• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Sabtu, Maret 7, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Laporan Utama

Makin Besar, Makin Dilirik

oleh Sandy Romualdus
1 Agustus 2012 - 00:00
7
Dilihat
Makin Besar, Makin Dilirik
0
Bagikan
7
Dilihat

Menarik ketika membaca opini seorang pembaca yang dimuat di sebuah blog yang dikelola media cetak ternama. Setelah melihat angka-angka dari Statistik Perbankan Indonesia
edisi Maret 2012 yang dirilis Bank
Indonesia, si penulis opini mengatakan
wajar jika bisnis properti tumbuh subur
di Jakarta. Begitu juga dengan bisnis
kendaraan bermotor baik mobil ataupun
motor yang jumlahnya makin menjejali
Ibukota.

Hal itu disebabkan putaran terbesar
dana-dana yang ada di Indonesia terjadi
di Jakarta. Lihat saja data-data yang
ada. Dari jumlah dana milik masyarakat
yang disimpan di bank yang berjumlah
Rp2.826 triliun, sebanyak nyaris separonya
terkonsentrasi di Jakarta. Senada dengan
itu, jumlah kredit yang dikucurkan industri
perbankan di Jakarta juga mencapai
hampir 50 persen dari keseluruhan kredit.

Masuk di akal jika rumah, flat,
apartemen, ruko, rukan, kendaraan
bermotor, jumlahnya terus bertumbuh
di ibukota. “Jakarta memang luar biasa.
Namun, masihkah kita patut berharap
sektor pertanian bisa maju?” tanya si
penulis menutup opini tersebut.

BERITA TERKAIT

Transformasi BRIVolution Berhasil, Laba Anak Usaha BRI Group Melejit Rp10,38 Triliun

Transaction Banking BRI Tumbuh Impresif, Dorong Penguatan Dana Murah

Transaksi Mandiri Agen Melesat 89 Persen, Ekonomi Desa Jadi Motor Pertumbuhan

BNI Perkuat Sinergi dengan Merchant lewat BNI wondrful Iftar 2026

Jika pertanyaan itu diajukan kepada
pelaku perbankan maka jawaban yang
pasti adalah tidak tertutup kemungkinan
jika risiko di sektor pertanian sudah jauh
berkurang. Memang sejak, Pemerintah
Orde Baru menetapkan tujuan
pembangunan untuk mengembangkan
industri manufaktur, sektor pertanian
perlahan-lahan terus terpinggirkan.

Sejak pertengahan tahun 90-an, sektor
manufaktur mulai mengambil alih peran
sektor pertanian pada produk domestik
bruto (PDB). Kondisi itu dibaca oleh
perbankan dengan menyalurkan kreditnya
ke sektor itu sehingga menimbulkan efek
bola salju yang membuat pertumbuhannya
selalu meningkat.

Menurut data Badan Pusat Statistik
(BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia
pada triwulan pertama 2012 mencatat
angka 6,3 persen dibandingkan periode
yang sama tahun lalu. Sedangkan
dibandingkan kuartal IV-2011, ekonomi
Indonesia tumbuh 1,4 persen. Tingginya
pertumbuhan sektor pengolahan menjadi
pemicu utama pertumbuhan. Selain itu,
ada sektor perdagangan dan sektor jasa,
seperti hotel dan restoran. “Sektor-sektor
ini yang menyumbang Produk Domestik
Bruto paling tinggi,” kata Kepala BPS Suryamin.

Pertumbuhan tertinggi dihasilkan
sektor pengangkutan-komunikasi
(10,3 persen), diikuti perdaganganhotel-restoran
(8,5 persen), konstruksi
(7,3 persen), keuangan-real estat-jasa
perusahaan (6,3 persen), listrik-gas-air
bersih (6,1 persen), industri pengolahan
(5,7 persen), jasa (5,5 persen), pertanianpeternakan-kehutanan-perikanan
(3,9
persen), pertambangan- penggalian (2,9
persen).

Pertanian Penuh Risiko

Lalu mengapa perbankan Indonesia
lebih tertarik menyalurkan kreditnya
ke sektor pengolahan, perdagangan,
pengangkutan dan komunikasi ketimbang
sektor pertanian sebagai sektor utama
ekonomi Indonesia?

Perbankan telah menganggap sektor jaminan pembelian komoditas yang tidak stabil. Selain itu ada pula
ketidakpastian usaha akibat serangan hama, harga yang jatuh di
pasaran, atau tidak laku di pasar karena kualitas yang buruk adalah
beberapa realitas yang dihadapi petani. “Perbankan tidak tertarik
pada sektor pertanian dan kelautan karena tidak asuransi yang
menjaminnya. Sebab pertanian termasuk yang memiliki risiko
tinggi,” kata ekonom BNI Ryan Kiryanto.

Menurut dia, perspektif perbankan terhadap sektor pertanian
membuat alokasi kredit masih rendah. Pasalnya, sektor pertanian
masih tergantung musim, tata niaga yang belum tertata serta hasil
pertanian yang tergantung musim tanam. Kenyataan tersebut
membuat sektor pertanian memiliki risiko tinggi,
fluktuasi harga serta mismatch pendanaan dan
kredit.

Namun demikian Ryan berpendapat,
kesalahan bukan pada pihak perbankan. Tetapi
masalahnya ada pada kebijakan pemerintah
yang tidak menjadikan sektor pertanian dan
kelautan sebagai sektor utama pertumbuhan
ekonomi nasional. “Perbankan itu mencari profit,
kalau tidak menguntungkan bank tentu enggan
memberikan kredit,” kata Ryan.

Yang perlu dilakukan, kata Ryan, pemerintah harus memiliki
political will untuk memajukan sektor pertanian. Sehingga sektor
dapat menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar ekonomi
Indonesia.

Sektor yang Dilirik Bank

Menurut data BPS sektor yang paling besar menyumbang laju
pertumbuhan PDB tahun sepanjang 2011 dan selama triwulan
I 2012 adalah sektor Pengangkutan dan Komunikasi. Tingginya
PDB dalam sektor Pengangkutan, dan Komunikasi dinilai karena
tingkat perjalanan nasional yang tinggi, dan meningkatnya
kepemilikan alat-alat komunikasi. “Angkutan udara meningkat
dan alat komunikasi selular itu berubah dari SMS ke internet juga
memicu pertumbuhan,” ujar Kepala BPS Suryamin.

Dari sisi perbankan sendiri, sektor komunikasi dianggap bisnis
yang menguntungkan, dan karena itu kucuran kreditnya cepat
terealisasi. Pada April 2012 lalu misalnya, Bank Rakyat Indonesia (BRI) memberikan fasilitas pinjaman senilai Rp 225 miliar kepada
PT Indonusa Telemedia (Telkom Vision) yang merupakan anak
usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk.

Pinjaman itu dialokasikan untuk belanja modal (capital
expenditure/capex) Telkom Vision pada 2012. Dana itu antara lain
dipakai untuk pembelian decoder dan prasarana televisi pra bayar.

Direktur Bisnis Kelembagaan dan BUMN Bank BRI, Asmawi
Syam mengatakan media memiliki potensi pertumbuhan bisnis
yang besar sebab penetrasi pasarnya masih rendah. “Selain itu
industri ini relatif memiliki tingkat resilience yang tinggi terhadap
perubahan kondisi makro ekonomi,” kata Asmawi.

Secara total Bank BRI telah menyalurkan kredit kepada
Telkom Group senilai Rp 6,18 triliun. Angka tersebut akan terus
bertumbuh, sebab tahun ini BRI mengalokasikan pinjaman
buat Telkom sebesar Rp 3,25 triliun untuk mendukung rencana
investasi perusahaan.

Asmawi menambahkan, bank BRI mulai melirik pembiayaan
kepada industri berbasis media dan penyiaran. Sebab potensi
pertumbuhan yang masih sangat terbuka dan tahan terhadap
perubahan kondisi ekonomi.

Bank Mandiri pun tak ingin ketinggalkan. Meskipun tetap
mengharapkan berjalannya pembangunan infrastruktur, bank
terbesar di Indonesia ini juga menyiapkan dana untuk sektor
transportasi dan telekomunikasi.

Menurut Direktur Korporasi Bank Mandiri Fransisca Nelwan
Mok, pihaknya memiliki limit kredit infrastruktur sebesar Rp56,67
triliun yang akan disalurkan pada lima sektor. Sebesar Rp7,09 triliun untuk sektor jalan, Rp11,09 triliun untuk ketenagalistrikan, Rp13,55
triliun transportasi, Rp12,665 triliun untuk telekomunikasi, dan
Rp12,29 triliun untuk sektor minyak dan gas.

Beberapa proyek yang diikuti perseroan, di antaranya
pembangunan jalan tol Cikampek-Palimanan, jalan tol dalam
kota Jakarta, jalan tol di Bali, pelabuhan, bandara. “Proyek-proyek
di sektor energi, transportasi dan telekomunikasi juga akan
tumbuh tahun ini. Seperti telekomunikasi kan banyak proyeknya,”
tuturnya.

Jadi tampaknya bank-bank akan tetap mengincar sektorsektor
yang memang dalam struktur PDB menjadi penyumbang
pertumbuhan terbesar. Sementara sektor lain, semisal Pertanian
terpaksa harus menunggu hingga pemerintah kembali berpaling
ke sektor itu. Kalau dukungan pemerintah sudah terlihat
barulah kita bisa berharap sektor pertanian kembali berperan
pada pertumbuhan ekonomi, setidaknya menjadi salah satu
penyumbang PDB yang terbesar.

 
 
 
 
Sebelumnya

Intermediasi Sejati untuk Negeri

Selanjutnya

Tetap Berhitung Risk and Return

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

TPS Gandeng Unair, 21 Pekerja Ikuti Pelatihan Finance for Non Finance

TPS Gandeng Unair, 21 Pekerja Ikuti Pelatihan Finance for Non Finance

oleh Stella Gracia
12 Februari 2026 - 12:20

Stabilitas.id — PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) menggelar pelatihan Finance for Non Finance bagi 21 pekerja lintas unit kerja pada...

BSN Fokus Dorong Ekosistem Perumahan Syariah, Developer Jadi Mitra Kunci Pertumbuhan

BSN Fokus Dorong Ekosistem Perumahan Syariah, Developer Jadi Mitra Kunci Pertumbuhan

oleh Sandy Romualdus
8 Februari 2026 - 11:31

Stabilitas.id — Bank Syariah Nasional (BSN) menegaskan penguatan peran developer sebagai mitra utama dalam ekosistem pembiayaan perumahan syariah melalui penyelenggaraan...

OJK Pastikan Tindak Lanjut Konkret Usai Pertemuan dengan MSCI

OJK Pastikan Tindak Lanjut Konkret Usai Pertemuan dengan MSCI

oleh Stella Gracia
3 Februari 2026 - 09:48

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan langkah tindak lanjut konkret setelah menggelar pertemuan dengan tim Morgan Stanley Capital International...

Kredit Tumbuh, Likuiditas Terjaga: OJK Ungkap Proyeksi Perbankan 2025

OJK Terbitkan Ketentuan Penyelenggaraan TI, Perkuat Keamanan Digital BPR dan BPR Syariah

oleh Stella Gracia
9 Januari 2026 - 09:40

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi menerbitkan ketentuan baru terkait penyelenggaraan teknologi informasi (TI) bagi Bank Perkreditan Rakyat (BPR)...

Ingin Punya Rumah Pertama? Ini Tips Keuangan dan KPR untuk Pasutri

Ingin Punya Rumah Pertama? Ini Tips Keuangan dan KPR untuk Pasutri

oleh Stella Gracia
8 Januari 2026 - 14:07

Stabilitas.id — Memiliki rumah pertama masih menjadi salah satu impian sekaligus prioritas utama bagi pasangan suami istri (pasutri) baru. Namun,...

Transaksi Digital Tumbuh 44%, CIMB Niaga Gaspol Pengembangan OCTO

Transaksi Digital Tumbuh 44%, CIMB Niaga Gaspol Pengembangan OCTO

oleh Stella Gracia
11 November 2025 - 04:31

Stabilitas.id — PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) kembali memperkuat posisinya sebagai pemain utama di perbankan digital dengan meluncurkan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Tekan Risiko dan Overutilitas, OJK Terbitkan POJK 33 dan POJK 36

    Catut Nama Perusahaan Asing, Satgas PASTI Blokir AMG Pantheon dan Mbastack

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • RUPST Bank Jateng Angkat Bambang Widiyatmoko Jadi Dirut, Adnas Jabat Komut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Skandal BEBS Terkuak: OJK Geledah Kantor PT MASI Terkait Goreng Saham hingga 7.000 Persen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga BBM Oktober 2025: Pertamina Naikkan Dexlite dan Pertamina Dex, Subsidi Tetap

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK Akhiri Riwayat BPR Bank Cirebon, Ini Kronologi Lengkapnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Skandal BPR Panca Dana Depok: Modus Kredit Fiktif Rp32 Miliar dan Bobol Deposito

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kompak Naik! Ini Daftar Harga Terbaru BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo per 2 Maret 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Transformasi BRIVolution Berhasil, Laba Anak Usaha BRI Group Melejit Rp10,38 Triliun

Transaction Banking BRI Tumbuh Impresif, Dorong Penguatan Dana Murah

Transaksi Mandiri Agen Melesat 89 Persen, Ekonomi Desa Jadi Motor Pertumbuhan

BNI Perkuat Sinergi dengan Merchant lewat BNI wondrful Iftar 2026

Pakar Investasi MUFG Nobuya Kawasaki Calon Nakhoda Baru Bank Danamon

Livin’ Fest Heritage Raya: Bank Mandiri Siapkan Cicilan 0% dan Cashback Rp8,88 Juta

Seni Cadas 44.000 Tahun Tetap Lestari, Indeks Kehati Semen Tonasa Meroket

Stress Test Kemenkeu: Defisit 2026 Dijamin Tetap di Bawah 3 Persen Meski Harga Minyak Naik

Misi Humanising Financial Services, Maybank Indonesia Tebar Santunan Rp1,98 Miliar di 20 Kota

STABILITAS CHANNEL

Selanjutnya
BTN yang Keluar dari Cangkang

BTN yang Keluar dari Cangkang

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Perbankan
  • Keuangan
  • BUMN
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Eksmud
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Interview
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Sektor Riil
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance