Stabilitas.id – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) tengah menjajaki pasar modal internasional melalui rencana penerbitan instrumen Additional Tier 1 (AT1) dalam denominasi dolar AS. Langkah ini dilakukan bersamaan dengan penawaran pembelian kembali (tender offer) atas instrumen AT1 lama guna mengoptimalkan struktur permodalan perseroan.
Dalam keterbukaan informasi, manajemen BNI menjelaskan bahwa penerbitan instrumen modal inti tambahan ini bertujuan untuk memperkuat rasio permodalan dalam mendukung ekspansi bisnis serta melakukan refinancing atas kewajiban yang akan jatuh tempo.
“Perseroan berencana melakukan penerbitan AT1 baru dan secara bersamaan melaksanakan tender offer kepada pemegang AT1 eksisting untuk memberikan opsi keluar sekaligus menyesuaikan struktur pendanaan agar lebih efisien,” tulis manajemen BNI, dikutip Jumat (17/4/2026).
BERITA TERKAIT
Indikasi Yield dan Penilaian Analis
Laporan riset CreditSights (Fitch Solutions) menyebutkan BNI menawarkan indikasi imbal hasil awal (initial price thoughts/IPT) sebesar 7,5% untuk instrumen perpetual AT1 ini. Dana hasil penerbitan diproyeksikan untuk membiayai kembali obligasi senilai US$600 juta yang akan jatuh tempo pada 2027.
Meski IPT dipatok 7,5%, CreditSights menilai nilai wajar (fair value) instrumen ini berada di kisaran 7,2%. “Terdapat potensi pengetatan sekitar 30 basis poin jika permintaan investor kuat dalam proses bookbuilding,” tulis analis CreditSights.
Namun, analis memberikan catatan konservatif terkait fitur early redemption unik dalam kontrak BNI. Perseroan memiliki hak melunasi obligasi lebih awal jika Rasio Kecukupan Modal (CAR) mencapai 24%. Saat ini, CAR BNI berada di level 20,7%, yang dinilai memberikan buffer cukup sebelum klausul tersebut aktif.
Navigasi Risiko Makro
Di sisi fundamental, BNI mencatatkan laba bersih Rp20 triliun pada 2025, terkoreksi 6,6% (yoy) akibat tekanan pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM) dan kenaikan biaya operasional. Meski fungsi intermediasi di segmen korporasi tetap kuat, risiko eksternal menjadi perhatian utama investor global.
CreditSights menyoroti ketidakpastian makroekonomi Indonesia, termasuk tekanan nilai tukar rupiah dan posisi fiskal, yang dapat memengaruhi persepsi risiko terhadap aset perbankan pelat merah. Potensi kenaikan harga energi global yang memperlebar defisit transaksi berjalan menjadi faktor risiko yang dipantau ketat.
Aksi korporasi ini dijadwalkan berlangsung dengan periode tender offer pada 14 April hingga 22 April 2026, dan diperkirakan mencapai penyelesaian (settlement) pada 24 April 2026. Keberhasilan penerbitan ini akan menjadi indikator krusial kepercayaan pasar internasional terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. ***
















