Jakarta -Transaksi Trade Expo Indonesia (TEI) hari ke-1 mencatat nilai hingga 33,9 juta dollar AS dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor furnitur. Sebagaimana diungkapkan Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Hesti Indah Kresnarini bahwa furnitur menyumbang transaksi sebesar 15,6 persen dari total nilai transaksi disusul produk makanan dan minuman 5,5 persen, handicraft 5,3 persen, produk pertanian 5,2 persen, Tekstil dan Produk Tekstil 4,3 persen.
Selain itu, komponen otomotif 3,7 persen, bahan bangunan 3,4 persen, elektronik 3,1 persen, kosmetik dan herbal 2,6 persen, esesnsial oil 2,6 persen dan produk kertas 2,3 persen, produk kayu 2,4 persen. “Dari transaksi cukup baik sekitar 33,9 juta dollar AS. Itu masih di luar services, jadi kemungkinan angkanya lebih besar lagi,” ujar Hesti di Jakarta International Expo di Kemayoran, Kamis (20/10).
Dari segi pengunjung, menurut Hesti, pada hari pertama pelaksanaan TEI, jumlah buyers yang tercatat mencapai 2.278 buyers dari 65 negara. Dari total pengunjung itu, negara-negara emerging market dan non tradisional mendominasi dengan persentase sebesar 84,5 persen sementara sisanya berasal dari negara tradisional.
BERITA TERKAIT
“Kami sangat gembira sekali dengan kunjungan para buyers dari emerging buyer dan negara-negara non tradisional. Memang ini target kita, upaya kita bersama perwakilan di luar negeri yaitu Atase dagang dan ITPC untuk menghimpun buyer sebanyaknya,” jelasnya.
Hesti mengatakan buyers dari negara-negara tradisional memang menunjukkan penurunan. Hal tersebut disebabkan kondisi perekonomian global yang melemah di Amerika dan negara-negara Eropa yang menjadi market utama Indonesia.
Sementara itu, Deputi Kerjasama Luar Negeri Promosi BNP2TKI Endang Sulistyaningsih, mengatakan pada hari pertama pelaksanaan TEI, BNP2TKI telah berhasil meraih permintaan 102.180 TKI formal untuk 16 negara.
Permintaan terbesar, menurut Endang, berasal dari Australia sebesar 100.000 TKI untuk sektor kesehatan. “Jadi sektor kesehatan di Australia meminta 100.000 dengan rincian angkanya belum dikonfirmasi tapi terdiri dari perawat, operator alat medis, dan careworker untuk orang tua. Kemudian tenaga medis untuk penunjang lainnya, seperti supir ambulance,” tuturnya.
Dia mengatakan dengan jumlah tenaga kerja itu, maka prospek remitansinya sebesar 1,8 juta dollar AS. Namun, lanjut dia, permintaan tersebut untuk 10 tahun ke depan sehingga prospek remitansi pertahunnya sebesar 181 juta dollar AS.
“Setelah kami telpon kembali Australia melalui Konjen di sana, angka ini kalau bisa dipenuhi dalam 10 tahun. Jadi per tahunnya 10.000 orang. Kalau pertahun 10.000 orang, remitensinya 181,6 juta dolar AS.”
Dia menambahkan perolehan permintaan tenaga kerja tersebut telah melampaui target. Tahun lalu, selama TEI berlangsung, BNP2TKI hanya berhasil mencatat transaksi sebesar 144,1 juta dollar AS dengan jumlah tenaga kerja 21.104 orang. “Tahun ini baru satu hari saja, angka kami sudah luar biasa dan melampaui target tahun lalu.”
Dirjen PEN menambahkan dalam beberapa tahun pelaksanaan TEI, sektor services memang mencatat peningkatan yang luar biasa sehingga menyumbang angka perolehan TEI yang luar biasa.
Hesti optimis dengan perolehan transaksi selama hari pertama tersebut, target sebesar 380 juta dollar AS yang dipatok Kementerian Perdagangan dapat tercapai. “Hari pertama biasanya mereka masih melihat. Hari kedua biasanya meningkat. Kalau tren selama ini hari ketiga sama hari terakhir paling besar.”
Untuk diketahui, TEI pada tahun 2008 mencapai nilai transaksi sebesar 217,29 juta dollar AS, lalu di tahun 2009 menjadi 285,4 juta dollar AS. Ditahun 2010 nilai transaksi menjadi 369,3 juta dollar AS.
TEI yang dilakukan ke 26 kalinya ini merupakan pameran business to business (B to B) produk Indonesia berskala internasional yang ditujukan pada buyer asing. Selain itu untuk meningkatkan transaksi dagang, pameran yang dilaksanakan selama tiga hari ini juga digelar untukmencari dan meningkatkan peluang di pasar-pasar baru sambil mempertahankan pasar tradisional.
Meski menargetkan ada 380 juta dollar AS transaksi dalam TEI 2011 ini, Hesti menekankan pada perolehan transaksi setelah pameran yang dapat lebih tinggi. Nilai kesepakatan langsung yang dicapai jauh lebih kecil ketimbang yang dilakukan buyers selepas pameran.
"Inilah yang dimaksud dengan nation branding itu. Kualitas, inovasi, kreasi atas suatu produk kita diakui, muncul kepercayaan tinggi yang selanjutnya memunculkan efek domino terhadap ekspor Indonesia," urai Hesti.
Buyer terbanyak pada tahun-tahun pelaksanaan TEI berasal dari Timur Tengah, Afrika, dan Asia. Menurut Hesti, buyer yang sudah memberikan konfirmasi sebanyak 7.800 orang.
















