Stabilitas.id – Dunia menghadapi ancaman kelumpuhan logistik maritim setelah sekitar 1.900 kapal komersial tertahan di kawasan Selat Hormuz. Blokade ini terjadi menyusul eskalasi militer di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026, yang membuat Teheran memperketat aturan pelintasan di jalur perairan paling strategis di dunia tersebut.
Berdasarkan data pelacak real-time MarineTraffic, ribuan kapal tersebut terjebak di sekitar Teluk Persia, tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat ketegangan militer. Kapal-kapal yang terafiliasi dengan negara penyerang dilarang melintas, sementara kapal dari negara lain diwajibkan mematuhi aturan keamanan baru yang sangat ketat.
“Situasi tidak akan kembali seperti sebelum perang. Entitas yang terkait dengan pihak agresor tidak memiliki hak untuk melintas,” tegas Juru Bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, Rabu (25/3/2026).
BERITA TERKAIT
Ancaman Pasokan Energi Dunia
Dampak paling nyata terlihat pada sektor energi. Perusahaan analisis Vortexa melaporkan terdapat sekitar 190 juta barel minyak mentah dan produk migas yang saat ini mengambang di atas kapal tanker yang tertahan.
Rincian kapal yang terjebak mencakup:
-
211 kapal tanker minyak mentah.
-
315 kapal pengangkut produk kimia.
-
174 kapal kontainer.
-
98 kapal pengangkut LPG.
Kondisi ini memicu kekhawatiran hebat karena secara normal, sekitar 30% ekspor minyak global melalui jalur laut bergantung pada kelancaran Selat Hormuz.
Tarif Angkutan Melambung Tinggi
Disrupsi ini langsung memukul pasar pelayaran global. Direktur Analisis Maritim BIMCO, Filipe Gouveia, mencatatkan lonjakan tarif angkutan yang drastis akibat terbatasnya rute alternatif.
Hingga 20 Maret 2026, Baltic Clean Tanker Index dilaporkan melesat 78%, sementara Baltic Dirty Tanker Index meningkat 49%. Kenaikan ini didorong oleh pengenaan biaya tambahan darurat (emergency surcharges) serta lonjakan harga bahan bakar bunker.
Para analis memperingatkan bahwa jalur darat tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menggantikan volume kargo laut yang biasa melintasi Hormuz. Dengan sekitar 5,5% armada tanker dunia yang kini terisolasi di Teluk Persia, tekanan terhadap inflasi barang dan energi global diprediksi akan mencapai titik didih pada kuartal II/2026 jika blokade tidak segera dibuka.***
















