Bank Indonesia catat ULN Indonesia Q2/2026 sebesar US$453,4 miliar (tumbuh 4,4% yoy). Rasio ULN terhadap PDB terjaga aman dan sehat di level 30,6%.
Stabilitas.id – Bank Indonesia (BI) mencatat posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada triwulan II/2026 tetap terjaga di level US$453,4 miliar, atau tumbuh 4,4% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Perkembangan utang luar negeri tersebut dipengaruhi oleh peningkatan ULN publik (pemerintah dan bank sentral), di tengah laju kontraksi ULN swasta yang mulai melambat.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan bahwa struktur ULN Indonesia tetap sehat dan terkendali, tecermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat sebesar 30,6%, serta didominasi oleh instrumen jangka panjang dengan pangsa mencapai 82,1% dari total ULN.
BERITA TERKAIT
“Struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi pemantauan agar ULN dapat dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan secara berkelanjutan,” ujar Ramdan dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (21/8/2026).
Kinerja ULN Pemerintah dan Swasta
Posisi ULN pemerintah pada triwulan II/2026 tercatat sebesar US$216,3 miliar (tumbuh 2,9% YoY), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan I/2026 yang sebesar 3,8% YoY. Laju ini dipengaruhi oleh aliran modal masuk (inflows) pada Surat Berharga Negara (SBN) seiring terjaganya kepercayaan investor asing.
Pemanfaatan ULN pemerintah utamanya diarahkan pada sektor produktif, seperti Jasa Kesehatan & Kegiatan Sosial (22,0%), Administrasi Pemerintah & Pertahanan (20,6%), Jasa Pendidikan (16,2%), Konstruksi (11,5%), serta Transportasi & Pergudangan (8,5%). Hampir seluruh ULN pemerintah merupakan utang jangka panjang. Sementara itu, peningkatan ULN bank sentral didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Di sisi lain, posisi ULN swasta tercatat sebesar US$194,6 miliar, mengalami kontraksi 0,6% YoY (membaik dari kontraksi 1,3% YoY pada triwulan I/2026). Kontraksi ini terutama didorong oleh penurunan utang lembaga keuangan (financial corporations) sebesar 3,4% YoY.
Pangsa ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dengan kontribusi mencapai 79,4% dari total ULN swasta. ***

















