Stabilitas.id — Harga bahan bakar minyak (BBM) di Singapura melesat hingga melampaui rekor tertinggi yang pernah tercatat pada 2022. Kenaikan tajam ini dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran yang mengguncang harga minyak mentah global.
Melansir data The Straits Times, Selasa (17/3/2026), operator SPBU Caltex telah menaikkan harga BBM RON 95 sebesar 10 sen menjadi US$3,45 atau setara Rp58.305 per liter (asumsi kurs Rp16.900 per dolar AS) per 13 Maret 2026. Angka tersebut memecahkan rekor sebelumnya sebesar US$3,42 per liter yang terjadi saat awal invasi Rusia ke Ukraina pada Juni 2022.
Kenaikan harga ini terpantau merata di seluruh operator. Shell, Esso, dan Sinopec mematok harga RON 95 di level US$3,40 (Rp57.460 per liter), sementara harga termurah saat ini berada di posisi US$3,39 (Rp57.291 per liter) pada jaringan SPC (Singapore Petroleum Company).
Kondisi pasar yang volatil bahkan memaksa para operator menaikkan harga lebih dari satu kali dalam sehari untuk menyesuaikan dengan fluktuasi harga minyak dunia.
Lonjakan harga energi ini mulai menekan sektor transportasi umum dan logistik di Singapura. Para pengemudi taksi mengeluhkan biaya operasional yang membengkak, mengingat bahan bakar merupakan komponen pengeluaran harian terbesar setelah biaya sewa kendaraan.
Merespons tekanan tersebut, sejumlah operator armada besar mengambil langkah proteksi bagi mitra pengemudinya. ComfortDelGro (CDG), operator taksi terbesar di Singapura, menawarkan harga khusus sebesar US$2,31 per liter, jauh di bawah harga pasar retail untuk menjaga margin pendapatan para pengemudi.
Langkah serupa dilakukan oleh Strides Premier, operator taksi terbesar kedua, dengan menyalurkan bantuan berupa kredit BBM untuk menutupi beban biaya operasional mitra.
“Langkah-langkah ini bertujuan untuk meringankan biaya operasional dan mendukung mata pencaharian mitra pengemudi kami. Kami akan terus memantau pergerakan harga BBM dengan cermat,” ujar Manajer Umum Bisnis Sewa Kendaraan Strides Premier, Khoo Gui Ju.
Fenomena lonjakan harga ini diperkirakan masih akan berlanjut selama ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum mereda, yang berpotensi memicu inflasi lebih lanjut pada biaya transportasi di kawasan Asia Tenggara. ***
















