• Redaksi
  • Iklan
  • Majalah Digital
  • Kontak Kami
Sabtu, Juli 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
Home Finance

Musim Banjir Likuiditas Lagi?

oleh Sandy Romualdus
13 Januari 2012 - 00:00
17
Dilihat
Musim Banjir Likuiditas Lagi?
0
Bagikan
17
Dilihat

Naiknya peringkat utang di mata investor global akan memicu kembali aliran dana-dana asing ke Indonesia. Sejatinya, kondisi itu bisa menurunkan suku bunga perbankan sekaligus meningkatkan pembiayaan.

Oleh : Ainur Rahman

 

BERITA TERKAIT

BI: Bursa Mineral Bakal Berantas Praktik Nakal ‘Transfer Pricing’ dan Tarik Investasi Riil

Bidik Status Hub Perdagangan Dunia, OJK Targetkan Bursa Mineral Beroperasi 1 Januari 2027

Data Lengkap Rekening Judol: Laporan BCA, BRI, & BNI Tembus Belasan Ribu

Pasar Volatil Bukan Halangan, Laba Bisnis Wealth Management DBS Indonesia Melesat 24%

Awal 2010. Akibat meletupnya krisis sektor perumahan AS yang dikenal dengan subprime mortgage, hampir semua institusi keuangan mengunci likuiditasnya untuk berjaga-jaga. Di Indonesia kondisinya tak jauh beda. Persaingan berebut dana masyarakat diwarnai dengan maraknya produk produk pasar modal yang dikemas ‘seolah-olah’ produk perbankan atau disebut structured product serta suku bunga deposito yang dikerek.

Salah satu krisis keuangan global terparah dalam sejarah tak pelak membawa risiko likuiditas menjadi isu terpenting dalam agenda para praktisi dan otoritas perbankan.

Awal 2011. Dana asing terus membanjiri sektor keuangan Indonesia didorong oleh ketidakpastian di pasar keuangan negara-negara maju. Bank Indonesia meresponsnya dengan mengeluarkan paket kebijakan (yang dilansir Desember 2010) salah satunya dengan menaikkan setoran wajib perbankan dalam mata uang dollar AS dari 1 persen menjadi 8 persen.

BI mengkhawatirkan terjadinya pembalikan mendadak (sudden reversal) pada dana-dana asing itu yang nantinya akan melemahkan nilai tukar juga menggoyahkan perekonomian.

Awal 2012. Kenaikan peringkat utang Indonesia dinilai akan membuat dana-dana asing kembali membanjiri perekonomian nasional. Bank-bank di Indonesia berpeluang meminjam dana dari institusi di luar negeri dengan tingkat bunganya akan lebih rendah. Itu artinya biaya dana lebih murah.

Fitch Ratings menaikkan peringkat utang Indonesia menjadi BBB- dengan proyeksi stabil dari BB+ dengan proyeksi stabil. Kenaikan peringkat Indonesia ke level investment grade tak pelak menjadi berita keuangan terheboh jelang tutup tahun 2011 lalu.

Dengan peringkat utang itu, Indonesia ke kelompok investment grade sejak krisis moneter 1997. Indonesia terakhir kali mengecap investment grade dengan peringkat utang BBB- 14 tahun yang lalu, pada Desember 1997. Setelah itu peringkat utang Indonesia terus merosot, dengan level terendah B- sepanjang 1998-2001.

Baru pada Februari 2011 lalu, Indonesia merasakan naik peringkat ketika Fitch meningkatkan outlook sovereign rating Indonesia dari BB+/Stable menjadi BB+/Positive.

Tak kurang dari Gubernur Bank Indonesia yang merasa senang bukan kepalang atas pencapaian itu. Darmin Nasution mengatakan up-grade peringkat utang tersebut membuktikan keberhasilan Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi makro sekaligus mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang masih tinggi di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global. “Dengan memasuki investment grade level ini, diharapkan penguatan fundamental ekonomi dan reformasi struktural terus berlanjut,” kata dia.

Investment grade adalah peringkat yang mengindikasikan rendahnya risiko utang korporasi maupun utang pemerintah suatu negara. Untuk pemeringkatan ini, lembaga rating biasanya menggunakan huruf A dan B sebagai identifikasi kualitas dari suatu utang atau obligasi. AAA dan AA mencerminkan kualitas yang tinggi. A dan BBB mencerminkan kualitas menengah, yang disebut juga sebagai investment grade. Kualitas rendah meliputi BB, B dan CCC. Sering juga disebut junk bond, atau obligasi sampah.

Lalu apa makna naiknya peringkat utang Indonesia menjadi peringkat layak investasi ini? Bagi Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) kenaikan ini memiliki dua arti penting bagi dunia perbankan. Pertama, peringkat investment grade bagi Indonesia memberi makna jika bank-bank Indonesia meminjam dana dari luar negeri, tingkat bunganya akan lebih rendah. “Itu artinya biaya dana lebih murah. Dengan demikian peluang menurunkan suku bunga kredit perbankan akan lebih terbuka lebar,” kata Ketua Umum Perbanas Sigit Pramono.

Kedua, posisi tersebut juga akan membuat Indonesia lebih menarik bagi investor asing yang kelebihan dana. Dengan kata lain, aliran dana asing akan kembali menyerbu sektor keuangan Tanah Air di saat daya tarik menanam uang di pasar finansial Eropa tidak memberi imbal hasil yang memadai dan juga berisiko.

Hal itu berarti pasokan likuiditas valuta asing di dalam negeri akan kembali meningkat dan diharapkan akan menambah likuiditas perbankan. “Ini dua hal yang dampaknya langsung terasa bagi perbankan kita,” kata Sigit.

Meski demikian, dengan kenaikan peringkat bukan berarti bank dengan mudah meminjam uang dari lembaga asing karena BI sudah membatasi posisi harian pinjaman luar negeri jangka pendek bank sebesar 30 persen dari semula tak terbatas.

Investasi Langsung

Banyak pihak yang mengharapkan langkah Fitch Rating juga diikuti oleh lembaga-lembaga pemeringkat lain, seperti Standar & Poor’s (S&P) dan Moody’s. Jika hal itu benar-benar terealisasi tahun ini maka akan menambah minat investor untuk menanamkan uangnya di Indonesia.

“Ketika sebuah negara mencapai investment grade, yang berarti risiko dalam berinvestasi relatif lebih rendah. Ini juga berarti bahwa Indonesia akan memiliki biaya yang lebih rendah dalam pendanaan pengeluaran,” kata kepala ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti.

Menurut dia, dampak dari pemberian investment grade itu akan terasa pada investasi langsung pada tahun kedua atau ketiga sejak rating itu diberikan. Di saat kondisi ekonomi global masih seperti sekarang, besaran investasi langsung di Indonesia akan bergantung pada perkembangan ekonomi di Eropa dan AS.

Pertimbangan lainnya, investor akan melihat apakah pemerintah sudah mampu menyelesaikan pekerjaan rumah yaitu, mendorong penyediaan infrastruktur dan memperbaiki regulasi dan birokrasi yang terkait pelayanan perizinan investasi.

Badan Koordinasi Penanaman Modal menargetkan investasi langsung pada tahun ini dapat mencapai Rp 283 triliun. Pada 2011, target investasi langsung hanya ditetapkan Rp240 triliun dan dari jumlah itu, pada kuartal ketiga lalu telah terealisasi Rp181 triliun. Pencapaian dan target investasi langsung, sebagian besarnya atau di atas 70 persen berasal dari foreign direct investment.

Gejolak ekonomi di negara-negara maju memang belum juga mereda. Rasio utang terhadap produk domestik bruto mereka sangat tinggi sehingga peringkat utang turun. S&P bahkan telah menempatkan 15 negara dari zona euro pada peringatan downgrade akibat krisis utang yang sedang berlangsung di kawasan itu.

Namun demikian Indonesia telah mengurangi porsi utang terhadap PDB dari lebih 100 persen selama krisis keuangan 1997 menjadi 26 persen sekarang. Sebagai perbandingan, Yunani saat ini memiliki rasio utang sekitar 150 persen dan Amerika Serikat sekitar 100 persen.

Sementara itu Ekonom Senior Standard Chartered Bank, Fauzi Ikhsan mengatakan tidak ada alasan bagi lembaga pemeringkat lain untuk tidak mengikuti langkah Fitch. Sebab menurut dia, Indonesia telah menunjukkan manajemen utang yang baik dalam beberapa tahun ini.

“Apa yang dilakukan Fitch dengan menaikkan peringkat utang Indonesia dari BB+ menjadi BBB- dilandaskan pada pertumbuhan ekonomi yang stabil dan reformasi ketat untuk menurunkan rasio utang terhadap PDB,” jelas Fauzi.

Hanya saja, dia memperingatkan bahwa kenaikan peringkat yang membawa konsekuensi masuknya dana investasi secara tiba-tiba itu tidak membuat gelembung pada sektor keuangan di Indonesia. Untuk itu, pemerintah, tambah Fauzi, harus bergerak cepat menyiapkan prasyarat agar aliran investasi yang masuk ke Indonesia bisa dioptimalkan. “Salah satunya adalah mempercepat proyek-proyek infrastruktur sehingga dana yang masuk segera bisa dialirkan ke sana.”

Dengan bergeraknya proyek infrastruktur maka kredit perbankan secara langsung juga tersalurkan dengan pesat. SP

 

 
 
 
 
 
Sebelumnya

Penerapan Resiprokal By Accident

Selanjutnya

Masih Harap-Harap Cemas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

Data Lengkap Rekening Judol: Laporan BCA, BRI, & BNI Tembus Belasan Ribu

Data Lengkap Rekening Judol: Laporan BCA, BRI, & BNI Tembus Belasan Ribu

oleh Sandy Romualdus
17 Juli 2026 - 08:03

Kemenkomdigi merilis daftar bank dan e-wallet yang melaporkan akun judi online (judol) terbanyak. BCA dan DANA memimpin di masing-masing kategori....

Bank DBS Indonesia-Mirae Asset Sekuritas Luncurkan Online Onboarding RDN, Permudah Akses Investasi Digital

Pasar Volatil Bukan Halangan, Laba Bisnis Wealth Management DBS Indonesia Melesat 24%

oleh Stella Gracia
17 Juli 2026 - 07:24

Segmen Wealth Management Bank DBS Indonesia mencetak pertumbuhan AUM private client sebesar 13% dan lonjakan laba bersih 24% per Juni...

Berantas Judi Online, OJK Perintahkan Bank Blokir 33.000 Rekening Penampung

BI Rate Mendaki, OJK Tegaskan Likuiditas Perbankan Tetap Tebal dan Kredit Tumbuh 11,51%

oleh Stella Gracia
17 Juli 2026 - 07:22

OJK menegaskan likuiditas industri perbankan nasional tetap kokoh dan memadai di tengah volatilitas rupiah dan kenaikan BI Rate. Kredit per...

Semester I-2026: Laba Bersih Bank BTN (BBTN) Melonjak 40,8% Jadi Rp 2,4 Triliun

Semester I-2026: Laba Bersih Bank BTN (BBTN) Melonjak 40,8% Jadi Rp 2,4 Triliun

oleh Sandy Romualdus
17 Juli 2026 - 07:00

Kinerja PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) melonjak tajam pada Semester I-2026 dengan laba bersih Rp 2,40 triliun (+40,8%...

Perkuat Strategi Beyond Mortgage, BTN Caplok Kredit Konsumer SMBC Indonesia Rp20 Triliun

Berkat Efisiensi CASA, Cost of Fund (CoF) BBTN Susut Jadi 3%

oleh Stella Gracia
16 Juli 2026 - 17:25

Bank Tabungan Negara (BBTN) sukses mencetak kenaikan laba bersih 22,6% di Kuartal I-2026 berkat reformasi radikal tata kelola kredit dan...

CIMB Niaga Cathay Travel Fair 2026: Tiket PP Hong Kong Cuma Rp3,5 Juta!

CIMB Niaga Cathay Travel Fair 2026: Tiket PP Hong Kong Cuma Rp3,5 Juta!

oleh Stella Gracia
16 Juli 2026 - 12:28

CIMB Niaga dan Cathay Pacific kembali menggelar Cathay Travel Fair 2026 serentak di Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Simak rincian promo...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Kejar Target Rp2.357 Triliun, DJP Bidik Rp200 Triliun dari Ekstensifikasi Pajak

    Tarik PPh 22 di Marketplace, DJP Bidik Pajak Digital Melonjak Hingga Rp 24 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DJP Kejar Pajak Digital, Strava dan Kling AI Resmi Kena PPN 11 Persen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Danamon-Manulife Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cetak Laba Rp66,59 Miliar, RUPST KB Bank (BBKP) Rombak Jajaran Direksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Didorong Danantara, PLN Group Bakal Ciutkan 44 Anak Usaha Menjadi 23 Unit

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

BI: Bursa Mineral Bakal Berantas Praktik Nakal ‘Transfer Pricing’ dan Tarik Investasi Riil

Bidik Status Hub Perdagangan Dunia, OJK Targetkan Bursa Mineral Beroperasi 1 Januari 2027

Data Lengkap Rekening Judol: Laporan BCA, BRI, & BNI Tembus Belasan Ribu

Pasar Volatil Bukan Halangan, Laba Bisnis Wealth Management DBS Indonesia Melesat 24%

Fundamental Kokoh, BI Sebut Tekanan Rupiah Murni Terkerek Sentimen Global

BI Rate Mendaki, OJK Tegaskan Likuiditas Perbankan Tetap Tebal dan Kredit Tumbuh 11,51%

Ogah Naikkan Tarif, Menkeu Purbaya Pilih Strategi ‘Angsa Emas’

Semester I-2026: Laba Bersih Bank BTN (BBTN) Melonjak 40,8% Jadi Rp 2,4 Triliun

Berkat Efisiensi CASA, Cost of Fund (CoF) BBTN Susut Jadi 3%

STABILITAS CHANNEL

 
Selanjutnya
Biar Outsourcing Tak Lagi Bikin Pusing

Biar Outsourcing Tak Lagi Bikin Pusing

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance