Stabilitas.id – Lanskap ekonomi global mencatatkan pergeseran bersejarah pada tahun 2025. Berdasarkan data terbaru Dana Moneter Internasional (IMF), total utang pemerintah China untuk pertama kalinya melampaui posisi utang Uni Eropa (UE), menandakan perubahan signifikan dalam keseimbangan kekuatan fiskal dunia.
Hingga akhir 2025, utang pemerintah China tercatat mencapai US$18,7 triliun, melampaui Uni Eropa yang berada di angka US$17,6 triliun. Lonjakan ini mencerminkan tren kenaikan konsisten sejak krisis finansial 2008, di mana saat itu posisi utang Beijing hanya berada di kisaran US$1,2 triliun.
Pesatnya pertumbuhan utang China, dengan rata-rata kenaikan 17% per tahun, menunjukkan ketergantungan yang kuat pada instrumen fiskal sebagai mesin pertumbuhan ekonomi. Strategi ini difokuskan pada ekspansi kredit massal untuk membiayai proyek infrastruktur jumbo, sektor properti, serta dukungan terhadap industri strategis nasional.
BERITA TERKAIT
Langkah ekspansif ini diambil Beijing guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah melemahnya permintaan global. Dengan kapasitas belanja negara yang masif, China kini semakin memantapkan posisinya sebagai pusat gravitasi ekonomi baru selain Amerika Serikat.
Disiplin Fiskal Eropa vs Ekspansi Asia
Berbanding terbalik dengan China, Uni Eropa justru menunjukkan pendekatan yang lebih konservatif. Sejak krisis utang zona euro pada 2010-2012, banyak negara anggota UE memperketat disiplin fiskal. Rata-rata pertumbuhan utang di kawasan ini hanya bertahan di angka 3% per tahun.
Meskipun pendekatan konservatif ini membuat pertumbuhan nominal Eropa terlihat lebih lambat dibanding China, Uni Eropa dinilai memiliki beban pembayaran bunga dan risiko fiskal jangka panjang yang lebih terkendali.
Meskipun China berhasil menyalip Uni Eropa, posisi puncak utang pemerintah dunia masih dipegang oleh Amerika Serikat dengan total mencapai US$38,3 triliun. Fenomena ini mengindikasikan bahwa era utang besar kini telah menjadi pola baru dalam ekonomi global.
Bagi pasar global, pergeseran ini diprediksi akan berdampak pada fluktuasi harga komoditas dan arus investasi. Seiring China yang terus membiayai pertumbuhan lewat belanja negara, permintaan terhadap bahan baku global diperkirakan tetap tinggi, memperkuat dominasi Asia dalam peta perdagangan internasional pada kuartal II/2026 ini. ***
















