JAKARTA, Stabilitas.id — Perekonomian Indonesia akhirnya tidak bisa menghindari jurang resesi. Kinerja pertumbuhan ekonomi triwulan III 2020 masih negatif sebesar -3,49 persen (yoy), setelah sebelumnya di triwulan II 2020 ekonomi tumbuh -5,32 persen (yoy).
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad mengatakan percepatan belanja pemerintah, baik belanja modal pemerintah maupun program pemulihan ekonomi nasional yang dirasakan masih belum optimal.
“Penting pula memperhatikan belanja pemerintah daerah yang tampaknya perlu didorong lebih kencang lagi. Paling tidak belanja ketiganya bisa mencapai 95 persen pada akhir Triwulan IV Tahun 2020 akan sangat membantu sekali perekonomian nasional,”ujar Tauhid dalam diskusi virtual, Minggu (8/10/2020).
Ia menambahkan, skema bantuan sosial perlu dirubah dengan fokus pada 20 persen masyarakat kelompok terbawah dengan penambahan besaran bantuan hingga Rp1,5 juta per rumah tangga dan skema bantuan tunai. Sambil pada saat yang sama juga dilakukan “updating data” guna persiapan program bantuan sosial tahun 2021 yang lebih baik lagi.
“Juga perlu ada terobosan penciptaan lapangan kerja dengan fokus pembangunan infrastruktur padat tenaga kerja, industri padat tenaga kerja hingga stimulus UMKM non restrukturisasi agar percepatan pemulihan lebih baik lagi,”bebernya.
Sementara itu, konsumsi masyarakat kelas menengah perlu ditingkatkan dengan dibarengi upaya-upaya kampanye dan protokol kesehatan pada pusat perbelanjaan/hotel/pariwisata/restoran yang benar-benar “clear and clean”.
“Pemerintah juga perlu memperbaiki pola penanganan pandemi dengan fokus pada penyadaran masyarakat menghadapi gelombang ke-2 pandemi, termasuk upaya serius dalam melakukan tracing agar gelombang ke-2 benar-benar tidak terjadi,”pungkas Tauhid.





.jpg)










