BNI (BBNI) raih laba bersih Rp 10,8 triliun dan PPOP rekor Rp 18,5 triliun di Semester I-2026. Kredit melonjak 24,4% menjadi Rp 968,5 triliun.
Stabilitas.id – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) membukukan kinerja keuangan yang solid sepanjang semester I-2026. Emiten BUMN bersandi saham BBNI ini mengantongi laba bersih sebesar Rp 10,8 triliun, ditopang oleh ekspansi kredit yang tumbuh agresif serta efisiensi biaya dana.
Hingga akhir Juni 2026, penyaluran kredit BNI melonjak 24,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) menembus Rp 968,5 triliun. Pertumbuhan yang terdistribusi seimbang di segmen korporasi, menengah, UMKM, hingga konsumer ini mengerek Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) naik 14,2% yoy menjadi Rp 22,3 triliun. Sementara itu, pendapatan berbasis komisi (Fee-Based Income/FBI) turut tumbuh 14,2% yoy mencapai Rp 9 triliun.
Kombinasi pertumbuhan pendapatan inti tersebut mendorong Laba Operasional Sebelum Pencadangan (Pre-Provision Operating Profit/PPOP) BNI mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah perseroan untuk periode semester pertama, yakni mencapai Rp 18,5 triliun.
BERITA TERKAIT
Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, mengungkapkan bahwa penguatan struktur pendanaan menjadi kunci dalam menekan biaya dana (Cost of Fund). Rasio dana murah (CASA) BNI terjaga di level 65,4% seiring pertumbuhan CASA sebesar 11,2% yoy, sehingga Cost of Fund DPK membaik ke posisi 2,56% dari sebelumnya 2,78%.
Sementara itu, Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menegaskan bahwa pencapaian ini sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia. Akselerasi bisnis BNI juga didorong pesat oleh kanal digital, di mana pengguna aplikasi wondr by BNI telah mencapai 15,1 juta dengan volume transaksi melonjak 110% yoy. Pada segmen wholesale, platform BNIdirect mencatatkan volume transaksi sebesar Rp 6.039 triliun (+17% yoy). Di samping itu, penguatan jaringan cabang melalui program BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) kini telah diimplementasikan penuh di seluruh wilayah operasional perseroan.
Dari pilar manajemen risiko, Direktur Risk Management BNI, David Pirzada, menjelaskan bahwa kualitas aset BNI terus mengalami perbaikan berkelanjutan. Rasio Loan at Risk (LAR) membaik signifikan dari 11,0% menjadi 8,1%, sementara rasio Non-Performing Loan (NPL) bertahan di level aman sebesar 1,9% per akhir Juni 2026.***

















