• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Selasa, Oktober 27, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Laporan Utama

Pil Untuk Pasar Saham

by Sandy Romualdus
25 November 2013 - 00:00
10
VIEWS
Pil Untuk Pasar Saham
0
SHARES
10
VIEWS

Ibarat buah simalakama, dimakan atau tidak, tetap ada ekses negatif bagi pelakunya. Itulah yang tengah dihadapi Indonesia ketika otoritas moneter negeri ini memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 7,25 persen pada Septemberlalu.

Pilihan menaikkan BI Rate terpaksa dilakukan BI. Kondisi perlambatan ekonomi dunia dan ketidakpastian keuangan global mulai terasa menyesakkan nafas. Imbasnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melemah.

  • Baca juga: Daya Beli Tertekan Inflasi Pangan, Saldo Rekening di Bawah Rp100 Juta Turun ke Rp1,66 Juta

“BI merevisi ke bawah perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2013 menjadi 5,5 – 5,9 persen, dari semula 5,8 – 6,2 persen,” ungkap Juru Bicara BI Difi Johansyah dalam siaran persnya.

BERITA TERKAIT

Lindungi Likuiditas Investor, BEI Rombak Aturan Suspensi dan UMA Saham Mulai November 2026

Edukasi Pasar Modal Ritel, Ajaib Hadirkan Live Trading Sepekan Bareng Komunitas Saham

Rebalancing Indeks Acuan BEI: PGEO dan UNVR Terdepak dari IDX30, AALI Masuk IDX80

Terpakai Rp17 Triliun, Bank Mandiri Jelaskan Fasilitas Kredit Rp40 Triliun ke Jhonlin Group

Sementara Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menganalogikan kebijakan tersebut sebagai menelan pil pahit agar badan kembali sehat.

“Sekarang kita minum pil pahit dulu agar badan kita menjadi sehat pada tahun 2014, yaitu perekonomian menjadi stabil,” kata Mirza.

Namanya ‘pil pahit’ tentu saja rasanya tidak manis seperti sirup. Meski dipercaya akan berkhasiat mengobati ekonomi nasional dalam jangka panjang, efek rasa pahit dari kenaikan BI Rate lebih cepat dirasakan. Industri pasar modal adalah salah satu yang ikut menerima getahnya.

Sebelum imbas gonjang-ganjing keuangan global menekan perekonomian nasional, Bursa Efek Indonesia (BEI) masih terlihat begitu perkasa. Bahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) BEI mampu mencetak rekor tertinggi dalam sejarah. Pada 20 Mei 2013, IHSGtercatat berada di level 5.200.

Melesatnya IHSG BEI tidak lepas dari kondisi perekonomian yang kala itunampak menjanjikan. Dengan catatan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,23 persen selama 2012, Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan terbaik kedua setelah China yang tumbuh 7,8persen.

Namun, meski lebih kecil, pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik dari China. Pasalnya, ekonomi Negeri Tirai Bambu ini tumbuh 9,3 persen pada 2011. Namun angka itu melemah atau lebih rendah 1,5 persen dari tahun sebelumnya. Dengan kata lain, Indonesia menjadi satu-satunya negara yang mampu mempertahankan pertumbuhan pada kisaran yang sama, saat ekonomi negara lain rontok.

Sayangnya prestasi emas itu sepertinya sulit terulang pada tahun ini. Pemburukan ekonomi global pun ditunding sebagai penyebab. Bank Dunia memang telah memangkas proyeksi ekonomi global menjadi 2,2 persen tahun ini dari perkiraan awal 2,4 persen. Artinya, pertumbuhan tahun ini bakal lebih rendah dari tahun lalu yang sebesar 2,3 persen.

Imbas proyeksi perlambatan ekonomi global langsung berdampak pada bursa dunia, termasuk Indonesia. Pasca membukukan rekor tertinggi, IHSG BEI mulai meluncur turun. Pada bulan Juni, IHSG terpangkas sangat dalam menjadi 4.600-an. Sebulan kemudian, IHSG makin merosot, tinggal 4.400-an. Belakangan IHSG membaik dan berada di level 4.500-an yang terus bertahan hingga saat ini.

Sentimen Pasar

Kondisi bearish yang terjadi di pasar saham tersebut jelas membuat investor khawatir. Namun otoritas bursa menghimbau investor agar tidak panik menghadapi pelemahan bursa. Sebaliknya, BEI menyarankan investor lebih bijak dalam berinvestasi. Artinya, tidak mengambil keputusan jual secara tergesa-gesa, tanpa pertimbangan matang.

Berinvestasi di pasar saham memang idealnya dilakukan dengan horizon jangka panjang. Dengan demikian, investor seharusnya tidak risau dengan fluktuasi pasar dalam jangka pendek. Apalagi pelemahan pasar saham yang terjadi saat ini dinilai bukan karena faktor fundamental pasar. “Dari sisi indeks, penurunan yang terjadi sejak akhir Mei lebih disebabkan karena faktor sentimen bukan faktor fundamental,” ujar Direktur Utama BEI Ito Warsito.

Secara teoritis, gerak naik atau turun harga saham merupakan fenomena lazim yang terjadi di bursa efek. Umumnya ada dua faktor yang membuat harga saham berfluktuatif. Pertama, faktor fundamental yang terkait dengan kinerja emiten. Kedua, faktor sentimen yang lebih disebabkan oleh kondisi eksternal.

  • Baca juga: Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Nah, menurut Ito, dari sisi fundamental, kinerja emiten di BEI justru mengalami peningkatan. “Faktanya laba bersih emiten kuartal pertama 2013 tumbuh sebesar 20 persen dibanding periode yang sama tahun 2012,” papar Ito yang telah menjabat Dirut BEI selama dua periode ini.

Lebih lanjut, Ito menilai, alih-alih karena sentimen dari luar, sebenarnya yang lebih berdampak terhadap bearish pasar saham nasional adalah sentimen dari dalam negeri. Sentimen tersebut, antara lain, pelambatan pertumbuhan ekonomi 2013, berita defisit neraca perdagangan Indonesia, dan kenaikan harga BBM yang ditakutkan membuat defisit APBN makin lebar.

Namun karena sentimen tersebut lebih dominan dari dalam negeri, terutama terkait makro ekonomi Indonesia, Ito yakin pemerintah bisa mengatasinya dengan baik. Salah satu langkah antisipasi yang baik adalah menjaga stabilitas makro, terutama lonjakan inflasi, sebagaimana dilakukan BI dengan menaikan BI Rate ke level 7,5 persen.

Hanya saja langkah BI mengerek level suku bunga acuan (BI Rate) sebanyak dua kali sepanjang Juli – September dinilai akan berdampak negatif terhadap pasar modal Indonesia. Setidaknya dalam jangka pendek. “Secara implisit kenaikan BI Rate tersebut mencerminkan kepanikan dari BI menghadapi tekanan Rupiah dan derasnya penurunan cadangan devisa,” ujar Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang.

Selain itu, kenaikan BI Rate juga akan berdampak negatif terhadap saham-saham sektor tertentu, khususnya perbankan. Pasalnya, kenaikan BI Rate akan memaksa bank menaikkan suku bunga kreditnya. Padahal tanpa kenaikan suku bunga kredit saja relatif sulit bagi bank untuk berekspansi di tengah kondisi ekonomi yang sedang menurun. Jadi logis bila kenaikan BI Rate bakal menurunkan minat investor pada saham perbankan.

“Dampak negatif ke pasar saham, kenaikan BI rate akan membuat persepsi pelaku pasar ke saham-saham sektor perbankan akan berkurang secara signifikan,” jelas Kepala Riset Trust Secuities Reza Priyambada.

Prospek Pasar

Meski perlambatan ekonomi nasional, juga kenaikan BI Rate, memberi tekanan negatif tehadap pasar saham, namun dampak ini diyakini hanya bersifat sementara. Oleh karena itu, BEI pun yakin pergerakan pasar akan kembali normal dalam tempo tidakterlalu lama.

“Sepanjang pemerintah bisa memperbaiki faktor-faktor domestik itu maka bursa saham Indonesia akan tetap menjanjikan,” ujar Direktur BEI Ito Warsito.
Apalagi sejauh ini BEI melihat, aktivitas transaksi di pasar saham masih berjalan baik. Likuiditas pasar hingga akhir Juni (year to date) masih relatif baik dengan rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp6,9 triliun. Angka ini lebih tinggi dari target yang dipatok BEI dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2013 yang sebesar Rp5,5 triliun.

“Artinya dari sisi aktivitas perdagangan, dari awal tahun sangat positif dan menjanjikan,” kata Ito yang pernah menjabat sebagai eksekutif di Danareksa dan Bahana Sekuritas ini.

Pernyataan senada juga dilontarkan Direktur Pengembangan BEI Friderica Widyasari Dewi. Menurut Kiky, demikian eksekutif wanita ini biasa disapa, pelemahan ekonomi pasti akan berdampak pada IHSG. Akan tetapi, jika dilihat dari perkembangan pasar saham dari tahun ke tahun, tercatat ada pertumbuhan sekitar 3 persen.

“Peningkatan juga terlihat dari kapitalisasi pasar mencapai Rp 4,3 triliun naik dibanding tahun lalu. Nilai harian di bursa domestik, rata-rata Rp 6,6 triliun per hari, naik cukup pesat dibanding tahun lalu sekitar Rp 4,5 triliun per hari,” urai Kiky panjang lebar.

Prospek pasar yang cukup baik itu juga tercermin dari maraknya perusahaan yang melakukan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) maupun right issue. Hingga tanggal 11 Juli 2013 lalu, jumlah emiten baru yang listing tahun ini mencapai 24 emiten. Sedangkan 21 emiten mengagendakan untuk right issue. Secara total, hingga Juni 2013, peningkatan IPO saham telah mencapai Rp10,10 triliun dan Rp20,71 triliun untuk right issue.

Prospek positif pasar saham nasional juga terlihat dari kinerja reksadana yang terus tumbuh. Hingga semester pertama 2013, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana naik sebesar 14,36 persen dari Rp187,59 triliun akhir semester lalu menjadi Rp201,64 triliun. Peningkatan kinerja reksadana ini nampaknya tidak lepas dari kepercayaan pasar bahwa dalam jangka panjang, kepemilikan saham sebagai aset investasi masih menguntungkan.

  • Baca juga: Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

Berdasarkan jenisnya, proporsi jenis reksadana selama semester pertama 2013 masih didominasi Reksadana Saham dengan pangsa 42,16 persen, dan diikuti oleh Reksadana Terproteksi (18,48 persen), Reksadana Pendapatan Tetap (15,46 persen), Reksadana Campuran (12,24 persen), dan Reksadana Pasar Uang (6,02 persen).

Kinerja positif bursa efek juga dapat dilihat dari produktivitas pasar modal sebagai sumber pembiayaan dalam mendukung perekonomian nasional. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kepemilikan efek di pasar modal sampai dengan akhir semester pertama tahun 2013 telah mencapai Rp3.126 triliun, meningkat dibandingkan akhir semester dua tahun 2012 yang sebesar Rp2.742 triliun.

 
 
 
 
 
Previous Post

Bank dan Kredit Pembiayaan

Next Post

Daya Tahan Kembali Diuji

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Sejarah Uang

Daya Beli Tertekan Inflasi Pangan, Saldo Rekening di Bawah Rp100 Juta Turun ke Rp1,66 Juta

by Stella Gracia
21 Oktober 2026 - 14:20

INDEF menyoroti fenomena makan tabungan akibat inflasi pangan di atas 5 persen yang membuat rata-rata saldo tabungan di bawah Rp100...

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

Bank BSN Perkuat Ekosistem UMKM Halal, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan yang Inklusif

by Sandy Romualdus
21 Juli 2026 - 07:47

Bank BSN mendorong penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan kewirausahaan, serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan Stabilitas.id - Direktur Network...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

Suku Bunga Tinggi dan Rupiah Loyo, OJK Evaluasi Revisi Rencana Bisnis 105 Bank

by Sandy Romualdus
10 Juli 2026 - 12:52

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah mengevaluasi revisi Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 yang diajukan oleh sekitar 105 bank akibat penyesuaian...

Respons Aturan KUR 5% Presiden Prabowo, OJK Minta Himbara Pertebal Pencadangan

by Sandy Romualdus
21 Mei 2026 - 14:50

Stabilitas.id — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta perbankan pelat merah (Himbara) untuk...

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

Virsem LPPI #107: Bukan Sekadar Religi, Hijrah Finansial Jadi Tren Baru Ekonomi Berkelanjutan

by Sandy Romualdus
13 April 2026 - 14:54

Stabilitas.id — Industri perbankan syariah nasional terus menunjukkan tren pertumbuhan positif meski masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang belum optimal....

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

Menaker Terbitkan SE WFH 1 Hari Sepekan, Dorong Ketahanan Energi Nasional

by Stella Gracia
1 April 2026 - 21:53

Stabilitas.id – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli resmi mengimbau perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Lindungi Likuiditas Investor, BEI Rombak Aturan Suspensi dan UMA Saham Mulai November 2026

Edukasi Pasar Modal Ritel, Ajaib Hadirkan Live Trading Sepekan Bareng Komunitas Saham

Rebalancing Indeks Acuan BEI: PGEO dan UNVR Terdepak dari IDX30, AALI Masuk IDX80

Terpakai Rp17 Triliun, Bank Mandiri Jelaskan Fasilitas Kredit Rp40 Triliun ke Jhonlin Group

Tindak 330 Entitas Ilegal, Satgas PASTI dan IASC Blokir Rekening Penipuan Rp825,2 Miliar

CASA Tembus Rp733,7 Triliun, BNI Bukukan Laba Operasional Kuartal III Terbesar Sepanjang Sejarah

Alokasikan Rp1 Triliun di Tahap II, BRI Lanjutkan Aksi Korporasi Buyback Saham

IHSG Bangkit 4,9 Persen, OJK Perpanjang Relaksasi Buyback Saham dan Perketat Deteksi Transaksi

CBI Luncurkan Empat Solusi Credit Intelligence, Perluas Akses Kredit bagi 137 Juta Calon Debitur

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
OJK Rilis Regulasi Interkoneksi Keuangan Syariah di 2014

OJK Rilis Regulasi Interkoneksi Keuangan Syariah di 2014

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance