Pinhome rilis Indonesia Residential Property Market Report H1 2026. ‘Take over’ KPR kuasai 60% pasar akibat kenaikan suku bunga.
Stabilitas.id – Pasar properti residensial Indonesia menunjukkan daya tahan di tengah dinamika kondisi sosial ekonomi dan tekanan suku bunga tinggi sepanjang Semester I 2026. Kendati niat membeli melambat, aktivitas pencarian hunian tercatat masih tumbuh rata-rata 13% secara bulanan (month-on-month).
Temuan tersebut tertuang dalam laporan Pinhome Indonesia Residential Property Market Report Semester 1 2026 yang dirilis di Jakarta, Rabu (29/7).
Penyesuaian suku bunga acuan (BI-Rate) ke level 5,75% telah mengubah lanskap pembiayaan hunian secara signifikan. CEO & Founder Pinhome, Dayu Dara Permata, memaparkan bahwa masyarakat kini lebih adaptif dalam merespon kenaikan biaya pinjaman dengan mencari skema pembiayaan yang lebih efisien.
BERITA TERKAIT
“Perubahan arah kebijakan suku bunga mendorong masyarakat semakin selektif. Data Pinhome menunjukkan meningkatnya aktivitas Take Over KPR yang kini mendominasi sekitar 60% pasar KPR,” ujar Dara dalam acara peluncuran laporan tersebut.
Dari sisi segmen harga, permintaan KPR komersial baru didominasi oleh segmen menengah berkisar Rp 300 juta hingga Rp 1 miliar dengan porsi 49%, diikuti segmen di bawah Rp 300 juta sebesar 21%. Tingginya biaya konstruksi juga mendorong konsumen mengalihkan minat ke pasar rumah seken (secondary market) siap huni.
Menanggapi dinamika pembiayaan tersebut, Institutional Relationship Department Head PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), Yulia Fitri Nurman, menegaskan komitmen perseroan dalam memperluas ekosistem layanan perumahan.
“Melalui strategi Beyond Mortgage, BTN memastikan pembiayaan KPR tidak berhenti pada transaksi kepemilikan rumah semata, melainkan menjadi awal dari ekosistem layanan keuangan yang mendukung kebutuhan nasabah secara berkelanjutan,” tutur Yulia.
Dari sisi pasokan, total inventori rumah tapak secara nasional masih naik 5% secara semesteran (semester-on-semester). Namun, pertumbuhan di kawasan penyangga IKN seperti Balikpapan dan Samarinda melambat menjadi 4,5% akibat penundaan belanja infrastruktur. Sementara di Kabupaten Badung, Bali Selatan, inventori terkoreksi -1,6% terimbas wacana moratorium pembangunan.
Di sisi lain, fungsi hunian mengalami pergeseran peran dari sekadar tempat tinggal menjadi pusat kenyamanan dan wellness. Hal ini memicu lonjakan penggunaan layanan home service digital on-demand, termasuk peningkatan layanan infal rumah tangga (+117%), pembersihan mendalam (deep cleaning), hingga porsi langganan peralatan rumah tangga (home appliances subscription). ***















