Stabilitas.id — Produk kerajinan ramah lingkungan berbasis kearifan lokal terus menunjukkan taringnya di pasar internasional. Salah satunya adalah TSDC Bali (Tanda Sayang dan Cinta), jenama kerajinan asal Desa Celuk, Gianyar, yang sukses mengombinasikan anyaman tradisional dengan desain modern melalui pendampingan digital dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI).
Memanfaatkan bahan serat alam seperti ate, rotan, dan pandan, TSDC Bali kini bertransformasi dari usaha skala kecil menjadi brand yang merambah pasar perhotelan, instansi, hingga wisatawan mancanegara. Keberhasilan ini tidak lepas dari peran platform LinkUMKM milik BRI sebagai sarana pendampingan usaha secara daring.
Founder TSDC Bali, Ni Wayan Sri Mustika Dewi, mengungkapkan bahwa bergabung dengan ekosistem LinkUMKM membantunya melakukan self-assessment kelas usaha serta memperluas akses jejaring komunitas secara digital.
BERITA TERKAIT
“Bergabung dengan LinkUMKM membuka akses ke jejaring yang lebih luas. Melalui berbagai program pelatihan seperti Go Modern, kami kini lebih percaya diri tampil di ajang fashion week hingga pameran UMKM internasional,” ujar Sri dalam keterangan resmi, Senin (16/3/2026).
Hingga akhir 2025, tercatat lebih dari 14,98 juta pelaku UMKM telah memanfaatkan platform LinkUMKM. Ekosistem ini menyediakan fitur terintegrasi mulai dari peningkatan kapasitas (soft skill dan hard skill) hingga penguatan akses pasar melalui Etalase Digital.
Selain pendampingan, TSDC Bali juga telah mengadopsi layanan perbankan digital BRI secara menyeluruh. Penggunaan QRIS BRI memudahkan transaksi non-tunai di gerai offline, sementara aplikasi BRImo digunakan untuk memantau arus kas dan pembayaran pemasok secara real-time.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menyatakan bahwa TSDC Bali adalah representasi keberhasilan UMKM dalam mengadaptasi kearifan lokal ke dalam tren pasar global yang kini sangat peduli pada isu keberlanjutan (sustainability).
“Dengan inovasi desain dan dukungan akses pasar yang tepat, produk berbasis kearifan lokal mampu bersaing di segmen konsumen yang lebih luas. BRI terus berkomitmen mendorong UMKM agar berkembang secara berkelanjutan melalui berbagai program pemberdayaan,” tegas Akhmad.
Dukungan masif BRI terhadap jutaan pelaku UMKM seperti TSDC didorong oleh ketahanan likuiditas sistem perbankan nasional yang tetap terjaga. Berdasarkan data ekonomi terbaru, posisi Uang Primer Adjusted nasional tercatat mencapai Rp2.027,32 triliun (akhir 2024), tumbuh 9,35% (YoY).
Melimpahnya likuiditas primer ini memungkinkan perbankan, khususnya BRI, untuk terus menyalurkan pembiayaan mikro dan memperkuat infrastruktur digital bagi UMKM di pelosok daerah, guna mempercepat pemerataan ekonomi nasional menuju visi Generasi Emas 2045. ***
















