Kredivo menggelar program literasi Generasi Djempolan di Ambon guna membentengi generasi muda dari risiko utang di tengah lonjakan pembiayaan BNPL Rp31,56 triliun.
Stabilitas.id – Platform pembiayaan kredit digital Kredivo memperluas jangkauan edukasi finansial Generasi Djempolan ke kawasan Indonesia Timur dengan menyambangi mahasiswa Universitas Pattimura di Kota Ambon, Maluku, Selasa (6/10/2026). Langkah ini digelar bertepatan dengan momentum Bulan Inklusi Keuangan (BIK) di tengah melesatnya penyaluran pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) nasional yang menembus Rp31,56 triliun per Juli 2026.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah rekening BNPL di Indonesia telah mencapai 33,55 juta akun pada Juli 2026 atau tumbuh 33,54 persen secara tahunan. Di Kota Ambon sendiri, penetrasi pengguna aktif Kredivo tumbuh pesat hingga 4,5 kali lipat sepanjang periode 2022 hingga 2025, yang mayoritas didominasi oleh kelompok usia produktif 26–35 tahun.
Chief Marketing Officer Kredivo Indina Andamari menegaskan bahwa akselerasi inklusi digital di kawasan timur nusantara wajib diimbangi dengan literasi keuangan yang kokoh.
BERITA TERKAIT
“Selama enam tahun terakhir, kami percaya bahwa literasi keuangan adalah fondasi utama sebelum generasi muda mengakses layanan keuangan digital. Indonesia Timur adalah kawasan dengan potensi ekonomi digital yang terus tumbuh dan populasi muda yang besar, sehingga penting bagi kami untuk hadir dan memastikan momentum pertumbuhan ini dibarengi kesiapan literasi yang memadai. Kali ini, Generasi Djempolan hadir di Ambon untuk membekali generasi muda agar menjadi konsumen digital yang cerdas dan bertanggung jawab. Ke depan, Indonesia Timur juga menjadi wilayah yang kami fokuskan untuk perluasan edukasi literasi,” ujar Indina dalam siaran pers resminya.
Urgensi edukasi ini selaras dengan hasil riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI). Survei mencatat 65,7 persen pengguna Kredivo tergolong berliterasi baik (well-literate), dengan rasio utang terhadap pendapatan (Debt-to-Income Ratio) berada di kisaran aman 10–19 persen. Sebanyak 57 persen pengguna merupakan generasi muda yang memanfaatkan layanan kredit digital untuk memenuhi kebutuhan harian dan kebutuhan darurat.
Memasuki tahun keenam pelaksanaannya, program Generasi Djempolan mengusung tema “Jago Atur Keuangan, Siap Hadapi Masa Depan”. Program ini menanamkan tiga prinsip dasar bagi mahasiswa: menentukan prioritas belanja (set priority), mengutamakan nilai guna barang (value over price), serta cakap teknologi sekaligus cerdas finansial (best of both worlds).
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura Evelin Watumlawar mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak budaya konsumtif Fear of Missing Out (FOMO) dan You Only Live Once (YOLO).
“Generasi muda hari ini punya akses keuangan digital paling luas sepanjang sejarah. Tapi akses tanpa kendali sama saja jebakan. Kuncinya bukan menahan diri dari hidup enak, tapi tahu batas aman untuk kantong sendiri, dan memastikan fintech dipakai untuk membantu, bukan justru membebani,” tegas Evelin.
Evelin membagikan empat langkah praktis bagi mahasiswa agar terhindar dari lilitan utang: memastikan legalitas izin fintech di OJK, menyusun anggaran bulanan secara rutin, menerapkan belanja sadar (mindful spending), serta tidak mudah terpengaruh tren gaya hidup di media sosial.

















