amerika Serikat sebesar USD 15,82 miliar (11,76%), dan India sebesar USD 9,25 miliar (6,87%).
Dari sisi neraca perdagangan bilateral secara keseluruhan, tiga negara yang menjadi penyumbang defisit terbesar bagi Indonesia pada Semester I 2026 adalah Tiongkok dengan defisit mencapai USD 13,61 miliar, Australia sebesar USD 4,40 miliar, dan Singapura sebesar USD 4,33 miliar.
Khusus pada kelompok nonmigas, penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia dipimpin oleh Amerika Serikat dengan nilai surplus USD 10,44 miliar, India sebesar USD 6,73 miliar, serta Filipina sebesar USD 4,02 miliar.
Sebaliknya, negara penyumbang defisit nonmigas terbesar bagi Indonesia ditempati oleh Tiongkok dengan defisit USD 14,26 miliar, Australia sebesar USD 3,97 miliar, dan Prancis sebesar USD 1,49 miliar.

















