• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 19, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Ekonomi

Ekonomi Q2 Tumbuh 7.07 Persen, Indonesia Tempuh Strategi ‘Riding The Wave’

Artinya saat kita adaptasi dengan situasi pandemi dan disiplin prokes, lalu BI (Bank Indonesia) melakukan stimulus moneter dan relaksasi, dan pemerintah melalui APBN beri stimulus ekonomi, maka recovery terjadi...”

by Sandy Romualdus
5 Agustus 2021 - 17:05
82
VIEWS
DGS BI Destry Damayanti saat berbicara dalam Virsem #54 LPPI, Rabu 5 Agustus 2021.

DGS BI Destry Damayanti saat berbicara dalam Virsem #54 LPPI, Rabu 5 Agustus 2021.

0
SHARES
82
VIEWS

JAKARTA, Stabilitas.id – Pertumbuhan ekonomi kuartal kedua (Q2) tahun ini yang mencapai 7,07 persen secara tahunan (year on year/yoy) merupakan hasil positif dari adaptasi semua pihak, baik pemerintah, regulator, dunia usaha, dan juga masyarakat, dengan kondisi pandemi Covid.

“PDB kuartal dua Indonesia tumbuh 7,7 persen yoy dibanding kuartal dua tahun lalu (awal pandemi) yang minus 5,3 persen. Artinya saat kita adaptasi dengan situasi pandemi dan disiplin prokes, lalu BI melakukan stimulus moneter dan relaksasi, dan pemerintah melalui APBN beri stimulus ekonomi, maka recovery terjadi,” kata Mirza Adityaswara, Direktur Utama LPPI dalam Virtual Seminar LPPI ke 54, dengan tema ‘Local Currency Settlement’, Kamis 5 Agustus 2021.

  • Baca juga: Indonesia Peringkat Pertama Modest Fashion Dunia, BI dan Kemendag Pacu Ekspor Wastra Nusantara

Hadir dalam virsem LPPI ini, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti sebagai pembicara kunci, dan juga Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI, Donny Hutabarat. Dari kalangan perbankan ada Direktur Treasury & Internasional Banking Bank Mandiri Panji Irawan, dan Wiwig Santoso Treasury Group Head Bank BTPN.

BERITA TERKAIT

Indonesia Peringkat Pertama Modest Fashion Dunia, BI dan Kemendag Pacu Ekspor Wastra Nusantara

Sekali Pindai Lintas Samudra: Langkah Berani QRIS Menguasai Pasar Pembayaran Antarnegara

Insentif Likuiditas Tembus Rp461 Triliun: BI Guyur Kredit Perumahan Rp68 Triliun Serap 500 Ribu Pekerja

Cetak Pemimpin Bank Berwawasan Global: LPPI Resmi Tutup Program Sespibank Angkatan 83

Mirza menjelaskan, ada beberapa sektor yang tampil sebagai penopang pertumbuhan ekonomi Q2 tahun ini antara lain sektor transportasi dan pergudangan dengan angka pertumbuhan sebesar 25 persen, juga sektor makan minum di angka 21,6 persen.

Sementara sektor manufaktur juga tumbuh 6,6 persen, perdagangan mendekati dua digit yakni 9.4 persen, lalu expenditure, konsmsi rumah tangga tumbuh 5,9 persen. “Aktivitas investasi juga tumbuh 7,5 persen, APBN (konsumsi pemerintah) tumbuh 8,1 persen, dan ekspor kita 31.8 persen, masih surplus karena impor 31,2 persen,” ungkap Mirza.

Kendati demikian, Mirza mengingatkan bahwa dunia saat ini memasuki tantangan baru dalam penanganan pandemi Covid-19, dengan adanya serangan varian delta. “Ini dialami banyak negara sehingga harus PPKM darurat, PPKM level 4. Maka dari itu kemungkinan akan ada perlambatan di kuartal ketiga,” jelas Mirza.

Sementara Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menilai pertumbuhan ekonomi di Q2 tahun ini sesuai ekpektasi pasar. Pasar meyakini ekonomi Indonesia akan mengalami recovery ke arah yang lebih baik. Optimisme pasar bahkan melampaui prediksi bank sentral.

“Pertumbuhan di kuartal dua ini sudah sesuai market expected dan better. Kita (BI) expect 6 persen, tetapi pertumbuhan sudah mencapai 7 persen. Ini sangat positif dan biasanya akan tercermin di pasar keuangan seperti apa,” kata Destry dalam Virsem LPPI itu.

Dia menjelaskan,perbaikan perekonomian Indonesia sejaland dengan pemulihan ekonomi global yang terus menunjukkan perbaikan secara signifikan. “Beberapa mitra dagang kita khususnya Tiongkok tumbuh 7.9 persen, AS tumbuh 12 persen,” sebutnya.

Destry menegaskan bahwa perbaikan ekonomi secara global menunjukkan bahwa berbagai negara telah melakukan stimulus yang sangat besar. Dia mencontohkan Tiongkok yang telah mengalami adjustment sejak Q4 tahun 2020 lalu.

Dorong Investasi

Maka dari itu, menurut Destry, strategi yang harus dilakukan Indonesia saat ekonomi mulai menigkat, adalah beradaptasi dengan perkembangan positif saat ini, kendati ditantang dengan varian delta.

“Strategi kita adalah riding the wave. Dengan ekonomi yang meningkat, ini cerminkan ada agregat demand yang tinggi dan tentunya akan dorong komoditas dan ekspor kita,” jelasnya.

Destry mengingatkan, dari pertumbuhan Q2 sebesar 7,07 persen itu, kontribusi terbesarnya adalah konsumsi masyarakat yang mencapai 3,17 persen. Akan tetapi secara pertumbuhan sektoral, konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 5 persen.

  • Baca juga: Sekali Pindai Lintas Samudra: Langkah Berani QRIS Menguasai Pasar Pembayaran Antarnegara

“Jadi investasi kita menjadi backbone perekonomian, karena tumbuh 7,54 persen (yoy). Ini didukung oleh konsumsi pemerintah dengan segala jenis stimulus dan pelonggaran fiskal sehingga menyumbangkan pertumbuhan 8.06 persen,” katanya.

Menariknya lagi, kata Destry, ekspor mampu mencetak pertumbuhan 32 persen, yang tentunya banyak didukung perbaikan ekonomi global. “Ini yang kita coba bagaimana manfaatkan secara optimal dalam rangka mendorong ekonomi kita,” imbuhnya.

BI, sebut Destry, sejauh ini mencatat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dalam kondisi yang sehat. Sehingga, walau Curent Account masih defisit tetapi relatif terkendali, didukung oleh masih adanya capital inflow, yang kendati melambat karena adanya penyesuaian global.

Selain itu, cadangan devisa Indonesia juga masih tercatat 130 milyar dolar AS, setara dengan 9 bulan dari impor dan pembayaran utang luar negeri Indonesia. Jauh di atas trace hold IMF yang sebesar 3 bulan. “Ini menggambarkan bahwa sektor eksternal kita strong karena pertumbuhan ekonomi di-backup ekspor kita,” jelas Destry.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah juga mengalamai penurunan volatiltias, kendati masih terjadi tekanan, terutama ketika varian delta mulai menyebar di Tanah Air. “Beberapa hari ini rupiah mulai mengalami penguatan. BI selalu hadir di pasar menjaga stabilitas Rupiah,” tegasnya.

Hal lain yang menarik menurut Destry adalah ketika posisi credit default Indonesia relatif flat dengan tren penurunan dibanding tahun lalu. Credit default merupakan persepsi global terhadap kemampuan membauar utang dari suatu negara.

“Tren (credit default) turun dari angka tertinggi tahun lalu terus mengalami penurunan dan ini positif, paling tidak memberi confidence bagi stabilitas sistem keuangan kita,” imbuhnya.

Berbagai perbaikan ekonomi tersebut menurut Destry, menjadi acuan bagi BI yang memutuskan menahan BI7DRR di level 3,5 persen. “Kami akan terus dalam posisi yang akan mengeluarkan kebijakan yang mendorong pertumbuhan ekon kita,” jelasnya.

Optimalisasi Rupiah

Pada kesempatan yang sama Destry juga menghimbau semua kalangan untuk menjaga momentum perbaikan ekonomi global sehingga memberi manfaat bagi ekonomi Indonesia. Salah satunya dengan cara menggunakan mata uang rupiah dlam setiap transaksi di dalam negeri.

Destry mengingatkan, pertumbuhan ekspor yang mencapai 31 persen masih menggunakan mata uang dolar sebagai alat transaksi dagang. “Penggunaannya 94 persen untuk ekspor dan impor 83 persen. Sementara ekspor kita dengan AS hanya sekitar 10 persen, dan impor hanya 5.2 persen,” paparnya.

Untuk itu, ke depan, dengan semakin bervariasinya mitra dagang Indonesia, dan kerjasama perdagangan bilateral, pemeritnah dan BI mulai mengatur strategi untuk bisa mengurangi ketergantungan pada dollar AS sebagai alat transaksi dengan mitra dagang Indonesia.

“Proses itu tidak mudah dan harus ada kesepahaman bagaimana cara kurangi ketergantungan terhadap USD. Karena ekspor kita ke Tiongkok paling besar yakni 13,6 persen, dan impor kita paling besar 21,4 persen. Jadi poinnya adalah kita lihat bahwa variasi mitra dagang kita besar dan bagaimana kalau kita mulai melakukan bilateral agreement agar bisa transaksi dengan mata uang masing-masing dalam transaksi perdagangan,” jelas Destry.

  • Baca juga: Insentif Likuiditas Tembus Rp461 Triliun: BI Guyur Kredit Perumahan Rp68 Triliun Serap 500 Ribu Pekerja

Dia menambahkan, BI telah melakukan penguatan kerjasama penyelesaian transaksi dengan mata uang lokal (local currency settlement) dengan Jepang, Malaysia, dan Thailand. Dan sekarang ini BI juga sedang mencoba lakukan penguatan kerjasama penyelesaian transaksi dengan beberapa bank. “2021 baru kita aktifkan LCS dengan Jepang. Kita tau Jepang punya exsposure baik perdagangan maupun investasi,” imbuhnya.

Destry lebih lanjug mengatakan bahwa fokus pengembangan LCS masuk dalam framework BI terkait dengan upaya pengembangan pasar uang Indonesia menjadi lebih modern dan maju di era digital. *

Tags: #Dirut LPPI#Mirza Adityaswara#Pertumbuhan EkonomiBIDestry DamayantiLPPIrupiahVirsem LPPI
 
 
 
 
 
Previous Post

BSI Fasilitasi Kementerian Desa Terkait Produk dan Layanan Perbankan

Next Post

Kemenperin Jaga Produksi Industri Pestisida dan Keramik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Survei BI: Kenaikan Harga Bahan Baku Bakal Dongkrak Inflasi Ritel Per Juni 2026

ULN Indonesia Agustus 2026 Terjaga US$459,3 Miliar, BI Tegaskan Struktur Tetap Sehat

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 12:51

Bank Indonesia mencatat ULN Indonesia Agustus 2026 tetap sehat sebesar US$459,3 miliar (tumbuh 5,6% yoy) dengan rasio PDB 30,9% didominasi...

Pilar Inklusi dari Binjai Utara: Kisah Shifa Celluler Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lansia

Indonesia Peringkat Pertama Modest Fashion Dunia, BI dan Kemendag Pacu Ekspor Wastra Nusantara

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 12:00

Indonesia peringkat 1 dunia sektor modest fashion SGIE 2025/2026. Deputi Gubernur Senior BI Aida S. Budiman buka IN2MOTIONFEST x JMFW...

Porsi Kredit UMKM BRI Capai 83,86%, Bukti Komitmen BRI pada Pemberdayaan Usaha Mikro

Riset Paramadina: 8 Juta UMKM Pangan Belum Tersertifikasi, Wajib Halal Serentak Berisiko Tekan Daya Beli

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 08:18

Riset Paramadina memproyeksikan kewajiban sertifikasi halal serentak berisiko membebani 8 juta UMKM pangan dan menekan daya beli rumah tangga. Stabilitas.id...

Camino de Flores: Menyusuri Spiritualitas dan Pemulihan Ekonomi di Tanah Flores

Camino de Flores: Menyusuri Spiritualitas dan Pemulihan Ekonomi di Tanah Flores

by Stella Gracia
13 Oktober 2026 - 13:23

Kementerian Pariwisata meluncurkan rute wisata Camino de Flores. Program ini bertujuan meratakan distribusi wisatawan dan memulihkan ekonomi masyarakat Nusa Tenggara...

IKK September 2026 Bertengger di 118,1: Bank Indonesia Catat Konsumsi Rumah Tangga Meningkat

IKK September 2026 Bertengger di 118,1: Bank Indonesia Catat Konsumsi Rumah Tangga Meningkat

by Stella Gracia
12 Oktober 2026 - 12:21

Survei Konsumen BI September 2026 mencatat IKK tetap optimis di level 118,1 di tengah kenaikan rasio belanja konsumsi masyarakat menjadi...

Kikis Inefisiensi, Kemenkeu Selamatkan Anggaran Rp170 Triliun Tanpa Ganggu Birokrasi

Defisit APBN Tembus Rp319 Triliun per September 2026, Menkeu Pastikan Postur Fiskal Tetap Kredibel

by Stella Gracia
9 Oktober 2026 - 14:13

APBN membukukan defisit Rp319 triliun atau 1,24 persen PDB per September 2026, Menkeu Suahasil Nazara pastikan disiplin fiskal terjaga. Stabilitas.id...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post

Kemenperin Jaga Produksi Industri Pestisida dan Keramik

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance