Praktisi IT BNI dan CIMB Niaga menegaskan keberhasilan transformasi AI di perbankan bergantung pada kepemimpinan strategis dan integrasi data.
Stabilitas.id – Kemampuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam mengotomatisasi pekerjaan operasional perbankan yang repetitif dinilai tidak akan berdampak maksimal tanpa ditopang oleh kepemimpinan yang kuat dan kesiapan sumber daya manusia (SDM).
Pandangan strategis tersebut mengemuka dalam diskusi virtual Techno Banker Forum bertajuk “AI Transformation – Perspective on Leadership, Strategy, and Execution” di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Forum ini mempertemukan dua praktisi perbankan terkemuka, yakni Senior Executive Vice President Information Technology PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Victor Korompis dan Head of Data, Analytics, and AI PT Bank CIMB Niaga Tbk Billie Setiawan, dengan dipandu oleh peneliti independen sekaligus technopreneur Dr. Elisa Indriasari.
BERITA TERKAIT
Membuka diskusi, Elisa mengibaratkan adopsi AI layaknya pelayaran kapal Titanic. Kapal dengan mesin canggih tetap memerlukan nakhoda andal untuk mengambil keputusan krusial saat menghadapi rintangan tak terduga.
“Sebuah kapal dengan teknologi paling mutakhir dan mesin bertenaga besar sekalipun di jamannya tetap membutuhkan nahkoda untuk menentukan arah dan mengambil keputusan krusial saat situasi berubah. AI adalah salah satu katalisator, tapi leadership adalah nahkoda-nya,” tegas Elisa.
Senior Executive Vice President IT BNI Victor Korompis menyoroti bagaimana AI menggeser porsi kerja karyawan dari sekadar eksekusi teknis menjadi pemikir strategis. Namun, keberhasilan integrasi AI membutuhkan pemahaman yang merata di seluruh unit kerja, bukan hanya di divisi teknologi informasi.
“Transformasi AI menuntut peningkatan kapabilitas di berbagai lini divisi, tidak bisa hanya dibebankan eksklusif kepada tim IT atau data. Saat menentukan prioritas use case, kita harus melihat dampak bisnis secara nyata, bukan sekadar memangkas efisiensi biaya. Karyawan yang berinteraksi langsung dengan sistem AI ini juga wajib dibekali pelatihan memadai,” papar Victor.
Di sisi lain, Head of Data, Analytics, and AI CIMB Niaga Billie Setiawan memaparkan lima tahap evolusi AI dalam bisnis, mulai dari pemahaman data masa lalu (insight), prediksi tren (foresight), hingga eksekusi mandiri melalui kecerdasan agen (Agentic AI). Billie mengingatkan bahwa keandalan algoritma sangat ditentukan oleh fondasi data yang rapi dan terhubung.
“Semua kecanggihan AI tidak akan berjalan optimal tanpa basis data yang terstruktur dan terintegrasi dari berbagai sistem yang sebelumnya terpisah. Apalagi dalam konteks perbankan, adopsi AI harus selalu mematuhi regulasi dan mengutamakan keamanan data secara mutlak,” jelas Billie.
Kedua praktisi sepakat bahwa keberhasilan adopsi AI di industri jasa keuangan bertumpu pada keselarasan arah (alignment) antara manajemen puncak dan tim operasional. Ke depan, kolaborasi manusia dan mesin cerdas (Human-AI Collaboration) akan semakin intensif, di mana AI menyediakan kecerdasan analisis (intelligence), sementara pimpinan bank memegang kendali atas pertimbangan (judgement) dan keputusan akhir.

















