Stabilitas.id — Bank Indonesia (BI) memperkuat strategi pengendalian inflasi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 H melalui optimalisasi kredit pangan. Langkah ini diambil untuk memastikan stabilitas harga di tengah lonjakan permintaan masyarakat serta menjaga inflasi tahun 2026 tetap berada dalam sasaran 2,5±1%.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menegaskan bahwa stabilitas harga pangan merupakan kunci utama dalam menjaga daya beli masyarakat. BI menempuh strategi terintegrasi yang mencakup kebijakan moneter, kolaborasi erat dengan pemerintah, hingga komitmen di pasar untuk meredam gejolak nilai tukar.
“Pengendalian inflasi diperkuat melalui koordinasi dari hulu hingga hilir. Fokus kami pada strategi 4K: menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, dan memperkuat komunikasi kebijakan,” ujar Aida dalam seminar di Jakarta, Senin (2/3/2026).
BERITA TERKAIT
Guna memperkuat sisi pasokan (supply side), Bank Indonesia mengoptimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Hingga awal Februari 2026, total insentif likuiditas yang telah dikucurkan kepada perbankan mencapai Rp427,5 triliun.
Dana tersebut diarahkan untuk memperkuat pembiayaan ke sektor-sektor prioritas, termasuk pertanian, industri hilirisasi, konstruksi, dan UMKM. Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2026 akan berada di kisaran 8% hingga 12%, setelah mencatatkan pertumbuhan 9,96% (yoy) pada Januari lalu.
Direktur Mikro BRI, Akhmat Purwakajaya, menyatakan komitmen sektor perbankan untuk mempertebal penyaluran pembiayaan ke sektor pangan. Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat kapasitas produksi domestik sehingga tekanan musiman saat Ramadan tidak mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi.
Meskipun inflasi inti tetap rendah, Aida mewanti-wanti adanya risiko dari kelompok pangan bergejolak (volatile food) yang sangat sensitif terhadap kondisi cuaca dan gangguan distribusi. Selain faktor domestik, BI juga mencermati tiga jalur ketidakpastian global:
- Harga Minyak: Berpotensi meningkatkan biaya logistik pangan.
- Volatilitas Kurs: Memengaruhi harga komoditas impor (imported inflation).
- Fragmentasi Dagang: Menekan kinerja ekspor dan dinamika permintaan.
Sejalan dengan itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui Direktur Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, I Gusti Ketut Astawa, menjamin penguatan stok pangan nasional akan terus dilakukan bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID) guna memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi hingga puncak lebaran nanti. ***
















