Stabilitas.id — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah tidak memiliki rencana untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam waktu dekat, meskipun ketidakpastian geopolitik global tengah menekan harga komoditas energi. Menkeu menegaskan bahwa posisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini masih cukup kuat untuk menahan gejolak eksternal.
Purbaya menjelaskan, pemerintah memiliki ruang fiskal yang memadai untuk bertindak sebagai shock absorber (peredam kejut) guna menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri agar tidak langsung berdampak pada masyarakat.
“Sampai sekarang belum ada hitungan untuk menaikkan harga BBM karena uang kita masih cukup. Fungsi anggaran adalah meng-absorb shock dari luar. Jika Presiden menghendaki, kemampuan fiskal kita bahkan cukup untuk mempertahankan harga hingga akhir tahun,” ujar Purbaya saat mengunjungi Pasar Beringharjo, Yogyakarta, Selasa (17/3/2026).
BERITA TERKAIT
Konsumsi Gasoline Diprediksi Melonjak 30%
Meski harga dipastikan stabil, Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah (JBT) memproyeksikan lonjakan konsumsi BBM yang signifikan menjelang Idulfitri 1447 H. Kebutuhan gasoline (Pertalite dan Pertamax Series) di wilayah Jateng dan DIY diperkirakan naik sekitar 30% atau mencapai 16.800 kiloliter per hari.
Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional JBT, Fanda Chrismianto, memerinci konsumsi Pertalite diprediksi naik dari 9.787 kiloliter menjadi 12.741 kiloliter per hari. Kenaikan lebih tajam terlihat pada segmen BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo yang diprediksi melonjak 55,3%, serta Pertamina Dex yang naik 64,2%.
“Lonjakan ini sejalan dengan meningkatnya mobilitas transportasi darat sebagai moda utama mudik. Kami terus memantau pergerakan harga minyak dunia dengan hati-hati, namun fokus utama saat ini adalah menjamin ketersediaan stok di jalur mudik,” jelas Fanda.
Bantalan Likuiditas dan Stabilitas
Kepastian tidak adanya kenaikan harga BBM ini didukung oleh kondisi likuiditas nasional yang tebal. Berdasarkan data Bank Indonesia, posisi Uang Primer Adjusted nasional tetap solid di level Rp2.027,32 triliun per akhir 2024.
Stabilitas harga energi menjadi faktor krusial bagi Bank Indonesia untuk menjaga sasaran inflasi 2026 di level 2,5±1%. Dengan terjaganya harga BBM, tekanan pada inflasi kelompok volatile food dan biaya transportasi mudik dapat diredam, sehingga momentum pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2026 yang ditargetkan di kisaran 4,9–5,7% tetap terjaga di tengah risiko arus modal keluar akibat perang di Timur Tengah. ***
















