BI luncurkan Indonesia Travel Pack 2026 dan perkuat QRIS Antarnegara di FEKDI x IFSE. Transaksi tembus Rp6,2 triliun, dorong belanja wisman ke pelaku UMKM.
Stabilitas.id — Di sebuah warung cenderamata di sudut destinasi wisata, seorang pelancong asal Tokyo tak lagi disibukkan dengan lembaran uang rupiah atau antrean gerai penukaran valuta asing. Cukup mengarahkan kamera ponsel pintar ke stiker kode matriks hitam-putih di atas meja kasir, transaksi pun tuntas dalam hitungan detik.
Ilustrasi ringkas ini bukan lagi proyek percontohan masa depan. Ia menjadi realitas baru transaksi lintas negara yang mewarnai hari ketiga perhelatan Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) x Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2026 di Jakarta International Convention Center. Konektivitas sistem pembayaran kini resmi bertransformasi dari sekadar kecanggihan instrumen teknis menjadi tulang punggung infrastruktur ekonomi yang menghubungkan pelancong global dengan pelaku usaha akar rumput.
Transformasi ekonomi dan keuangan digital (EKD) antarnegara ini didorong oleh dominasi generasi muda, penguatan integrasi kawasan, serta adopsi kecerdasan buatan (AI) yang diproyeksikan melipatgandakan transaksi digital hingga empat kali lipat pada 2030.
BERITA TERKAIT
Menjawab Tantangan Belanja Wisatawan
Di balik melesatnya angka mobilitas pelancong, tantangan mendasar masih membayangi pariwisata nasional. Data menunjukkan arus kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia memang menanjak dari 11,68 juta pada 2023 menjadi 15,39 juta pada 2025. Kendati demikian, rata-rata belanja per wisatawan (tourist spending) pada 2025 justru menyusut ke kisaran 1.267 dollar AS.
Tantangan devisa pariwisata kini bergeser: bukan semata memikat kuantitas kedatangan, melainkan bagaimana menciptakan ekosistem belanja yang mulus agar wisatawan terdorong membelanjakan dananya lebih optimal di pasar domestik.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Aida S. Budiman menegaskan fungsi strategis sistem pembayaran sebagai pemantik keterhubungan ekonomi yang lebih utuh.
“Konektivitas ini tidak hanya menghubungkan sistem, tetapi juga menghubungkan pengguna dengan ekosistem ekonomi yang lebih luas,” tutur Aida.
Melompat ke Panggung Antarnegara
Keberanian melangkah ke panggung regional bertumpu pada fondasi digital domestik yang solid. Hingga kini, QRIS telah memayungi 69,3 juta pengguna dan merangkul lebih dari 47 juta merchant, dengan 96,7 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM.
Modal tebal ini membuka jalan bagi ekspansi QRIS Antarnegara. Hingga Agustus 2026, sistem pembayaran kebanggaan nasional ini telah terhubung timbal balik (interoperable) dengan enam mitra utama: Malaysia, Thailand, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Sementara koridor Timor-Leste dan Hong Kong tengah dimatangkan.
Volume transaksi yang tercatat kian substansial. Transaksi pelancong asing di Indonesia (inbound) menembus 17,8 juta transaksi senilai Rp6,2 triliun. Sebaliknya, transaksi warga Indonesia di luar negeri (outbound) mencapai 5 juta transaksi senilai Rp1,85 triliun. Capaian integrasi ini bahkan diganjar penghargaan internasional 50-in-5 Awards 2026 dari Digital Public Goods Alliance di sela Sidang Majelis Umum PBB.
Gerbang Digital Bernama Indonesia Travel Pack
Kendati telah merangkul enam negara, koridor QRIS Antarnegara saat ini baru mencakup sekitar 39,77 persen dari total profil wisman ke tanah air. Masih ada sekitar 60 persen pelancong, termasuk pasar gemuk dari Australia, yang belum terjangkau skema langsung ini.
Menjembatani ceruk tersebut, Bank Indonesia meluncurkan gerbang digital terpadu Indonesia Travel Pack (ITP) 2026. Mengoreksi format fisik percontohan di Bali pada 2025, ITP 2026 hadir sepenuhnya dalam bentuk portal digital berbasis kode QR yang dapat diakses pelancong sebelum keberangkatan maupun setibanya di Indonesia.
Platform ITP mengintegrasikan tiga pilar kebutuhan pelancong:
- Explore: Kurasi panduan destinasi wisata, agenda rekreasi, kuliner lokal, hingga sebaran merchant UMKM.
- Pay: Akses informasi dan solusi fasilitas pembayaran digital domestik.
- Connect: Fasilitas konektivitas digital berupa layanan paket data SIM dan eSIM lokal.
Akses ITP disebar di simpul-simpul kedatangan strategis, mulai dari jaringan bandara InJourney, GraPARI, Sarinah, TMII, hingga kawasan wisata utama di wilayah Jakarta dan Banten.
Membentengi Kepercayaan dan Membuka Cakrawala Baru
Keterbukaan ekosistem finansial digital membawa risiko penyerta, mulai dari kejahatan siber, transaksi penipuan (fraud), tindak pidana pencucian uang, hingga manipulasi algoritma. Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta mengingatkan krusialnya menjaga benteng keamanan dan keandalan sistem.
“Menciptakan kepercayaan itu perlu waktu yang lama, tetapi merusak kepercayaan hanya butuh satu detik,” tegas Filianingsih.
Langkah perluasan QRIS Antarnegara dan peluncuran ITP 2026 merupakan bagian dari orkestrasi besar bank sentral merajut konektivitas regional, yang turut disokong oleh Project Nexus untuk pembayaran cepat lintas negara berbasis BI-FAST serta pendalaman transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT).
Dari selembar stiker kode QR di warung tradisional, transaksi digital telah meruntuhkan sekat batas negara. Ketika kemudahan dan keamanan berjalan beriringan, rupiah dari saku wisatawan dunia akan mengalir langsung menggerakkan kesejahteraan pengrajin dan pelaku usaha kecil di seluruh pelosok negeri. ***

















