Stabilitas.id — Penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah sebesar Rp200 triliun di bank-bank pelat merah (Himbara) diproyeksikan bakal memperkuat tren penurunan suku bunga kredit nasional. Langkah ini dinilai efektif meredakan tensi perebutan likuiditas di pasar uang menjelang periode Ramadan dan Idulfitri.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menjelaskan bahwa perpanjangan masa penempatan dana hingga September 2026 memberikan kepastian bagi perbankan untuk tidak perlu berebut dana mahal. Hal ini secara otomatis akan menurunkan suku bunga dana (cost of fund) yang kemudian diikuti oleh penurunan bunga kredit.
“Ujungnya seharusnya bisa mendorong penurunan suku bunga kredit. Penempatan SAL ini meredakan tensi perebutan likuiditas, terutama di antara bank-bank besar,” ujar pria yang akrab disapa Asmo tersebut di Jakarta, Rabu malam (25/2/2026).
BERITA TERKAIT
Meski trennya menurun, Asmo memprediksi penurunan bunga kredit tidak akan seagresif penurunan BI-Rate karena adanya faktor inelastisitas di pasar. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), meskipun BI-Rate sudah turun 125 basis poin (bps) sepanjang 2025, suku bunga kredit baru turun sekitar 40 bps ke level 8,80% per Januari 2026.
Asmo juga mencatat bahwa margin bunga bersih (Net Interest Income/NIM) perbankan secara bertahap mulai menurun. Hal ini mengonfirmasi bahwa bank mulai menyesuaikan suku bunga mereka seiring dengan melonggarnya likuiditas moneter.
Tim Ekonom Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan kredit industri perbankan tahun ini tetap tangguh di kisaran high single digit hingga low double digit, tepatnya di angka 9%—11%. Dukungan likuiditas dari pemerintah melalui dana SAL menjadi bantalan penting bagi perbankan untuk mencapai target tersebut.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa bank tidak perlu khawatir kehilangan likuiditas. Kebijakan perpanjangan dana ini akan dievaluasi kembali pada September 2026, dengan fokus utama tetap pada menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung penurunan suku bunga deposito maupun kredit guna menggairahkan sektor riil. ***
















