Phi Institute soroti gap 24,04% antara literasi (69,57%) dan inklusi keuangan (93,61%) hasil SNLIK 2026. Berisiko picu penipuan & pinjol ilegal.
Stabilitas.id – Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatatkan kenaikan indeks literasi keuangan Indonesia menjadi 69,57%, naik dari posisi 66,64% pada 2025. Kendati mengalami pertumbuhan positif, tingkat pemahaman masyarakat tersebut dinilai masih tertinggal jauh di belakang indeks inklusi keuangan yang telah menembus 93,61%.
Lembaga kajian Phi Institute menyoroti adanya kesenjangan (gap) lebar sebesar 24,04 poin persentase antara tingginya akses masyarakat terhadap produk keuangan dan kemampuan mereka dalam memahami karakteristik risikonya.
Founder Phi Institute, Raja Suhud, menegaskan bahwa lebarnya selisih tersebut memperlihatkan percepatan akses layanan keuangan yang tidak diimbangi dengan edukasi mengenai manfaat, biaya, hak, kewajiban, serta risiko produk.
BERITA TERKAIT
“Selisih lebih dari 24 poin persentase berisiko melahirkan inklusi keuangan yang semu. Masyarakat memiliki rekening, menggunakan pinjaman digital, membeli asuransi, atau mulai berinvestasi, tetapi belum tentu memahami karakteristik dan risiko produk tersebut,” ujar Raja Suhud dalam keterangan resminya, Selasa (11/8/2026).
Raja menambahkan, ekspansi akses tanpa literasi yang memadai dapat memperbesar kerentanan masyarakat terhadap berbagai modus penipuan (scam), investasi bodong, jeratan pinjaman online tidak bertanggung jawab, hingga pembelian produk finansial yang tidak sesuai kebutuhan.
Pelaksanaan SNLIK 2026 sendiri dilakukan secara komprehensif menjangkau 75.000 responden di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota menggunakan metode wawancara tatap muka Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI).
Ketimpangan Demografis Masih Lebar
Berdasarkan analisis Phi Institute, kesenjangan pemahaman keuangan masih terdistribusi secara tidak merata antarwilayah dan kelompok sosial-ekonomi:
Wilayah Perkotaan vs Perdesaan: Indeks literasi di perkotaan mencapai 72,54% (inklusi 95,47%), sedangkan di perdesaan literasi hanya 64,42% (inklusi 90,39%).
Tingkat Pendidikan: Masyarakat yang tidak sekolah/tidak tamat SD memiliki indeks literasi sangat rendah sebesar 45,23%, berbanding jauh dengan lulusan perguruan tinggi yang mencapai 93,46%.
Tingkat Pendapatan: Kelompok berpendapatan di bawah Rp 500.000 per bulan mencatatkan literasi 51,71%, sementara kelompok berpendapatan di atas Rp 3,5 juta per bulan mencapai 89,65%.
“Kelompok yang secara ekonomi dan sosial lebih rentan justru menghadapi keterbatasan lebih besar. Oleh karena itu, literasi keuangan harus diposisikan sebagai agenda pemerataan dan perlindungan sosial,” tegas Raja.
Di sisi lain, Phi Institute memberikan catatan khusus terkait rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai lembaga penjaminan.
Meski 62,51% pemilik rekening tahu simpanannya dijamin, hanya 46,31% yang mengenali logo Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Lebih prihatin lagi, pengetahuan masyarakat mengenai penjaminan polis asuransi selain BPJS baru menyentuh angka 12,47%. Hal ini perlu menjadi perhatian serius mengingat LPS akan segera menjalankan Program Penjaminan Polis.
Rekomendasi 5 Langkah Pembenahan
Guna memastikan inklusi keuangan yang berkualitas, Phi Institute mendorong lima langkah strategis:
- Penguatan Kurikulum Sekolah: Integrasi praktik pengelolaan uang, tabungan, utang, dan perlindungan data pribadi sejak dini.
- Transparansi Informasi Industri: Lembaga Jasa Keuangan (LJK) wajib menyederhanakan ringkasan biaya, risiko, dan kriteria produk.
- Edukasi Tersegmentasi: Prioritas sosialisasi kepada masyarakat desa, pekerja informal, petani, nelayan, dan pelaku UMKM.
- Sinergi Literasi Digital: Menyelaraskan edukasi keamanan data pribadi dengan perluasan produk fintech.
- Evaluasi Berbasis Perubahan Perilaku: Mengukur keberhasilan program berdasarkan perbaikan keputusan keuangan masyarakat, bukan sekadar jumlah peserta acara.
***
Ringkasan Indikator Utama SNLIK 2026 & Profil Literasi Keuangan Indonesia
| Kategori / Indikator Demografi | Indeks Literasi Keuangan (%) | Indeks Inklusi Keuangan (%) | Kesenjangan / Gap (Poin %) |
|
Agregat Nasional (SNLIK 2026)
|
69,57% | 93,61% |
24,04 poin
|
|
(Pencapaian SNLIK 2025)
|
(66,64%) | (92,74%) |
(26,10 poin)
|
|
Area Perkotaan (Urban)
|
72,54% | 95,47% |
22,93 poin
|
|
Area Perdesaan (Rural)
|
64,42% | 90,39% |
25,97 poin
|
|
Pendidikan: Tidak Tamat SD
|
45,23% | – |
Tingkat pemahaman sangat rendah
|
|
Pendidikan: Perguruan Tinggi
|
93,46% | – |
Pemahaman sangat memadai
|
|
Pendapatan: < Rp 500 Ribu/bulan
|
51,71% | – |
Rentan terhadap risiko keuangan
|
|
Pendapatan: > Rp 3,5 Juta/bulan
|
89,65% | – |
Akses & pemahaman tinggi
|
|
Pengetahuan Simpanan Dijamin LPS
|
62,51% | – |
Kenal Logo LPS: 46,31%
|
|
Pengetahuan Penjaminan Polis Asuransi
|
12,47% | – |
Perlu peningkatan sosialisasi LPS
|

















