Stabilitas.id – Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia melalui sayap manajer investasinya, PT Danantara Investment Management (DIM), resmi memulai proses emisi surat utang internasional berdenominasi dolar AS (global bond). Langkah ini menandai debut perdana super holding BUMN tersebut dalam menghimpun pendanaan di pasar modal global.
Danantara dilaporkan telah menunjuk lima institusi finansial terkemuka sebagai joint lead managers sekaligus bookrunners. Jajaran bank investasi tersebut meliputi Citigroup, DBS Bank, HSBC, Mandiri Sekuritas, dan Standard Chartered.
Proses pemesanan awal (bookbuilding) untuk obligasi senior (senior unsecured notes) ini mulai dibuka pada hari ini, Rabu (3/6/2026). Penerbitan global bond ini menggunakan format regulasi komprehensif yakni 144A/3(c)(7)/Reg S, di bawah payung program Global Medium Term Note (GMTN) dengan plafon jumbo mencapai US$5 miliar atau setara sekitar Rp89,5 triliun (asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS).
BERITA TERKAIT
Berdasarkan laporan International Financing Review (IFR) Asia, manajemen Danantara bersama konsorsium penjamin emisi (underwriter) dijadwalkan menggelar rangkaian pertemuan dengan investor (roadshow) di pusat keuangan Amerika Serikat, Eropa, dan Asia hingga 10 Juni 2026 mendatang sebelum melakukan finalisasi harga (pricing) dan ukuran definitif emisi.
Sebagai instrumen berstatus investment grade, obligasi perdana Danantara ini berhasil mengantongi peringkat Baa2 dari Moody’s Investor Service, serta peringkat BBB dari S&P Global Ratings dan Fitch Ratings.
Perluasan Mandat di Bawah Payung Hukum Baru
Aksi korporasi penggalangan dana valas berskala masif ini dieksekusi secara simultan pasca-kebijakan strategis Presiden Prabowo Subianto yang merilis Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai pintu tunggal (single window) pengelolaan ekspor komoditas dan sumber daya alam nasional.
Tak hanya itu, Presiden Prabowo juga telah menerbitkan Keputusan Presiden (Kepres) teranyar yang melandasi pembentukan unit usaha ketiga di bawah kendali Danantara Indonesia, yakni Unit Investasi Pembangunan. Aturan ini ditandatangani Presiden pada 8 April 2026, namun baru dipublikasikan secara resmi ke dalam daftar peraturan pemerintah pada Minggu malam (31/5/2026).
Hadirnya unit baru ini memperluas arsitektur fungsional Danantara Indonesia yang sebelumnya hanya ditopang oleh dua pilar:
-
Danantara Asset Management (DAM): Berfokus mengelola aspek operasional dan konsolidasi lebih dari 1.000 BUMN beserta entitas anak usahanya.
-
Danantara Investment Management (DIM): Bertugas mengoptimalkan tingkat pengembalian (yield) dan monetisasi investasi yang bersumber dari dividen perusahaan negara.
Suntikan APBN & Fokus Investasi Sosial
Merujuk pada beleid hukum tersebut, Unit Investasi Pembangunan didesain khusus untuk menyokong proyek strategis nasional (PSN) serta akselerasi layanan publik yang memiliki dampak pengganda (multiplier effect) terhadap aspek sosial maupun ekonomi makro.
Berbeda dengan unit komersial murni, unit pembangunan ini diberikan fleksibilitas untuk menyerap pendanaan langsung dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang akan diklasifikasikan sebagai pos Penyertaan Modal Negara (PMN).
Kendati struktur kelembagaan telah diformalisasikan, pemerintah sejauh ini belum merinci daftar proyek ataupun sektor industri spesifik yang bakal menjadi sasaran alokasi modal dari unit baru tersebut.
Namun, peluncuran obligasi dolar ini diyakini pelaku pasar akan menjadi modal awal (seed capital) yang kuat bagi Danantara untuk membiayai komitmen investasi strategis di tengah tren volatilitas nilai tukar rupiah dan koreksi teknikal IHSG. ***






.jpg)









