Stabilitas.id — Tim Ekonom Bank Mandiri memproyeksikan pertumbuhan kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pada tahun 2026 akan bergerak di kisaran 4%—5%. Angka ini dinilai realistis mengingat penyaluran kredit segmen ini sangat bergantung pada konsistensi pertumbuhan di sektor perdagangan, pertanian, dan industri pengolahan.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro (Asmo), menjelaskan bahwa ketiga sektor tersebut menguasai sekitar 75% dari total portofolio kredit UMKM nasional. Namun, sektor pertanian yang menyumbang 19,4% porsi kredit terpantau masih tertinggal (lagging) dengan rata-rata pertumbuhan hanya 2,4% dalam tiga tahun terakhir.
“Kalau sektor-sektor tersebut belum tumbuh secara konsisten, memang sangat sulit untuk mendorong pertumbuhan sektor UMKM lebih agresif lagi. Pertumbuhan di level 4% saja saat ini dinilai sudah cukup baik,” ujar Asmo dalam diskusi di Jakarta, Rabu malam (25/2/2026).
BERITA TERKAIT
Katalis Program Makan Bergizi Gratis
Meski menghadapi tantangan sektoral, Asmo melihat prospek kredit UMKM masih terbuka lebar melalui program strategis pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini diyakini mampu membangun rantai nilai (value chain) baru yang melibatkan UMKM di daerah, sehingga memicu permintaan kredit mikro dan konsumsi.
Asmo menekankan pentingnya keberadaan pembeli siaga (off-taker) yang jelas bagi UMKM. “Jika UMKM sudah terintegrasi dalam ekosistem dengan off-taker yang jelas, akses pembiayaan berbasis invoice (invoice-based loan) akan lebih mudah dan menjadi sumber kredit yang lebih aman bagi perbankan,” tambahnya.
Strategi Penetrasi Bank Mandiri
SVP Micro Development & Agent Banking Bank Mandiri, Bayu Trisno Arief Setiawan, mengungkapkan bahwa perseroan menerapkan strategi pemberdayaan UMKM melalui turunan nasabah korporasi. Dengan memanfaatkan basis nasabah korporasi yang memiliki bisnis turunan hingga level bawah, Bank Mandiri dapat menyalurkan kredit ke ekosistem yang lebih terukur.
Hingga Januari 2026, strategi ini terbukti efektif menjaga kualitas aset. “NPL UMKM di Bank Mandiri masih di bawah 2%, bahkan di bawah 1,5%. Porsi micro banking kami memang baru sekitar Rp100 triliun dari total kredit Rp1.500 triliun, namun pertumbuhannya dalam lima tahun terakhir sangat baik,” kata Bayu.
Bank Mandiri berkomitmen untuk terus mendorong UMKM naik kelas melalui pembiayaan yang terintegrasi, sejalan dengan proyeksi pertumbuhan kredit industri perbankan tahun ini yang diperkirakan berada di level high single digit hingga low double digit (9%—11%). ***
















