Bank Neo Commerce (BBYB) kantongi laba bersih Rp 294,85 miliar pada Semester I 2026. Pendapatan transaksi QRIS melesat 246%.
Stabilitas.id – PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) melanjutkan tren positif pertumbuhan profitabilitas. Bank berbasis digital ini membukukan laba bersih setelah pajak (Profit After Tax) sebesar Rp 294,85 miliar pada Semester I 2026, tumbuh 6,81% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan Semester I 2025 sebesar Rp 276,05 miliar.
Capaian ini memperpanjang rekor BNC yang konsisten membukukan laba bersih dalam dua tahun terakhir.
Direktur Utama Bank Neo Commerce, Eri Budiono, mengemukakan bahwa di tengah ketidakpastian ekonomi global dan pengetatan likuiditas perbankan, perseroan menerapkan strategi pertumbuhan yang selektif, disiplin, dan berfokus pada kualitas aset.
BERITA TERKAIT
“Hasil kinerja Semester I 2026 menunjukkan bahwa strategi kami untuk mengutamakan kualitas pertumbuhan, efisiensi operasional, serta pengelolaan risiko yang lebih disiplin telah memberikan hasil yang positif,” ujar Eri dalam keterangan resminya, Jumat (31/7).
Hingga akhir Juni 2026, BNC mengelola total aset sebesar Rp 17,45 triliun dengan perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 12,30 triliun. Porsi perolehan dana tabungan tumbuh 2,10% YoY menjadi Rp 3,39 triliun.
Dari pilar pendapatan, emiten bersandi saham BBYB ini mengantongi Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) sebesar Rp 1,11 triliun. Sementara itu, pendapatan berbasis komisi (Fee Based Income) terangkat 6,77% YoY menjadi Rp 59,66 miliar.
Pertumbuhan pendapatan non-bunga BNC didorong oleh lonjakan adopsi fitur transaksi QRIS digital yang mencapai 267,4 juta kali transaksi (+124% YoY). Lompatan frekuensi transaksi tersebut mengerek pendapatan transaksi QRIS BNC melesat 246% YoY menjadi Rp 25,8 miliar.
Di lini intermediasi, BNC secara terukur merealokasi portofolio kreditnya. Total penyaluran kredit tercatat sebesar Rp 7,13 triliun atau terkoreksi 11,79% YoY, terutama dipicu oleh pangkasan porsi kredit pada segmen komersial dan korporasi.
Sebaliknya, penyaluran kredit pada segmen fokus BNC, yakni gabungan konsumer dan UMKM, berhasil tumbuh 6,68% YoY dari Rp 5,44 triliun menjadi Rp 5,80 triliun. Langkah penataan portofolio ini sukses menekan rasio Non-Performing Loan (NPL) Gross BNC turun menjadi 2,99% (vs 3,10% pada H1 2025).
Efisiensi biaya operasional BNC tecermin dari perbaikan rasio BOPO sebesar 250 bps menjadi 82,31%, serta kenaikan Return on Assets (ROA) menjadi 3,23%. Dari sisi permodalan, rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) BNC melonjak ke level 50,23% dengan akumulasi modal inti yang menebal 14,52% YoY menjadi Rp 4,20 triliun.***

















