Klik tombol berikut ini untuk memesan edisi digital Majalah Stabilitas

Stabilitas Edisi 186 : Kungkungan Perempuan di Sektor Keuangan

11
Dilihat
0
Bagikan
11
Dilihat

Pembaca yang budiman.

EMANSIPASI perempuan bukanlah isu baru di Indonesia. Bahkan hal tersebut sudah diperjuangan sejak era sebelum Indonesia merdeka. Namun demikian kesetaraan perempuan berdampingan dengan laki-laki di sektor keuangan masih jadi perbincangan. Sebabnya tentu karena jumlah perempuan di lembaga-lembaga keuangan masih kalah dibanding laki-laki. Bahkan jumlah itu makin semenjana jika dilihat dari puncak pimpinan perusahaan.

Padahal kalau mau jujur, perempuan menjadi motor penggerak di industri keuangan. Lihat saja jumlah perempuan yang menjalankan bisnis usaha mikro dan membutuhkan uluran tangan lembaga keuangan, atau lihat saja jumlah investor di surat berharga negara belakangan ini. Tanda bahwa perempuan sangat berperan dalam mendorong industri sejatinya sudah kentara, tapi ketika berbicara di tataran pengambil keputusan di sektor itu, maka perannya boleh dikata minim.

Akan tetapi, jika mau jujur peningkatan peran perempuan di sector-sektor penting harus diakui sudah sangat kentara sejak dua dasawarsa terakhir. Dan hal itu terus meningkat setelah ada aturan keterwakilan perempuan 30 persen di parlemen pada 2008. Di sektor keuangan, meski demikian, lagi-lagi kondisinya masih sangat dinamis.

Untuk itu pada kesempatan edisi kali ini, Majalah Stabilitas akan mengangkat tema nasib perempuan di sektor keuangan dan bagaimana kiprah women bankers hingga saat ini.

Pada tulisan awal akan kami ketengahkan kondisi perempuan, utamanya di sektor keuangan di tengah tantangan era modern saat ini dan juga soal nasib dan perannya. Lalu juga akan disajikan soal apa saja yang harus dilakukan oleh pengambil kebijakan agar perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk menduduki jabatan strategis.

Pada tulisan selanjutnya akan diuraikan mengenai peluang dan tantangan perempuan dalam mengoptimalkan perannya di masa pandemi dan pasca pandemi. Karena data menyimpulkan bahwa masa pandemi menjadi momentum kiprah perempuan untuk membuktikan perannya yang tidak kalah krusial dibandingkan kolaganya kaum laki-laki.

Pada bagian berikutnya akan kami sajika faktor-faktor apa saja yang menghambat kiprah perempuan di sektor keuangan. Mengapa jumlah mereka menyusut ketika dilihat dari posisi yang lebih tinggi padahal pada saat awal karier masih seimbang dengan laki-laki. Juga dibahasa mengenai persepsi perempuan yang bisa menyelesaikan konflik di tempat kerja yang merupakan keunggulan alami mereka.

Kami juga akan membahas peran perempuan yang sudah menjadi berkarier di perbankan yang sebagian besar menduduki jabatan-jabatan terkait manajemen risik dan penjaga kepatuhan di lembaganya masing-masing. Apakah hal itu memang menjadi keahlian sebagian perempuan di sector keuangan atau hanya dipersepsikan demikian?

Kami juga menyajikan tulisan yang kami rangkum dari pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam virtual seminar yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia dalam menyambut Hari Kartini, April lalu. Banyak insight yang menarik yang bisa diambil dan disimpulkan dari pernyataan tersebut untuk mendorong peran perempuan di sektor keuangan di Indonesia.

Selanjutnya Anda juga masih bisa menikmati sajian-sajian dari laporan kami di rubrik-rubrik tetap lainnya, yang tentunya tetap kami tampilkan dari sisi tata kelola, kepatuhan manajemen risiko.

Karena masih dalam suasanan lebaran Idul Fitri 1443 Hijriah, segenap redaksi dan kru Majalah Stabilitas mengucapkan Minal Aidin wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Semoga Allah menerima puasa dan amal kita lainnya di bulan puasa yang lalu.

Selamat Membaca.

Klik tombol berikut ini untuk memesan edisi digital Majalah Stabilitas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Solve : *
11 + 3 =


BACA JUGA

Related Posts

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.