Stabilitas.id — Eskalasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Teheran mengumumkan rencana pengenaan tarif dan pengetatan lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Langkah sepihak Iran ini langsung direspons dengan peringatan keras oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang mendesak Teheran untuk segera menyepakati negosiasi atau menghadapi konsekuensi militer.
Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ebrahim Azizi menyatakan, pihaknya tengah mematangkan mekanisme baru untuk mengatur jalur pelayaran di Selat Hormuz. Dalam skema tersebut, Iran akan mengenakan biaya atas dalih ‘layanan khusus’.
Azizi menegaskan tarif dan akses rute khusus ini hanya akan menguntungkan kapal komersial dari negara-negara yang kooperatif dan bekerja sama dengan Teheran. Sebaliknya, rute strategis ini akan ditutup rapat bagi kapal-kapal yang berafiliasi dengan blok Barat.
BERITA TERKAIT
“Rute ini akan tetap ditutup bagi operator yang disebut ‘proyek kebebasan’,” tegas Azizi melalui akun media sosial X miliknya, dikutip dari Anadolu, Senin (18/5/2026).
Trump Ancam Serangan Militer
Merespons manuver Teheran, Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan keras agar Iran segera melunak dalam negosiasi program nuklir dan penyelesaian konflik yang buntu. Trump mengisyaratkan kesiapannya untuk kembali menginstruksikan serangan militer jika kesepakatan urung tercapai.
“Saya tidak tahu [apakah kesepakatan segera tercapai]. Jika mereka tidak melakukannya, mereka akan mengalami masa yang sangat sulit. Mereka memiliki kepentingan untuk mencapai kesepakatan,” ujar Trump dalam wawancara telepon dengan stasiun televisi Prancis, BFMTV.
Sejumlah laporan media internasional menyebutkan bahwa Trump tengah menghitung opsi untuk melanjutkan agresi terhadap rezim Iran dalam beberapa waktu ke depan. Pasalnya, perundingan damai di Islamabad, Pakistan, dinilai gagal membuahkan hasil konkrit.
Kronologi Konflik di Jalur Pasokan Minyak Dunia
Ketegangan di Selat Hormuz—yang menjadi urat nadi pasokan minyak global—merupakan kelanjutan dari konfrontasi bersenjata awal tahun ini:
-
28 Februari 2026: AS dan Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Iran, yang langsung dibalas oleh Teheran dengan menggempur aset sekutu AS di negara-negara Teluk dan memblokade Selat Hormuz.
-
8 April 2026: Gencatan senjata sempat tercapai lewat mediasi Pakistan, namun pembicaraan damai jangka panjang menemui jalan buntu.
-
13 April 2026: AS membalas dengan memberlakukan blokade angkatan laut guna memotong lalu lintas maritim dan logistik dari serta menuju pelabuhan-pelabuhan Iran.
-
Awal Mei 2026: Trump mengumumkan ‘Project Freedom’ (Proyek Kebebasan) untuk mengawal kapal dagang melintasi Selat Hormuz secara paksa, walau inisiatif tersebut belakangan ditangguhkan sementara.
Situasi terkini menunjukkan Trump memilih memperpanjang status gencatan senjata secara sepihak sembari mempertahankan blokade laut, mengurung arus perdagangan Iran di tengah ancaman pecahnya perang terbuka jilid dua. ***






.jpg)










