Indra Aditya Kusuma, Faculty & Team Leader Research and Development LPPI
DIGITALISASI di sektor keuangan khususnya perbankan memaksa bank untuk senantiasa mampu berselancar pada gelombang perubahan. Akselerasi dan penyederhanaan proses bisnis agar kian lincah dan dinamis, memaksa pengambil kebijakan strategis mengambil keputusan melalui analisa berbagai variabel penentu secara singkat. Persaingan dengan perusahaan technology savvy yang juga menawarkan produk keuangan, membuat bank harus terus berinovasi agar bisnisnya berkesinambungan.
Bankir pun dipaksa untuk menyesuaikan diri, dengan menyesuaikan pengambilan keputusan secara cepat pula. Penundaan sering kali dianggap sebagai biaya yang seharusnya tidak perlu ada, akibat opportunity loss atas waktu jeda pengambilan keputusan. Penguasaan informasi, what if scenario, serta kemampuan forecasting menjadi pola keseharian, sehingga kapan pun dihadapkan pada posisi pengambilan keputusan, para bankir telah siap
Situasi yang serba dinamis, tentu bertumpu pada kepemimpinan yang lincah untuk mampu beradaptasi terhadap berbagai situasi perubahan dengan cepat. Situational leadership pertama kali dikembangkan oleh Ken Blanchard dan Paul Hersey dengan nama “Life Cycle Theory of Leadership” pada tahun 1964 yang kemudian teori ini berganti nama menjadi “Situational Leadership Theory”. Pola kepemimpinan situasional (situational leadership) ini terasa paling dibutuhkan saat ini guna mengimbangi perubahan karena dapat menyesuaikan pada variabel situasi dan kondisi. Banyak yang menilai bahwa pemimpin yang sukses adalah mereka yang memiliki kemampuan beradaptasi dengan berbagai gaya kepemimpinan pada saat berbeda.
BERITA TERKAIT
Berdasarkan riset dari Center for Leadership and Ethics (CLE) – Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) selama masa pandemic, ditemukan beberapa kecenderungan mengenai tipe kecenderungan gaya pengambilan keputusan dan kecenderungan gaya kepemimpinan para bankir. Riset personality type yang melibatkan 891 responden bankir yang mengikuti Leadership program di LPPI juga menyimpulkan beberapa temuan.
Pertama, bankir milenial (Gen Y) dan Gen Z cenderung rasional dalam mengambil keputusan. Definisi milenial dalam hal ini adalah responden bankir dengan kelahiran tahun antara tahun 1984 s.d 1996. Sementara Gen Z merupakan responden bankir kelahiran tahun 1996 s.d 2012.
Menariknya, ditemukan kecenderungan yang sama antara generasi milenial dan Gen Z sebagai generasi di bawahnya, dimana dalam mengambil keputusan lebih rasional dibandingkan generasi sebelumnya yakni Gen X dan Baby Boomers yang cenderung intuitif. Yang dimaksud rasional adalah proses pengambilan keputusan dengan tahapan multi langkah dan linier, dimana penyelesaian masalah dimulai dari proses identifikasi masalah untuk kemudian dapat menghasilkan keputusan yang logis. Model pengambilan keputusan rasional cenderung melibatkan proses kognitif, menimbang informasi yang baik dan buruk dalam setiap langkahnya dengan urutan yang logis dari tahapan sebelumnya.
Kedua, bankir milenial dan Gen Z cenderung problem solver. Merujuk kepada teori kepemimpinan situasional dimana terdapat empat tipe kepemimpinan yakni Directing (S1) dimana pemimpin lebih banyak memberikan pengarahan (mempengaruhi), dan kurang mendengarkan pendapat / ide / usulan bawahannya. Problem Solving (S2) dimana pemimpin banyak mempengaruhi bawahan tetapi juga banyak mendengarkan bawahannya. Developing (S3) dimana pemimpin yang dominan memberikan tanggung jawab kepada bawahan dan memberikan dukungan yang diperlukan. Delegating (S4) dimana pemimpin yang dominan untuk membiarkan bawahannya mengambil keputusan dan memberikan dukungan.
Sebagaimana kecenderungan gaya pengambilan keputusan, gaya kepemimpinan bankir milenial tertinggi adalah problem solving yang juga sama dengan Gen Z. Namun berbeda dengan generasi X yang lebih cenderung developing dan Baby Boomers dengan gaya directing. Besar kemungkinan, bankir milenial dan gen Z, nyaman untuk berkolaborasi sebagaimana terdapat pepatah anonym If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together. Sebagai pemimpin yang dituntut memiliki pandangan jauh ke depan, bekerja menjadi suatu keharusan khususnya dalam hal ini bagi para bankir milenial dan Gen Z.
Memang tidak bisa disimpulan bahwa kecenderungan tipe tertentu akan lebih baik daripada yang lainnya dan sebaliknya. Namun, setidaknya, setiap orang pasti akan memiliki kecenderungan dalam memilih jalan penyelesaian sebuah permasalahan. Jika bisa mengetahui berbagai alternatif jalan melalui peta, tentu kemudian pada situasi tertentu dapat memiliki strategi yang paling sesuai.
Tentu, masih banyak variabel yang bisa saja mempengaruhi tipe seseorang, seperti lingkungan dan budaya kerja, atau kompleksitas pekerjaan, namun sekali lagi kita bisa memperoleh gambar besarnya dan mempersiapkan rencana pengelolaannya. Atau setidaknya kita mengetahui potret bahwa para bankir milenial dan Gen Z itu memiliki tipe problem solver cenderung mengutamakan berkontribusi dan berkolaborasi dalam suasana yang egaliter.***
















