BCA dan TULOLA menggelar Kawan Nusantara 2026 di Sanur Bali guna mendorong wastra tenun dan batik binaan menembus pasar global di tengah kredit UKM tumbuh 7 persen.
Stabilitas.id – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui payung program Bakti BCA berkolaborasi dengan jenama perhiasan TULOLA menggelar pameran karya kreatif Kawan Nusantara 2026 bertajuk “EVOLUSI” di The Meru Sanur, Bali. Perhelatan ini menjadi etalase strategis untuk mendorong produk perajin lokal binaan—mulai dari wastra tenun warna alam Sumba Timur hingga batik pesisir Pekalongan—agar mampu bersaing menembus pasar ekspor global.
Ajang di Bali ini merupakan kota kedua setelah sukses digelar di Jakarta pada Juli lalu.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyatakan perseroan berkomitmen menjembatani perajin daerah dengan jejaring pasar industri kreatif yang lebih luas.
BERITA TERKAIT
“BCA melihat banyak karya kreatif Indonesia yang lahir dari kekayaan tradisi dan kearifan lokal memiliki potensi untuk terus berkembang dan dikenal lebih luas. Karena itu, kami tidak ingin pembinaan berhenti pada peningkatan kapasitas, tetapi juga membuka ruang bagi para pelaku usaha untuk memperkenalkan karya, membangun jejaring, dan menemukan peluang pasar baru. Kami berharap semakin banyak karya lokal yang dapat tumbuh dari daerahnya dan memiliki daya saing hingga ke tingkat global,” ujar Hera dalam keterangan resminya, Jumat (9/10/2026).
Pameran ini menghadirkan jenama alas kaki Marista Santividya yang lolos kurasi program UMKM BCA Go Export. Produk ini memadukan estetika modern dengan material baku lokal bernilai fungsi tinggi.
Dari Nusa Tenggara Timur, komunitas penenun Sumba Timur memamerkan wastra pewarna alami di bawah naungan Koperasi Konsumen Uma Tinung Kambata. Program pembinaan yang melibatkan 50 penenun ini terbukti memberi dampak ekonomi nyata, dengan tambahan penghasilan komunitas penenun menembus lebih dari Rp367 juta sepanjang 2025 atau tumbuh 34 persen secara tahunan.
Kisah sukses serupa dicatatkan oleh Kampung Batik Gemah Sumilir asal Pekalongan yang dibina BCA sejak 2016. Tiga kain batiknya sempat dipamerkan selama lima bulan di MARKK Museum, Hamburg, Jerman. Produk binaan ini konsisten mencatatkan kontribusi transaksi besar, dengan nilai serapan produk UMKM oleh BCA mencapai Rp1,92 miliar pada semester pertama 2026.
Pada momentum yang sama, Bakti BCA dan TULOLA merilis koleksi perhiasan HEROES OF HERITAGE karya perajin Desa Wisata Taro, Bali, yang mengadaptasi tradisi pembuatan benda suci (pratima) menjadi aneka bros perhiasan, berdampingan dengan mahakarya keris tradisional Bali.
“Bagi kami, kekayaan budaya Indonesia merupakan sumber kreativitas yang tidak pernah habis. Ketika tradisi dipadukan dengan inovasi dan memperoleh akses terhadap ekosistem yang tepat, karya dari berbagai daerah dapat memiliki relevansi yang lebih luas tanpa kehilangan identitasnya,” tutup Hera.
Komitmen pendampingan ekosistem UMKM ini diimbangi dengan ekspansi intermediasi yang solid. Penyaluran kredit UKM BCA tumbuh 7 persen secara tahunan (year-on-year) per Agustus 2026, melampaui rata-rata pertumbuhan kredit UKM industri perbankan nasional yang berada di level 2,3 persen.

















