Stabilitas.id – Program Promise II Impact yang digagas International Labour Organization (ILO) bersama Pemerintah Indonesia dan didukung Swiss Confederation melalui SECO, menunjukkan capaian signifikan dalam memperluas akses keuangan bagi UMKM sekaligus mendorong transformasi digital sektor usaha kecil.
Program ini merupakan fase kedua dari inisiatif Promise Impact, yang selaras dengan strategi pemulihan ekonomi pascapandemi. Fokus utamanya adalah memperkuat ekosistem keuangan inklusif, menghubungkan UMKM dengan lembaga keuangan formal, serta meningkatkan daya saing melalui digitalisasi rantai nilai.
Melansir data Program Promise II Impact yang diterima redaksi, Kamis (11/12/2025), ada tiga sektor prioritas menjadi laboratorium transformasi, yakni minyak nilam di Aceh, susu di Jawa Barat dan Jawa Timur, serta rumput laut di Nusa Tenggara Timur.
Aceh: Aplikasi MyNilam hasil kolaborasi dengan Universitas Syiah Kuala membantu petani nilam mencatat produksi dan kualitas. Sebanyak 30 petani telah mengakses pembiayaan syariah berkat rekam jejak digital ini.
Pengalengan, Jawa Barat: Koperasi KPBS mengintegrasikan ERP untuk kesehatan ternak, logistik, dan keuangan. Lebih dari 2.000 peternak kini terhubung, dengan 429 di antaranya memperoleh pinjaman berbasis aplikasi.
Sumba Timur, NTT: 650 petani rumput laut masuk ke ekosistem digital bersama Bank NTT dan mitra swasta. Sebagian besar baru pertama kali membuka rekening tabungan, menandai langkah awal menuju perbankan formal.
Peningkatan Kapasitas
ILO juga melatih lebih dari 1.200 UMKM dengan modul Start Your Business, Improve Your Business, GET Ahead, dan edukasi keuangan. Sekitar 45 persen peserta adalah perempuan, menunjukkan komitmen pada kesetaraan gender.
Selain itu, 25 BPR dan 11 BPD mendapat pelatihan Making Microfinance Work, sementara 70 pengawas OJK dilatih untuk memperkuat pengawasan sektor perbankan rakyat.
Hasilnya, lebih dari 6.000 UMKM telah mengakses kredit dengan nilai hampir Rp167 miliar melalui BPR dan BPD. Sementara 3.600 UMKM membuka tabungan dan deposito senilai Rp20 miliar. Proses pinjaman yang sebelumnya memakan waktu dua minggu kini bisa selesai dalam satu minggu berkat sistem digital Loan Origination System.
Program ini tidak hanya berhenti di level teknis. Promise II Impact terintegrasi dengan agenda nasional melalui Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) dan OJK. Bahkan, capaian program masuk dalam laporan tahunan DNKI kepada Presiden.
Menurut Dr. Erdiriyo, Asisten Deputi Peningkatan Inklusi Keuangan Kemenko Perekonomian, Promise II Impact sejalan dengan target Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) yang menargetkan indeks inklusi keuangan 93 persen pada 2029 dan 98 persen pada 2045.
Martoni Ariadirja dari SECO menegaskan, dukungan Swiss berfokus pada keberlanjutan. “Kami ingin memastikan ERP berjalan tanpa ketergantungan konsultan, memperkuat kapasitas lokal, dan membuka peluang ekspansi ke sektor lain, termasuk green finance,” ujarnya dalamdiskusi Penguatan Akses Keuangan dan Inklusi Keuangan bagi UMKM melalui PROMISE II IMPACT di Jakarta, Kami (11/12/2025).
Sementara itu, Djoko Kurnijanto, Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan IAKD OJK, menekankan pentingnya pemeringkat kredit alternatif (PKA) yang terintegrasi dengan ERP. “Pendekatan ini membuka peluang besar bagi UMKM underbanked untuk memperoleh pembiayaan, sekaligus meningkatkan kualitas penyaluran kredit,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Djauhari Sitorus dari ILO menyoroti peran media sebagai pengawal kebijakan inklusi keuangan. “Media bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membingkai narasi bahwa inklusi keuangan adalah isu kesejahteraan dan pembangunan daerah,” katanya.
Meski capaian menjanjikan, tantangan masih ada: kesiapan digital yang belum merata, ketergantungan pada kekuatan koperasi, serta volatilitas harga komoditas. Namun, Promise II Impact dinilai sebagai katalis perubahan sistemik—dari akar rumput hingga kebijakan nasional.
Dengan model yang terbukti, Indonesia berpotensi menjadi rujukan internasional dalam menghubungkan UMKM, bank lokal, dan ekosistem digital untuk inklusi keuangan berkelanjutan. ***





.jpg)










