Bisnis telekomunikasi Tanah Air memasuki tahap baru dalam persaingan merebut pelanggan. Setelah bersaing menjadi yang termurah sepanjang tahun ini, operator diprediksi akan memperketat persaingan dalam layanan data pada tahun depan. Kondisi ini akan melecut operator seluler untuk berbenah diri untuk lebih fokus pada peningkatan kapasitas jaringan.
Oleh: Romualdus San Udika
BERITA TERKAIT
Industri telekomunikasi nasional tampaknya sudah memasuki tahap baru persaingan. Saat periode-periode awal booming, pelaku industri selalu menggaungkan kelebihannya dalam soal jangkauan terluas. Jadilah saat itu “perang jangkauan terluas” berlangsung sengit.
Beberapa tahun belakangan, termasuk tahun ini, perang memasuki wilayah baru yaitu tarif termurah. Semua operator memproklamirkan diri sebagai penyedia layanan dengan tarif termurah. Lihat saja, sepanjang tahun ini hampir semua operator mengkalim tarif layanan paling murah dengan ditambah embel-embel selama 24 jam.
Ironisnya, pameo yang berlaku di bisnis telekomunikasi, bahwa pendapatan tidak bertambah jika kualitas layanan menurun, mulai terlihat. Lazimnya akibat promosi jor-joran dengan membanting harga serendah mungkin ditambah bonus yang berlebihan, akan membuat operator telekomunikasi mengabaikan kualitas jaringannya.
Pemangkasan tarif memang terpaksa harus diikuti dengan pengurangan pelayanan. Karena bagi operator dengan mengurangi tarif, maka pendapatan rata-rata per pelanggan (average revenues per user/ARPU) otomatis akan menurun. Parahnya, persaingan yang ketat itu juga telah memicu kecenderungan tingkat berhenti berlangganan (churn) meningkat.
Fenomena tak menggembirakan itu pun akhirnya membuat kinerja operator, terutama The Big Three melemah. Laporan keuangan tiga operator yang menguasai pasar telekomunikasi yakni PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), PT Indosat Tbk, dan PT XL Axiata Tbk (XL) hingga kuartal ketiga 2011 menjadi bukti shahih.
Telkomsel pada kuartal ketiga tahun lalu memiliki pertumbuhan omset 5 persen, Indosat mencapai 8,1 persen, dan XL sebesar 32 persen. Sementara hingga kuartal ketiga tahun ini, omset Telkomsel naik 7,5 persen, Indosat sebesar 3,5 persen, dan XL hanya sebesar 8 persen.
Presiden Direktur dan CEO Indosat Harry Sasongko mengakui bahwa strategi membanting harga pada layanan suara (voice) yang dilakukan hampir semua operator telah menekan kinerja industri termasuk perusahaannya. “Pada kuartal ketiga kinerja Indosat, khususnya seluler melambat. Hal ini karena dua operator besar usai semester awal membanting harga di layanan suara, sementara kami lebih memilih jalur konservatif,” kata dia.
Tantangan industri untuk mempertahankan kinerja kinclongnya pun bertambah berat ketika pada paro kedua tahun ini pelaku dihadapkan pada masalah layanan premium yang diprotes oleh pelanggan kartu. Masyarakat merasa dirugikan dengan banyaknya layanan macam nada dering (ring back tone dan nada sambung) serta pesan singkat (SMS) premium yang dikirimkan operator dan menyedot pulsa mereka, padahal pelanggan tak merasa berlangganan.
Belum lagi dengan aksi penipuan yang meminta pelanggan untuk mengirimkan pulsa atau dana kepada nomor tertentu yang dilakukan melalui SMS. Kondisi itu telah memaksa otoritas telekomunikasi untuk menghentikan layanan tersebut melalui surat Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) pada 14 Oktober 2011. Pasca deaktivasi layanan premium itu, pelanggan seluler dinilai enggan untuk melakukan registrasi ulang layanan tersebut dan tentunya mempengaruhi target laba perusahaan.
Sebagaimana diungkapkan Direktur Utama PT Telkomsel Sarwoto Atmosutarno, bahwa minat pelanggan untuk melakukan registrasi ulang layanan premium hanya mencapai 40 ribu pelanggan per hari. Padahal sebelumnya, dari sekitar 104 juta pelanggan Telkomsel saat ini, sebanyak 42 juta di antaranya aktif menggunakan layanan premium.
Pengamat industri telekomunikasi mengatakan bahwa tahun ini akan menjadi tahun yang berat bagi pelaku bisnis melihat sederet tantangan yang dihadapi dan akan membuat kinerja industri melemah. Maka dari itu agar, hambatan tersebut tidak memicu melemahnya kinerja hingga tahun depan maka pelayanan terbaik dengan kembali pada penguatan kapasitas jaringan mutlak diperlukan.
Masyarakat dan pelanggang dinilai sudah tidak peduli lagi dengan nomor dan jaringan manapun asal mendapatkan pelayanan yang terbaik kendati harganya realtif lebih mahal. Selain itu, operator juga harus mulai membidik jasa-jasa selain layanan suara seperti layanan data. “Ada harapan bagi operator telekomunikasi untuk meraup pendapatan dari jasa data-internet,” kata Praktisi Telematika Teguh Prasetya.
Meski di layanan itu, kata dia, juga ada banting-bantingan harga, tetapi masih dalam koridor wajar dan tren pengguna dalam pemanfaatannya memang meningkat. Hanya saja disarankannya, semua operator harus mulai agak mengerem promosi yang cenderung obral bonus dan mengurangi pendapatan, jika tidak mau pendapatannya kembali tergerus.
Peluang Data – Internet
Pentingnya operator telekomunikasi memperkuat jasa layanan data bukannya tanpa alasan. Jika mencermati fenomena pengguna jasa informasi telekomunikasi saat ini, batas antara telekomunikasi bergerak (seluler) dan internet menjadi kian tipis bahkan hilang. Ini bisa dilihat dari catatan konsumsi data internet versi Nokia Siemens Network bahwa jika hingga 2008 trafik internet mobile dunia cuma sekitar 0,4 exabita per tahun, di 2009 angka itu meningkat dua kali lipat menjadi sekitar 0,8 exabita, dan di 2010 tercatat di sekitar 1,7 exabita.
Sementara untuk tahun depan, Nokia memperkirakan trafik internet mobile dunia bakal menjadi lima exabita, dan bahkan mencapai sekitar 23 exabita pada 2015. Sebagai patokan, 1 exabita setara dengan satu juta gigabita atau satu miliar megabita atau sekitar 10 ribu keping cakram blue-ray berkapasitas 100 GB. Perkiraan yang sama juga dirilis perusahaan riset Pyramid yang memprediksi akan ada sekitar satu miliar koneksi mobile broadband di tahun 2012 nanti, termasuk teknologi di jaringan generasi ketiga (3G) dan generasi keempat (4G).
Memang, beberapa operator telekomunikasi di Tanah Air menyadari hal itu dan sedari awal tahun ini telah berencana untuk mengeluarkan investasi miliaran dolar untuk mengimplementasikan layanan broadband pada spektrum dan infrastruktur jaringan 4G. Sayangnya mereka masih harus bersaing dengan teknologi 3G yang masih mendominasi seiring dengan meningkatnya penggunaan smartphone dan USB dongles, serta konten video dan aplikasi yang membutuhkan kapasitas bandwidth lebih besar.
Dengan berbagai tantangan yang ada, jelas semua operator telekomunikasi harus segera berbenah. Dengan jumlah pelanggan data yang masih minim, tetapi kebutuhannya melampaui kebutuhan SMS atau voice, operator di Tanah Air harus kembali fokus mengembangkan keahliannya yakni memperkuat jaringan demi kenyamanan pelanggan.
Telkomsel sendiri saat ini baru mempunyai sekitar 30 juta pelanggan untuk layanan data dari total pelanggannya yang sebanyak 104 juta. Sementara Indosat, dari total pelanggan seluler yang mencapai 51 juta, pengguna wireless broadband-nya baru sebanyak 538 ribu. Sementara kinerja layanan data XL Axiata kelihatan lebih baik mengingat hampir mencapai lebih dari total pelanggannya saat ini yang sebanyak 43 juta adalah pelanggan layanan data.
Nah, dengan memantapkan pembangunan jaringan guna meningkatkan kualitas layanan data, diharapkan potensi pendapatan bisnis pada 2012 nanti dapat diraih. Dan siap-siap saja industri telekomunikasi menabuh genderang untuk bersaing dalam “perang layanan data termurah” tahun depan. SP

















