• Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
Minggu, Oktober 18, 2026
  • Login
Stabilitas
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata
No Result
View All Result
Stabilitas
No Result
View All Result
 
Home Finance

Musim Banjir Likuiditas Lagi?

by Sandy Romualdus
13 Januari 2012 - 00:00
18
VIEWS
Musim Banjir Likuiditas Lagi?
0
SHARES
18
VIEWS

Naiknya peringkat utang di mata investor global akan memicu kembali aliran dana-dana asing ke Indonesia. Sejatinya, kondisi itu bisa menurunkan suku bunga perbankan sekaligus meningkatkan pembiayaan.

Oleh : Ainur Rahman

  • Baca juga: BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

 

BERITA TERKAIT

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Awal 2010. Akibat meletupnya krisis sektor perumahan AS yang dikenal dengan subprime mortgage, hampir semua institusi keuangan mengunci likuiditasnya untuk berjaga-jaga. Di Indonesia kondisinya tak jauh beda. Persaingan berebut dana masyarakat diwarnai dengan maraknya produk produk pasar modal yang dikemas ‘seolah-olah’ produk perbankan atau disebut structured product serta suku bunga deposito yang dikerek.

Salah satu krisis keuangan global terparah dalam sejarah tak pelak membawa risiko likuiditas menjadi isu terpenting dalam agenda para praktisi dan otoritas perbankan.

Awal 2011. Dana asing terus membanjiri sektor keuangan Indonesia didorong oleh ketidakpastian di pasar keuangan negara-negara maju. Bank Indonesia meresponsnya dengan mengeluarkan paket kebijakan (yang dilansir Desember 2010) salah satunya dengan menaikkan setoran wajib perbankan dalam mata uang dollar AS dari 1 persen menjadi 8 persen.

BI mengkhawatirkan terjadinya pembalikan mendadak (sudden reversal) pada dana-dana asing itu yang nantinya akan melemahkan nilai tukar juga menggoyahkan perekonomian.

Awal 2012. Kenaikan peringkat utang Indonesia dinilai akan membuat dana-dana asing kembali membanjiri perekonomian nasional. Bank-bank di Indonesia berpeluang meminjam dana dari institusi di luar negeri dengan tingkat bunganya akan lebih rendah. Itu artinya biaya dana lebih murah.

Fitch Ratings menaikkan peringkat utang Indonesia menjadi BBB- dengan proyeksi stabil dari BB+ dengan proyeksi stabil. Kenaikan peringkat Indonesia ke level investment grade tak pelak menjadi berita keuangan terheboh jelang tutup tahun 2011 lalu.

Dengan peringkat utang itu, Indonesia ke kelompok investment grade sejak krisis moneter 1997. Indonesia terakhir kali mengecap investment grade dengan peringkat utang BBB- 14 tahun yang lalu, pada Desember 1997. Setelah itu peringkat utang Indonesia terus merosot, dengan level terendah B- sepanjang 1998-2001.

Baru pada Februari 2011 lalu, Indonesia merasakan naik peringkat ketika Fitch meningkatkan outlook sovereign rating Indonesia dari BB+/Stable menjadi BB+/Positive.

Tak kurang dari Gubernur Bank Indonesia yang merasa senang bukan kepalang atas pencapaian itu. Darmin Nasution mengatakan up-grade peringkat utang tersebut membuktikan keberhasilan Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi makro sekaligus mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang masih tinggi di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global. “Dengan memasuki investment grade level ini, diharapkan penguatan fundamental ekonomi dan reformasi struktural terus berlanjut,” kata dia.

Investment grade adalah peringkat yang mengindikasikan rendahnya risiko utang korporasi maupun utang pemerintah suatu negara. Untuk pemeringkatan ini, lembaga rating biasanya menggunakan huruf A dan B sebagai identifikasi kualitas dari suatu utang atau obligasi. AAA dan AA mencerminkan kualitas yang tinggi. A dan BBB mencerminkan kualitas menengah, yang disebut juga sebagai investment grade. Kualitas rendah meliputi BB, B dan CCC. Sering juga disebut junk bond, atau obligasi sampah.

Lalu apa makna naiknya peringkat utang Indonesia menjadi peringkat layak investasi ini? Bagi Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) kenaikan ini memiliki dua arti penting bagi dunia perbankan. Pertama, peringkat investment grade bagi Indonesia memberi makna jika bank-bank Indonesia meminjam dana dari luar negeri, tingkat bunganya akan lebih rendah. “Itu artinya biaya dana lebih murah. Dengan demikian peluang menurunkan suku bunga kredit perbankan akan lebih terbuka lebar,” kata Ketua Umum Perbanas Sigit Pramono.

Kedua, posisi tersebut juga akan membuat Indonesia lebih menarik bagi investor asing yang kelebihan dana. Dengan kata lain, aliran dana asing akan kembali menyerbu sektor keuangan Tanah Air di saat daya tarik menanam uang di pasar finansial Eropa tidak memberi imbal hasil yang memadai dan juga berisiko.

  • Baca juga: Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Hal itu berarti pasokan likuiditas valuta asing di dalam negeri akan kembali meningkat dan diharapkan akan menambah likuiditas perbankan. “Ini dua hal yang dampaknya langsung terasa bagi perbankan kita,” kata Sigit.

Meski demikian, dengan kenaikan peringkat bukan berarti bank dengan mudah meminjam uang dari lembaga asing karena BI sudah membatasi posisi harian pinjaman luar negeri jangka pendek bank sebesar 30 persen dari semula tak terbatas.

Investasi Langsung

Banyak pihak yang mengharapkan langkah Fitch Rating juga diikuti oleh lembaga-lembaga pemeringkat lain, seperti Standar & Poor’s (S&P) dan Moody’s. Jika hal itu benar-benar terealisasi tahun ini maka akan menambah minat investor untuk menanamkan uangnya di Indonesia.

“Ketika sebuah negara mencapai investment grade, yang berarti risiko dalam berinvestasi relatif lebih rendah. Ini juga berarti bahwa Indonesia akan memiliki biaya yang lebih rendah dalam pendanaan pengeluaran,” kata kepala ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti.

Menurut dia, dampak dari pemberian investment grade itu akan terasa pada investasi langsung pada tahun kedua atau ketiga sejak rating itu diberikan. Di saat kondisi ekonomi global masih seperti sekarang, besaran investasi langsung di Indonesia akan bergantung pada perkembangan ekonomi di Eropa dan AS.

Pertimbangan lainnya, investor akan melihat apakah pemerintah sudah mampu menyelesaikan pekerjaan rumah yaitu, mendorong penyediaan infrastruktur dan memperbaiki regulasi dan birokrasi yang terkait pelayanan perizinan investasi.

Badan Koordinasi Penanaman Modal menargetkan investasi langsung pada tahun ini dapat mencapai Rp 283 triliun. Pada 2011, target investasi langsung hanya ditetapkan Rp240 triliun dan dari jumlah itu, pada kuartal ketiga lalu telah terealisasi Rp181 triliun. Pencapaian dan target investasi langsung, sebagian besarnya atau di atas 70 persen berasal dari foreign direct investment.

Gejolak ekonomi di negara-negara maju memang belum juga mereda. Rasio utang terhadap produk domestik bruto mereka sangat tinggi sehingga peringkat utang turun. S&P bahkan telah menempatkan 15 negara dari zona euro pada peringatan downgrade akibat krisis utang yang sedang berlangsung di kawasan itu.

Namun demikian Indonesia telah mengurangi porsi utang terhadap PDB dari lebih 100 persen selama krisis keuangan 1997 menjadi 26 persen sekarang. Sebagai perbandingan, Yunani saat ini memiliki rasio utang sekitar 150 persen dan Amerika Serikat sekitar 100 persen.

Sementara itu Ekonom Senior Standard Chartered Bank, Fauzi Ikhsan mengatakan tidak ada alasan bagi lembaga pemeringkat lain untuk tidak mengikuti langkah Fitch. Sebab menurut dia, Indonesia telah menunjukkan manajemen utang yang baik dalam beberapa tahun ini.

“Apa yang dilakukan Fitch dengan menaikkan peringkat utang Indonesia dari BB+ menjadi BBB- dilandaskan pada pertumbuhan ekonomi yang stabil dan reformasi ketat untuk menurunkan rasio utang terhadap PDB,” jelas Fauzi.

Hanya saja, dia memperingatkan bahwa kenaikan peringkat yang membawa konsekuensi masuknya dana investasi secara tiba-tiba itu tidak membuat gelembung pada sektor keuangan di Indonesia. Untuk itu, pemerintah, tambah Fauzi, harus bergerak cepat menyiapkan prasyarat agar aliran investasi yang masuk ke Indonesia bisa dioptimalkan. “Salah satunya adalah mempercepat proyek-proyek infrastruktur sehingga dana yang masuk segera bisa dialirkan ke sana.”

  • Baca juga: Bicara di Forum IMF-World Bank: Wadirut Bank BSN Dorong Integrasi Pasar Syariah ASEAN

Dengan bergeraknya proyek infrastruktur maka kredit perbankan secara langsung juga tersalurkan dengan pesat. SP

 

 
 
 
 
 
Previous Post

Penerapan Resiprokal By Accident

Next Post

Masih Harap-Harap Cemas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA

Related Posts

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

by Stella Gracia
16 Oktober 2026 - 21:02

BNI menyabet peringkat keempat Top 10 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026 berkat penguatan kanal digital wondr...

Porsi Kredit Produktif Tembus 62 Persen: Bank BPD Bali Salurkan Pembiayaan UMKM Rp14,15 Triliun

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

by Sandy Romualdus
16 Oktober 2026 - 20:36

Bank BPD Bali meraup laba Rp1 triliun dan menyalurkan kredit UMKM Rp14,43 triliun per kuartal III/2026 dengan NPL Gross terjaga...

Bicara di Forum IMF-World Bank: Wadirut Bank BSN Dorong Integrasi Pasar Syariah ASEAN

Bicara di Forum IMF-World Bank: Wadirut Bank BSN Dorong Integrasi Pasar Syariah ASEAN

by Sandy Romualdus
15 Oktober 2026 - 15:56

Wadirut Bank BSN Arga M. Nugraha menyerukan integrasi pasar keuangan syariah ASEAN guna melayani 250 juta umat Muslim di forum...

Pilar Inklusi dari Binjai Utara: Kisah Shifa Celluler Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lansia

Lebih dari Sekadar Modal, KUR BRI Dorong Toko Grosir Fitriani Ciptakan Lapangan Kerja di Pesawaran

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 11:48

Berkat pembiayaan KUR BRI, Fitriani berhasil kembangkan kios kecil di Pesawaran jadi toko grosir sembako dan buka lapangan kerja warga...

Pilar Inklusi dari Binjai Utara: Kisah Shifa Celluler Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lansia

Pilar Inklusi dari Binjai Utara: Kisah Shifa Celluler Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lansia

by Stella Gracia
15 Oktober 2026 - 09:49

Shifa Celluler di Binjai Utara jadi ujung tombak inklusi dan literasi keuangan BRI, layani 4.500 transaksi bulanan serta dampingi nasabah...

Porsi Kredit Produktif Tembus 62 Persen: Bank BPD Bali Salurkan Pembiayaan UMKM Rp14,15 Triliun

Apresiasi Layanan Pensiun Prima: Dirut Bank BPD Bali Nyoman Sudharma Tegaskan Komitmen Sinergi Digital

by Sandy Romualdus
14 Oktober 2026 - 20:31

Bank BPD Bali meraih predikat Terbaik II Mitra Kerja Pembayaran Pensiun dari PT Taspen dan Ditjen Perbendaharaan atas layanan prima...

E-MAGAZINE

TERPOPULER

  • Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    Transaksi Repo Tembus Rp17,5 Triliun per Hari, BI Luncurkan Tri-Party Agent Repo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • OJK dan Bappebti Perkuat Sinergi dalam Pengawasan Derivatif Keuangan Berbasis Efek

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • LinkUMKM Tembus 14 Juta User, BRI Dorong Kerajinan Ramah Lingkungan Go International

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menyiapkan Talenta Hijau

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Keras Dan Menghantam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nakhoda Baru Askrindo: Mahelan Prabantarikso Gantikan M. Fankar Umran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pacu Belanja Turis Asing ke Daerah, Garuda Indonesia Luncurkan Skema Multi-Destinasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
 

Terbaru

Tak Serta-merta Otomatis, LPS Siapkan Syarat Kesehatan bagi Peserta Penjaminan Polis

BNI Sabet Peringkat 4 BUMN Layanan Terbaik di Danantara Indonesia CX100 Award 2026

Laba Tembus Rp1 Triliun: Bank BPD Bali Pacu Kredit UMKM Rp14,43 Triliun hingga Kuartal III/2026

Minta Pasar Tak Panik Sikapi Wacana MSCI, Peluang Bursa RI Turun Kelas Sangat Mustahil

Bongkar Manipulasi Saham dan Penjatahan Semu: OJK Denda DSSA, BREN, dan CUAN Total Rp2,1 Triliun

Filosofi Bahtera di Atas Laut, Pemprov DKI Resmikan Masjid Apung An-Nur di Pantai Ancol

Ancaman Eksodus Dana Asing: Simak Pemicu Usulan Reklasifikasi Standalone Market oleh MSCI

Tekanan Ganda Pasar Finansial: BI Gelontorkan Intervensi Hadapi Sentimen Risk-Off dan Isu MSCI

Tersengat Wacana MSCI dan Inflasi AS: IHSG Kena Trading Halt di Awal Sesi I

STABILITAS CHANNEL

 
 
Next Post
Biar Outsourcing Tak Lagi Bikin Pusing

Biar Outsourcing Tak Lagi Bikin Pusing

  • Advertorial
  • Berita Foto
  • BUMN
  • Bursa
  • Ekonomi
  • Eksmud
  • Figur
  • Info Otoritas
  • Internasional
  • Interview
  • Keuangan
  • Kolom
  • Laporan Utama
  • Liputan Khusus
  • Manajemen Resiko
  • Perbankan
  • Portofolio
  • Resensi Buku
  • Riset
  • Sektor Riil
  • Seremonial
  • Syariah
  • Teknologi
  • Travel & Resto
  • UKM
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pesan Majalah
  • Kontak Kami
logo-footer

Copyright © 2021 – Stabilitas

Find and Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Laporan Utama
  • Ekonomi
  • Finance
  • Asuransi
  • Danantara
  • Syariah
  • UKM
  • Internasional
  • Liputan Khusus
  • Lainnya
    • Advetorial
    • SNAPSHOT
    • Interview
    • Figur
    • Info Otoritas
    • Leadership
    • Kolom
    • Manajemen Risiko
    • Resensi Buku
    • Riset
    • Teknologi
    • Pariwisata

Copyright © 2021 Stabilitas - Governance, Risk Management & Compliance