ALAT pembayaran dan transaksi dalam bentuk digital makin merasuki banyak lembaga keuangan. Tak terkecuali pada industri pembiayaan kendaraan. Kini makin banyak perusahaan pembiayaan yang mengeluarkan layanan aplikasi bergerak yang bisa diunggah lewat telepon genggam yang memudahkan nasabah untuk memperoleh pembiayaan.
Salah satunya adalah PT Mandiri Tunas Finance. Anak usaha Bank Mandiri yang bergerak di industri pembiayaan telah membuat aplikasi mobile sendiri untuk produk mereka dengan nama Mobile Apps MTF. Melalui layanan ini, perseroaan ingin menggapai target market lebih cepat, lebih luas, lebih mudah. Sejak diluncurkan bagi nasabah di akhir kuartal pertama tahun ini, aplikasi tersebut telah diunduh oleh sekitar 12 ribu pengguna.
Direktur Utama MTF, Ignatius Susatyo mengaku aplikasi bergerak MTF mendapat respons positif dari masyarakat dan ke depannya akan dibuat seperti perdagangan elektronik (e-commerce), sehingga bisa menjadi panduan bagi nasabah dalam pemrosesan kredit.
“Selain itu customer dapat upload dan input segala informasi untuk pengajuan kredit di sistem. Sehingga, dapat untuk mengukur seberapa banyak customer yang prospek di MTF,” ungkapnya di Jakarta, baru-baru ini.
Sejauh ini menurut Susatyo, Mobile Apps MTF telah memberikan sumbangan pembiayaan hingga Rp150 miliar dari total Rp 1,5 triliun atau 5 persen aplikasi masuk dari referral Bank Mandiri. Aplikasi tersebut, saat ini telah diunggah oleh 12.331 orang (per 30 September 2016), dan paling terasa mempengaruhi kenaikan pembiayaan pada saat perseroan mengikuti ajang pameran otomotif terbesar di Indonesia baru-baru ini.
Dengan aplikasi tersebut, nasabah bisa melihat promo-promo yang dikeluarkan oleh MTF, produk dan layanan MTF, harga-harga mobil terbaru dari berbagai merek, perbandingan antar merek, menghitung simulasi kredit, mencari tahu informasi mengenai cabang-cabang MTF. “Mobile apps ini juga membantu nasabah untuk mengetahui sisa angsuran mereka, tanggal jatuh tempo, asuransi, dan lain sebagainya yang terkait dengan proses kredit, sampai kita perdalam ke result value-nya,” kata Susatyo.
Singkat kata, ketika MTF menciptakan aplikasi sejatinya tujuannya adalah menjadikan aplikasi ini sebagai model life style nasabah. Artinya, ketika menggunakan aplikasi ini, nasabah senang karena kebutuhan mereka, keingintahuan mereka tentang mobil dengan mudah diperoleh karena tersaji lengkap dalam aplikasi tersebut. “Karena hingga saat ini, masih banyak orang yang ingin membeli mobil, tetapi tidak tahu mau beli merek apa. Kemudian tanya ke orang sebelahnya, yang jawaban atau rekomendasinya belum tentu sesuai kebutuhannya,” jelas Susatyo.
Aplikasi itu juga membuat nasabah memiliki informasi cukup agar bisa memilih kendaraan yang sesuai dengan kebutuhannya sendiri sekaligus bisa melihat kemampuannya sendiri dalam membeli kendaraan. “Karena kalau kita mau bikin tenor, tujuh tahun juga bisa. Misalnya guru, perawat, mungkin dia beli mobil itu untuk Sabtu-Minggu, sementara hari kerja dia naik kendaraan umum atau motor. Jadi tenor 7 tahun juga tidak masalah, bunga juga tidak mahal. Jadi aplikasi ini membantu nasabah untuk menentukan pilihannya sendiri yang cocok dengan life stylenya,” jelas Susatyo.
Perusahaan lain yang juga telah meluncurkan aplikasi pembiayaan via gadget adalah PT Federal International Finance (FIF), yang diberi nama apikasi FIF Group Mobile Customer. Aplikasi berbasis sistem operasi android di smartphone tersebut bertujuan mempermudah nasabah yang mengajukan kredit baik untuk kepemilikan sepeda motor maupun barang perabotan elektronik dalam mengajukan dan melakukan angsuran cicilan.
President & CEO FIF Group, Suhartono, mengatakan aplikasi tersebut diluncurkan untuk mempermudah konsumen kredit FIF melakukan pendaftaran ataupun pengecekan terhadap pembayaran cicilan kredit yang sedang diambilnya. “Kita melihat Indonesia sekarang ini sedang menghadapi era keterbukaan dunia dan kita berhadapan dengan customer yang melek teknologi, kita luncurkan sistem ini juga agar bisa bersaing dengan dunia ekonomi internasional,” ujar Suhartono.
Dengan total customer FIF Group sebanyak 12 juta orang, di mana 4,4 juta orang di antaranya merupakan peserta aktif, peluncuran aplikasi tersebut juga dapat membawa berbagai keuntungan terutama dalam hal kecepatan, akurasi, dan efsiensi dan memberikan added value bagi konsumen. “Dengan aplikasi mobile ini maka konsumen yang mendapatkan pelayanan terbaik, juga dapat loyal dengan FIF Group dan bisa seperti jaring laba-laba dalam menarik calon konsumer lainnya,” kata Suhartono.
Selain itu, aplikasi itu juga bisa membuat konsumen tidak perlu lagi mengeluarkan ongkos atau hambatan untuk datang ke merchant apabila hendak melakukan pembayaran cicilan sehingga menghemat ongkos transportasi dan minimalisir cost surveyor bagi perusahaan. “Selain menerapkan aplikasi ini dari karyawan dan konsumen aktif yang bisa menjadi rantai dan jaring laba-laba bagi kami, kami juga menjalin kerja sama dengan komunitas untuk kegiatan bisnis dan non bisnis (CSR),” lanjut Suhartono.
Anak usaha kelompok bisnis Astra, Astra Credit Companies (ACC) juga tidak mau ketinggalan. Dengan meluncurkan aplikasi mobile bernama ACC YES! (your easy solution) pada awal tahun ini, perusahan itu ingin mempermudah nasabah dalam mengakses pembiayaan kendaraan dari ACC.
Jodjana Jody, Direktur Utama ACC mengatakan, peluncuran aplikasi itu merupakan langkah awal ACC dalam memasuki dunia digital. Sebab, aplikasi mobile dinilai menjadi kunci penting dalam berbisnis saat ini. Pihaknya berupaya mempermudah nasabah dalam mengakses pembiayaan hanya dengan menggunakan ponsel berbasis android.
Nantinya, nasabah akan dibantu melalui ftur-ftur ACC YES! mulai dari pemilihan kendaraan hingga simulasi cicilan. “Ada enam ftur utama dalam aplikasi ini. Mulai dari simulasi kredit, persetujuan instan, status aplikasi, status angsuran, pembayaran online, berita dan promo,” kata Jody.
Salah satu ftur unggulan ACC YES! adalah persetujuan instan langsung dalam waktu satu menit untuk pelanggan segmen premium. Adapun yang dimaksud pelanggan segmen premium adalah nasabah eksisting ACC yang database-nya sudah tercatat. Selain itu, nasabah premium adalah nasabah yang memiliki track record pembiayaan yang lancar. Saat ini nasabah aktif ACC sebanyak 500.000. Dari jumlah tersebut, 40 persen di antaranya merupakan nasabah premium.
Memanfaatkan Induk
Lebih lanjut, perusahaan yang memiliki induk seperti MTF dan ACC tentu memiliki peluang untuk mendongkrak nasabah, minimal pengunggah aplikasi pembiayaannya masing-masing. Bahkan MTF secara terang-terangan mengakui adanya dukungan dari induk dengan mewajibkan setiap customer service Bank Mandiri untuk menawarkan produk melalui aplikasi ini. “Jadi saya targetkan di akhir tahun sudah di atas 20 ribu pengguna Mobile Apps MTF,” kata Susatyo.
Selain itu, lanjut dia, MTF juga telah meluncurkan inovasi penjualan yang baru secara digital bersama Bank Mandiri yakni Pre Approve Bank Mandiri. Program yang beroperasi sejak pekan ketiga Oktober 2016 ini memanfaatkan teknologi ATM Bank Mandiri. Tahap awal akan dioperasikan melalui 200 ATM Bank Mandiri di Jabodetabek.
Selanjutnya akan dioperasikan ke 6.000 ATM Bank Mandiri, dengan target sekitar 5000 nasabah akan memanfaatkan fasilitas tersebut. “Setidaknya 10 persen terealisasi di akhir tahun ini,” harap Susatyo.
Adapun prosesnya antara lain, nantinya nasabah Bank Mandiri pilihan MTF, ketika menunggu uang keluar dari mesin ATM, akan menerima pesan di layar ATM, bahwa mereka terpilih sebagai salah satu nasabah yang mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pembiayaan dari MTF senilai sekian, dengan cicilan sekian. Jika nasabah setuju, tinggal memasukan nomor HP, dan akan dihubungi oleh MTF untuk proses selanjutnya. “Ini sangat sederhana dan ini sudah pasti cair pembiayaannya,” tegas Susatyo.
Ditambahkannya, jika program Pre Aprove Bank Mandiri berjalan baik di ATM, di tahun 2017 nanti akan diujicobakan di mobile banking Bank Mandiri. Dengan demikian, nantinya bersama Mobile Apps MTF, pemasaran secara digital channeling ini diharapkan berkontribusi lebih banyak ke pembiayaan MTF secara total. “Saya punya mimpi pemasaran secara mobile apps dan pre approve di ATM yang juga akan diterapkan di mobile banking akan menyumbang 20 persen dari total pembiayan kita nanti. Semoga akhir 2017 sudah bisa terlihat,” pungkas Susatyo.















