JAKARTA, Stabilitas.id – Partai Konservasi Britania Raya (Inggris) mengumumkan pemimpin baru mereka, yang juga sudah menjabat sebagai menteri luar negeri Inggris selama satu tahun terakhir, Liz Truss.
Liz juga akan ditunjuk secara resmi oleh Ratu Elizabeth menjadi Perdana Menteri baru Inggris, yang diperkirakan pada Selasa (6/9/22) siang.
“Saya akan menghadirkan rencana yang matang untuk memotong pajak dan menumbuhkan perekonomian kita” ungkap Liz, dalam pidato kemenangannya.
Ia juga menambahkan, akan mengambil langkah dalam menangani masalah dari kenaikan harga energi hingga Layanan Kesehatan Nasional.
Hasilnya didapatkan dari pemilihan yang dilakukan secara nasional dan anggota partai yang bertahan selama beberapa minggu di musim panas ini. Truss akan menjadi pemimpin negara yang ke-4 dalam kondisi turbulensi politik dalam enam periode.
Truss menghabiskan waktunya berkampanye melawan rivalnya, Rishi Sunak, yang merupakan mantan Menteri Keuangan Inggris yang menjadi saingannya untuk menjadi pemimpin partai konservatif.
Dilansir dari NPR.com, Truss menggantikan Boris Johnson, yang mendapat citra buruk setelah diserang beberapa skandal yang memuncak dalam paruh pertama tahun ini.
Setelah Boris mengundurkan diri, karena kehilangan dukungan dari mayoritas sesama legislator Partai Konservatif dan menteri di kabinetnya sendiri.
Sebagai pemimpin baru, Truss dihadapkan pada krisis energi yang mengalami kenaikan signifikan di Inggris, dengan konsumen dan perusahaan yang menghadapi rekor kenaikan biaya gas dan listrik yang besar akibat dari perang Rusia-Ukraina. Serta, ancaman inflasi dan resesi yang akan dihadapi Inggris ke depannya.
Truss dalam wawancaranya dengan BBC, mengatakan bahwa dalam beberapa hari ini, ia akan merumuskan proposal yang berisi rencana untuk memerangi tantangan ekonomi yang sedang terjadi, dan “bertindak segera” dalam menuntaskan masalah tersebut.***





.jpg)










