• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Senin, Oktober 19, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Kolom

Menyoal Rezim Suku Bunga Tinggi

by Sandy Romualdus
27 Februari 2016 - 00:00
21
VIEWS
Laba Bersih United Tractors Q1 2020 Turun
0
SHARES
21
VIEWS

Rezim suku bunga tinggi di Indonesia saat ini menggambarkan beberapa hal yakni menguntungkan bagi para bankir dan pemilik dana, namun tidak bagi para debitur (pengusaha), terlebih pelaku usaha menengah ke bawah. Menguntungkan bagi bankir karena spread interest rate-nya tinggi. Menguntungkan bagi pemilik dana karena suku bunga deposito/tabungan yang tinggi, namun mencekik pelaku usaha karena suku bunga kredit tinggi.

Spread interest rate di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan dengan negara kawasan ASEAN. Data tahun 2014 menunjukkan interest rate spread Indonesia mencapai 3,9 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia sebesar 1,5 persen, Vietnam 2,9 persen, dan Tiongkok 2,9 persen. Meski dibandingkan dengan Singapura dan Thailand yang masing-masing sebesar 5,2 persen dan 4,8 persen, Indonesia masih tetap lebih tinggi karena suku bunga di kedua negara tersebut relatif lebih rendah.

  • Baca juga: Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Bagi pemilik dana suku bunga deposito di Indonesia masih menarik. Kemenarikan ini disebabkan oleh besarannya yang tinggi dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN. Masih pada tahun yang sama, suku bunga deposito di Indonesia sebesar 8,8 persen; Malaysia sebesar 3,0 persen; Singapura sebesar 0,1 persen; Thailand sebesar 2,0 persen; Vietnam sebesar 5,8 persen dan Tiongkok sebesar 2,8 persen.

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bagi pelaku usaha, tingginya suku bunga perbankan menjadi kendala tersendiri dalam mengembangkan sektor riil. Suku bunga tinggi akan menjadikan penyaluran kredit tidak optimal yang berdampak sulit berkembangnya sektor riil berkembang dikarenakan akses terhadap dana perbankan tidak optimal.

Bila dibandingkan dengan negara-negara kawasan di ASEAN, suku bunga kredit di Indonesia terbilang paling tinggi. Pada tahun 2014, tingkat suku bunga kredit di Indonesia berada pada posisi 12,6 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia sebesar 4,58 persen; Singapura sebesar 5,35 persen; Thailand sebesar 6,77 persen; Vietnam sebesar 8,66 persen dan bahkan dibadingkan dengan Tiongkok hanya sebesar 5,6 persen.

Sebab Musabab

Tingginya suku bunga di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah cost of fund yang tinggi, premi risiko, overhead cost yang tidak rendah serta margin keuntungan. Kontribusi biaya dana (cost of fund) dan overhead cost berkontribusi sekitar 65 persen dalam pembentukan suku bunga pinjaman. 

Salah satu pembentuk biaya dana adalah struktur kepemilikan dana yang saat ini masih didominasi sejumlah kecil deposan. Akibatnya, deposan yang jumlahnya kecil ini memiliki daya tawar yang tinggi terhadap bank. Daya tawar ini tidak jarang berbuntut pada tuntutan besaran bunga sama dengan bunga LPS. 

  • Baca juga: Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

Selain struktur kepemilikan dana, faktor lain adalah inflasi. Inflasi di Indonesia terbilang lebih tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN. Pada periode 2011 – 2015, rata-rata inflasi Indonesia berkisar 5,6 persen, Malaysia 2,5 persen, Singapura 2,05 persen dan Thailand 2,72 persen. 

Implikasi dari tingginya inflasi adalah suku bunga nominal sulit untuk turun dikarenakan adanya prinsip real interest rate positif. Dalam jangka panjang suku bunga harus melebihi inflasi agar daya beli masyarakat, terutama penabung, tidak berkurang dan juga sebagai instrumen pencegah capital outflow.  

Komponen berikutnya dalam pembentuk suku bunga adalah premi risiko. Sekitar 50 persen total kredit perbankan di Indonesia dialokasikan pada kredit usaha mikro kecil dan menengah. Segmen kredit UMKM ini merupakan segmen kredit yang dianggap mempunyai risiko relatif tinggi dibandingkan dengan jenis kredit lainnya. Sebabnya adalah nilai jaminan rendah dan skala ekonomisnya kecil. 

Komponen ketiga pembentuk suku bunga kredit adalah overhead cost. Biaya overhead perbankan masih tinggi karena sektor ini masih dalam tahap pertumbuhan dan belum terlalu efisien. Hal ini terlihat dari tingkat kedalaman sektor keuangan di Indonesia yang masih rendah. Saat ini kedalaman sektor keuangan Indonesia berkisar pada angka 30 persen dari produk domestik bruto. Angka ini jauh jika dibandingkan dengan Korea Selatan sebesar 109 persen, Singapura 102 persen, dan Thailand 97 persen. T

erakhir adalah profit margin. Keuntungan disesuaikan dengan tingkat risiko jenis pinjaman. Tingkat risiko yang tinggi, akan mejadikan profit margin-nyajuga tinggi. Risiko kredit di Indonesia bukan hanya ditentukan oleh jenis pinjaman itu sendiri, namun juga melihat aspek-aspek di luar itu. 

Usaha Penurunan

Diperlukan usaha bersama stakeholder yang terlibat dalam industri perbankan untuk menghilangkan rezim suku bunga tinggi. Pemerintah bisa berkontribusi dalam menurunkan tingkat inflasi bersama bank sentral. Sifat inflasi Indonesia yang lebih didominasi oleh supply side mengharuskan pemerintah lebih aktif dalam penyediaan infrastruktur yang bisa memperlancar arus barang dan jasa di seluruh pelosok negeri. Keberadaan tim pengendali inflasi, baik di level nasional ataupun daerah patut untuk dijaga dan dioptimalkan fungsinya. 

  • Baca juga: Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Premi risiko pada kredit UMKM yang tinggi bisa ditekan dengan memperlus Jamkrida (jaminan kredit daerah). Peran pemerintah daerah sangat diperlukan dalam hal ini, disebabkan pendanaan Jamkrida berasal dari anggaran penerimaan dan belanja daerah. Adanya premi risiko yang rendah akan berdampak juga pada penurunan profit margin yang diinginkan oleh perbankan. 

Penurunan overhead cost bisa dilakukan dengan mengoptimalkan branchless banking yang setali tiga uang dengan program kebijakan keuangan inklusif yang digalakkan oleh pemerintah dan bank sentral.

 
 
 
 
 
Previous Post

Data Ekonomi Negara ASEAN

Next Post

Babak Baru Berebut Nasabah Kaya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

Membedah Gap Adopsi AI: Antara Investasi Teknologi dan Realisasi ROI Perusahaan

by Sandy Romualdus
23 September 2026 - 11:21

Mengapa 88% perusahaan menggunakan AI tetapi gagal meraih value bisnis yang nyata? Temukan akar masalah gap adopsi AI, risiko halusinasi...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Melampaui Awareness: Strategi Deteksi dan Respons Insiden Siber di Era Digital

by Sandy Romualdus
16 September 2026 - 13:34

Menghadapi kompleksitas lanskap ancaman siber 2025, organisasi harus berevolusi dari sekadar membangun kesadaran menuju implementasi Cyber Threat Detection dan Incident...

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

Cyber Security Awareness dan Digital Literacy: Benteng Baru Indonesia di Tengah Ledakan Kejahatan Digital

by Sandy Romualdus
7 September 2026 - 10:28

Transformasi digital menuntut Indonesia memperkuat benteng pertahanan siber melalui kombinasi kesadaran keamanan siber dan literasi digital guna mengatasi kerentanan faktor...

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

Menakar Dampak dan Implikasi Perampingan BUMN

by Sandy Romualdus
1 September 2026 - 10:00

Kebijakan perampingan dan konsolidasi BUMN bukan sekadar persoalan pemangkasan biaya operasional atau peningkatan dividen semata, melainkan sebuah pertaruhan krusial yang...

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

Salary Survey BPD: Antara Data Nasional dan Realitas Daerah

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 12:25

Pendekatan salary survey pada Bank Pembangunan Daerah (BPD) memerlukan strategi kontekstual. Salah satunya adalah pendekatan metode hybrid benchmarking untuk menjaga...

Toxic Productivity

Toxic Productivity

by Sandy Romualdus
8 Juli 2026 - 11:57

"Bekerja keras adalah hal yang baik. Namun, ketika keinginan untuk terus produktif membuat kita mengabaikan kesehatan, waktu istirahat, hingga hubungan...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Transmisi Lamban Bunga Acuan

Transmisi Lamban Bunga Acuan

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance