BRI catat perbaikan kualitas aset dengan rasio NPL turun jadi 3,01% dan LaR 9,67%. Direktur Manajemen Risiko Ety Yuniarti tegaskan strategi pruden.
Stabilitas.id – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) terus memacu ekspansi kredit berbasis prinsip kehati-hatian (prudential banking) dan manajemen risiko yang disiplin guna menjaga kualitas pertumbuhan aset secara berkelanjutan di segmen UMKM.
Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti menegaskan bahwa perseroan tidak sekadar mengukur ekspansi dari besaran pembiayaan, melainkan dari kualitas kredit yang dihasilkan melalui penilain profil risiko debitur, prospek usaha, serta kemampuan membayar.
“BRI tetap memiliki appetite untuk tumbuh dan menyalurkan kredit kepada sektor produktif. Namun, pertumbuhan tersebut harus dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan kualitas melalui asesmen risiko yang memadai,” ujar Ety dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (21/8/2026).
BERITA TERKAIT
Ety menjelaskan, penguatan kualitas aset dilakukan dari hulu ke hilir, mulai dari proses underwriting yang ketat, pemantauan on-site maupun off-site, hingga efektivitas early warning system untuk mengidentifikasi potensi tekanan pada debitur sedini mungkin.
Perbaikan Rasio NPL dan Daya Tahan Pencadangan
Penerapan manajemen risiko yang disiplin tersebut tecermin dari perbaikan indikator kualitas aset perseroan. Rasio Non-Performing Loan (NPL) BRI membaik secara quarter-on-quarter (QoQ) dari 3,07% pada akhir Desember 2025 menjadi 3,01% pada Maret 2026.
Indikator risiko yang lebih forward-looking, yakni Loan at Risk (LaR), juga menunjukkan tren penurunan signifikan sebesar 145 basis poin (bps), dari 11,13% per Maret 2025 menjadi 9,67% pada Maret 2026.
Sebagai bantalan (buffer) terhadap ketidakpastian ekonomi, BRI menjaga tingkat pencadangan risiko pada posisi tebal. Hal ini terlihat dari rasio NPL Coverage yang berada di level 179,45% serta LaR Coverage mencapai 55,75%. ***

















