EBC Financial Group membeberkan lima indikator makroekonomi penentu kemampuan rupiah bertahan di level Rp18.000 atau melemah ke Rp18.200 per dolar AS.
Stabilitas.id – Nilai tukar rupiah kembali menguji batas psikologis krusial di kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah sempat menyentuh level terendah Rp18.031 per dolar AS pada akhir September 2026. Riset pasar EBC Financial Group menilai mata uang garuda kini berada di persimpangan jalan antara bertahan di level Rp18.000 atau melemah lebih dalam menuju Rp18.200 per dolar AS. Arah pergerakan kurs selanjutnya sangat ditentukan oleh konvergensi lima indikator makroekonomi global dan domestik.
Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group Sana Ur Rehman mengingatkan pelaku pasar untuk tidak hanya terpaku pada angka nominal kurs semata.
“Level Rp18.000 memang menjadi sorotan utama, tetapi cerita sebenarnya ada pada angka-angka di baliknya: harga minyak, imbal hasil obligasi AS, dan arus modal asing. Pertanyaan kuncinya adalah apakah indikator-indikator ini bergerak bersamaan atau mulai berlawanan arah,” kata Sana dalam analisis tertulisnya di Jakarta, Kamis (1/10/2026).
BERITA TERKAIT
Indikator pertama bertumpu pada pergerakan harga minyak mentah dunia yang bertahan di atas level US$108 per barel akibat kebuntuan negosiasi pembukaan Selat Hormuz. Tingginya harga energi memicu pembengkakan tagihan impor migas nasional. Namun, jika mediasi geopolitik mereda dan intervensi Bank Indonesia (BI) berjalan efektif, rupiah berpeluang menguat kembali ke rentang Rp17.950–Rp17.800 per dolar AS.

Indikator kedua dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield US Treasury tenor 10 tahun melesat ke level 5,23 persen yang merupakan posisi tertinggi sejak 2007. Lonjakan ini terjadi menyusul kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75–4,00 persen serta terbukanya peluang pengetatan lanjutan di akhir tahun. Tingginya imbal hasil aset dolar AS secara langsung mengikis daya tarik aset rupiah.
Faktor ketiga berkaitan dengan arus modal asing dan efektivitas insentif lindung nilai. Bank Indonesia memperluas fasilitas swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) yang sukses menarik arus modal masuk sekitar US$6 miliar dalam sebulan terakhir. Meski demikian, efektivitas instrumen ini akan teruji jika ekspektasi depresiasi pasar terus membesar.
Dari sisi domestik, indikator keempat menyoroti lonjakan kebutuhan valas korporasi menjelang tutup buku kuartal III/2026 di tengah ketimpangan neraca perdagangan. Sepanjang Januari–Juli 2026, ekspor Indonesia hanya tumbuh 4,43 persen secara tahunan, sementara impor melonjak 19,94 persen. Penipisan surplus dagang mengurangi pasokan likuiditas dolar di pasar domestik.
Indikator kelima bertumpu pada ketahanan cadangan devisa dan strategi bauran moneter BI. Cadangan devisa nasional tercatat menguat ke posisi US$146,5 miliar per akhir Agustus 2026. Bank sentral kini menggeser taktik dengan memangkas porsi intervensi pasar spot menjadi sekitar 30 persen dan mengoptimalkan instrumen derivatif DNDF serta NDF offshore. Di sisi lain, BI mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75 persen guna menjaga pertumbuhan kredit riil.
Sana menegaskan pembalikan arah rupiah membutuhkan perbaikan indikator secara simultan.
“Satu indikator saja jarang cukup untuk mengubah arah rupiah. Harga minyak bisa turun, tetapi jika imbal hasil obligasi AS tetap tinggi dan modal asing belum kembali, tekanan tidak akan mereda. Cerita sebenarnya akan terlihat dari apakah kelima indikator mulai bergerak seirama, sebuah gambaran yang hanya muncul seiring waktu,” pungkas Sana.

















