Stabilitas.id – Emiten telekomunikasi pelat merah, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun pada kuartal I/2026. Realisasi tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 1,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) Telkom tercatat sebesar Rp18,0 triliun dengan margin EBITDA berada di level 48,3%.
Sementara itu, emiten kepunyaan negara ini mengantongi laba bersih sebesar Rp4,3 triliun dengan margin laba bersih 11,7%. Adapun laba bersih yang dinormalisasi (normalized net profit) mencapai Rp5,1 triliun dengan margin sehat di level 13,8%.
BERITA TERKAIT
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menjelaskan kontradiksi atau tekanan pada pos laba bersih ini utamanya disebabkan oleh dampak lanjutan dari percepatan depresiasi (accelerated depreciation) serta proses normalisasi bisnis yang sedang berjalan dalam fase transformasi korporasi.
“Tekanan tersebut bersifat transisional dan tidak berdampak langsung pada arus kas (non-cash). Secara fundamental, kinerja operasional Telkom tetap terjaga,” ujar Dian dalam keterangan resminya, Selasa (2/6/2026).
Indikator kesehatan fundamental tersebut tecermin dari arus kas operasional (operating cash flow) perseroan yang tumbuh 3,1% yoy menjadi Rp17,3 triliun. Positifnya arus kas ini disokong oleh efisiensi belanja operasional dan total pengeluaran (TOTEX) serta disiplin penagihan piutang yang kian ketat.
ARPU Terkerek 6,4%
Dari lini bisnis Business-to-Consumer (B2C), PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) menyumbang pendapatan konsolidasi sebesar Rp27,6 triliun atau tumbuh 1,3% yoy, yang dipacu oleh ceruk bisnis digital. Strategi rasionalisasi harga produk berhasil mengerek pendapatan rata-rata per pengguna (Average Revenue Per User/ARPU) sebesar 6,4% yoy menjadi Rp45.100.
Di segmen Business-to-Business (B2B) Infrastructure, TLKM meraup pendapatan Rp2,4 triliun (tumbuh 6,8% yoy) berkat ekspansi Fiber-to-the-Tower (FTTT). Anak usahanya, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel, mencetak pendapatan Rp2,3 triliun dengan margin EBITDA tebal di level 82,7%.
Selanjutnya, segmen Wholesale & International Service membukukan pendapatan Rp2,8 triliun berkat lonjakan interkoneksi sebesar 18,9% secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ). Sementara itu, segmen B2B ICT mencatatkan pendapatan Rp3,1 triliun di tengah langkah restrukturisasi portofolio yang selektif demi mengejar margin yang lebih gemuk.
Divestasi dan Spin-off
Guna memacu pertumbuhan jangka panjang, Telkom telah menyerap belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp4,9 triliun atau setara 13,2% dari total pendapatan pada kuartal pertama tahun ini. Alokasi modal ini difokuskan penuh untuk penguatan infrastruktur inti.
Di samping itu, perseroan juga tengah mempercepat inisiatif streamlining portofolio bisnis berbasis HoldCo-OpCo. Salah satu aksi korporasi yang ditargetkan rampung pada akhir semester I/2026 adalah divestasi saham AdMedika Group kepada investor strategis.
Tak hanya itu, emiten bersandi saham TLKM ini juga bersiap mengeksekusi strategi unlock value tahap kedua, yakni pemisahan bisnis (spin-off) dan pengalihan aset wholesale fiber connectivity kepada InfraNexia yang ditargetkan selesai pada kuartal III/2026.
Infrastruktur fiber diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan baru. Saat ini kontribusi bisnis fiber tercatat masih berada di kisaran 15%, dan ditargetkan terkerek naik hingga menyentuh level 25% seiring rampungnya transfer aset dan optimalisasi utilitas komersial ke pasar eksternal. ***

















