Bagaimana tradisi daun lontar yang turun-temurun dan ekosistem bentukan korporasi mengubah nasib ratusan ibu rumah tangga di Solor, Flores Timur.
Stabilitas.id – Tanah di Pulau Solor, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), tak selalu ramah untuk bertani. Di wilayah yang masuk dalam peta daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) ini, keterbatasan lahan produktif kerap mendikte garis kemiskinan. Namun, di tengah gersangnya lanskap pulau, para perempuan Solor menyimpan modal berharga yang diwariskan lintas generasi: kemahiran jemari mereka menganyam daun lontar.
Bertahun-tahun, tradisi ini berjalan di tempat. Hasil anyaman sekadar menjadi pemenuh kebutuhan domestik atau dijual murah di pasar lokal. Mereka terbentur dinding tebal bernama standar mutu yang rendah, akses pasar yang buta, dan absennya literasi keuangan. Para ibu rumah tangga, yang sejatinya menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, terjebak dalam siklus subsisten.
Titik balik itu mulai di anyam sejak September 2024. Lewat program bertajuk “Menganyam Kebaikan untuk Indonesia”, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencoba mengurai benang kusut tersebut. Tidak berjalan sendiri, bank pelat merah ini menggandeng Yayasan Du Anyam untuk membangun ekosistem pemberdayaan yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
BERITA TERKAIT
Mengatrol Mutu
Intervensi pertama dimulai dari standarisasi produk. Mengubah kebiasaan menganyam yang “asal jadi” menjadi produk bernilai jual tinggi bukan perkara instan. Pelatihan produksi yang ketat digelar di 13 lokasi di Pulau Solor, menjangkau lebih dari 430 perempuan penganyam.
Hasilnya mulai terlihat pada pertengahan 2026 ini. Sebanyak 79% produk anyaman daun lontar dari Solor kini berhasil menembus kategori kualitas tinggi (high quality). Lonjakan standar mutu ini otomatis membuka keran pasar yang lebih luas, termasuk ceruk pasar premium dan korporasi yang selama ini tidak terjangkau oleh mereka.
“Kami percaya, ketika perempuan berdaya, maka keluarga dan masyarakat di sekitarnya juga akan ikut tumbuh,” ujar Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, dalam keterangan resminya.
Okki menegaskan bahwa inisiatif di Solor dirancang sebagai program berkelanjutan jangka panjang, bukan sekadar aksi filantropi sesaat (hit-and-run).
Untuk mendukung keberlanjutan itu, infrastruktur fisik ikut dibenahi. Di Desa Bubu Atagamu, Kecamatan Solor Selatan, kini berdiri Rumah Anyam. Bangunan ini berfungsi sebagai pusat pelatihan, standardisasi, sekaligus rumah produksi bersama.
Air Bersih dan Pemulihan Gizi
Menariknya, program ini tidak hanya melulu soal melatih jemari menganyam. BNI membaca adanya korelasi kuat antara produktivitas ekonomi perempuan dengan kesejahteraan domestik mereka. Dua masalah utama Solor ditarik dalam satu cetak biru pemberdayaan: krisis air bersih dan stunting.
Sebelumnya, waktu produktif para perempuan Solor banyak tersita hanya untuk mengambil air bersih demi kebutuhan harian. Memotong kompas masalah tersebut, BNI membangun proyek pipanisasi dengan 30 titik kran air bersih yang kini mengaliri 263 kepala keluarga. Waktu yang dulunya habis di jalan untuk memikul air, kini bisa dialokasikan para ibu untuk menganyam di Rumah Anyam.
Di sisi kesehatan, problem gizi buruk yang membayangi generasi masa depan Solor ikut diintervensi. Lewat Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang menyasar 98 balita, angka masalah gizi buruk di wilayah intervensi berhasil ditekan hingga 10,20%. Ekonomi yang bergerak mulai linier dengan perbaikan kualitas hidup anak-anak mereka.
Melepas Ketergantungan
Puncak dari strategi keberlanjutan ini adalah pelembagaan ekonomi. Agar para penganyam tidak terus-menerus bergantung pada asistensi korporasi, BNI memfasilitasi pembentukan Koperasi Serba Usaha (KSU) Ina Senaren.
Koperasi ini didesain sebagai sekoci komersial yang dikelola langsung oleh para perempuan Solor. Lewat KSU Ina Senaren, mereka belajar mengelola arus kas bisnis, mengorganisasi rantai pasok anyaman, hingga mengakses layanan keuangan formal perbankan.
“Melalui koperasi ini, para perempuan tidak hanya berperan sebagai pengrajin, tetapi juga sebagai pelaku usaha yang mampu mengelola bisnis dan memperluas akses pasar,” tambah Okki.
Di bawah payung koperasi, anyaman daun lontar Solor kini bukan lagi sekadar simbol perawat tradisi yang sunyi. Ia telah menjelma menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang baru, membuktikan bahwa kemandirian sosial dan finansial bisa lahir dari lembar-lembar daun lontar yang dirajut dengan manajemen yang presisi. ***

















