Imelda Lina Mustika mempertahankan kerajinan tangan khas Bukittinggi di tengah dominasi oleh-oleh kuliner. Lewat Azqi Souvenir, ia menyulam harapan dari sisa tradisi yang nyaris hilang.
Stabilitas.id – Di antara deretan kios oleh-oleh di Pasar Atas, Bukittinggi, deru keramaian terdengar nyaring: suara penjual menawarkan keripik sanjai, aroma kerupuk jangek yang baru digoreng, dan deretan Karak Kaliang yang tersusun rapi dalam plastik bening. Hampir semuanya berupa makanan. Nyaris tak terlihat oleh-oleh dalam bentuk lain.
Namun di sebuah rumah di sudut kota, Imelda Lina Mustika merangkai kenang-kenangan dari benang, kayu, dan kain flanel. Ia menyebutnya Azqi Souvenir, usaha kerajinan tangan yang ia rintis sendiri setelah mengalami jatuh bangun hidup dan usaha.
“Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?” ujar Imelda, 45 tahun, saat ditemui akhir September lalu. Ia duduk di ruang tamu yang juga menjadi ruang produksi. Di sekelilingnya, ibu-ibu tetangga tengah melipat kotak, mengelem magnet kulkas, dan menempelkan miniatur Jam Gadang ke atas gantungan kunci.
BERITA TERKAIT
Imelda memulai Azqi Souvenir bukan hanya untuk bertahan hidup. Baginya, ini adalah bentuk perlawanan atas kian terpinggirkannya kerajinan tangan dari etalase wisata Bukittinggi. “Sekarang ini semuanya makanan. Oleh-oleh kerajinan hampir punah,” kata dia.
Pulang Karena Gagal, Bangkit Karena Tekad
Tak ada cerita sukses yang datang tanpa luka. Pada 2017, Imelda dan suaminya menutup bisnis yang telah mereka kelola selama tujuh tahun di Palembang. Mereka bangkrut. Tak punya banyak pilihan, keduanya memutuskan kembali ke kampung halaman.
Di Bukittinggi, Imelda sempat ikut membantu usaha kerajinan milik teman dekatnya. Dari situ, ia belajar soal pasar, desain, hingga selera wisatawan. Persaingan kala itu masih terasa ketat. Tapi Imelda justru melihat itu sebagai peluang.
“Kalau semua orang sibuk jual makanan, kenapa saya enggak tekuni yang beda?” pikirnya waktu itu.
Tahun 2019, Imelda memberanikan diri membuka usaha sendiri. Ia memberi nama Azqi Souvenir—diambil dari nama anaknya. Awalnya, toko-toko oleh-oleh besar menolak produknya. Ia tak patah arang. Ia menyasar pedagang kaki lima di depan hotel-hotel wisata.
Langkahnya terbukti tepat. Para pedagang mau membeli barang secara putus. Mereka juga memberikan pesanan ulang secara rutin, terutama saat musim liburan tiba.
Terpukul Pandemi, Tertolong Teknologi
Puncak tantangan datang saat pandemi COVID-19 menerjang. Bukittinggi sepi. Hotel-hotel tutup. Tak ada turis, tak ada penjualan. “Kami benar-benar bingung harus makan dari mana,” ujar Imelda. Ia sempat menjajal usaha lain, namun tak bertahan lama.
Saat dunia mulai pulih, Imelda kembali ke meja kerajinan. Pada 2023, ia menemukan titik terang lewat program SisBerdaya, inisiatif pemberdayaan UMKM perempuan. Ia mendaftarkan dua bisnis, dan Azqi Souvenir yang terpilih.
Di sanalah ia berkenalan dengan konsep digitalisasi UMKM, termasuk sistem pembayaran modern lewat DANA Bisnis. “Sebelumnya pencatatan saya berantakan. Sekarang lebih rapi karena semua transaksi terekam otomatis,” kata dia.
Dengan aplikasi tersebut, Imelda bisa melihat riwayat transaksi, menyusun arus kas, bahkan mengukur penjualan bersih harian. Yang paling ia suka: tanpa biaya tambahan dan sistem yang transparan. “Saya bisa lebih fokus produksi, tidak pusing lagi soal catatan,” tambahnya.
Produksi yang Menghidupkan Komunitas
Selain menambah penghasilan, usaha ini juga menjadi ruang berkumpul para ibu rumah tangga di lingkungan rumahnya. Saat pesanan ramai, Imelda akan mengajak para tetangganya membantu produksi. “Sambil kerja, sambil curhat. Ada kegiatan, ada pemasukan,” katanya, tertawa kecil.
Kini, Azqi Souvenir telah masuk ke salah satu toko oleh-oleh besar di jalur wisata utama Bukittinggi. Produk-produknya mulai dikenal wisatawan, terutama karena desain khas seperti miniatur Jam Gadang dan motif bordir Minang.
Tapi Imelda belum puas. Ia ingin lebih. “Saya bermimpi Azqi bisa punya outlet sendiri, jadi pusat oleh-oleh kerajinan tangan Bukittinggi. Lengkap, tapi tetap punya nilai budaya,” ujarnya.
Di tengah geliat ekonomi yang serba instan, Imelda memilih jalan panjang. Ia percaya, oleh-oleh bukan sekadar benda, tapi cerita yang dibawa pulang. Dan lewat tangan-tangan cekatannya, ia menuliskan kisah Bukittinggi yang tak lekang oleh waktu. ***





.jpg)










