Sinatrya Alkautsar, Analis Makroekonomi dan Keuangan LPPI
Pada tanggal 4 Mei 2022 The Federal Reserve mengagetkan dunia. Bank sentral AS yang dalam satu dekade terakhir sangat konservatif dalam menyesuaikan kebijakan moneter dalam menangkal inflasi, telah menaikkan tingkat bunga acuan secara progresif.
Bank Sentral AS telah menaikkan suku bunga Federal Fund Rate sebesar 0,5 persen menjadi 1 persen. Hal ini merupakan kenaikan suku bunga paling tinggi sejak tahun 2000. Ancaman inflasi pasca pemulihan pandemic ditambah dengan imbas konflik Rusia-Ukraina memang menjadi ancaman serius negara itu.
Kebijakan moneter di negara maju seperti AS dapat memberikan efek spillover pada ekonomi lain melalui beberapa mekanisme transmisi. Yang pertama adalah mekanisme portfolio rebalancing. Berbagai riset menunjukkan bahwa normalisasi kebijakan moneter di negara maju seperti AS, meningkatkan imbal hasil obligasi jangka panjang AS dan mendorong investor untuk menyeimbangkan kembali portofolio mereka.
Investor dengan demikian akan beralih dari aset di pasar negara berkembang ke ekonomi maju yang memiliki risiko lebih rendah. Hasilnya, harga aset keuangan di pasar negara berkembang turun sementara suku bunga jangka panjang meningkat, karena kondisi keuangan yang semakin ketat di pasar negara berkembang.
Selain itu, kebijakan moneter yang ketat di negara maju akan menyebabkan mata uang mereka terapresiasi tetapi sebaliknya, pasar negara berkembang terdepresiasi. Hal ini dapat mendorong spekulasi dan meningkatkan besaran dan volatilitas arus modal. Di negara-negara dengan kebijakan managed floating, intervensi bank sentral dapat menyebabkan penurunan cadangan devisa dan menurunkan kredit domestik.
Indonesia tidak bisa dikecualikan atas kondisi ini. Bank Indonesia, yang sebelumnya menanggapi ekspektasi kenaikan suku bunga AS dan inflasi hanya dengan menyesuaikan giro wajib minimum, kini akan mulai berpikir untuk menaikkan suku bunga acuannya juga
Pada ujungnya sektor perbankan akan terpengaruh dengan kebijakan otoritas moneter itu. Kenaikan suku bunga AS, secara teori akan membuat investor memindahkan dana dari negara-negara berkembang termasuk Indonesia kepada surat berharga pemerintah AS. Keluarnya dana investor tersebut tentu akan mempengaruhi likuiditas yang ada di sistem keuangan dan melemahkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
Hal itu bisa dilihat bahwa pada pecan terakhir Mei lalu, rupiah terdepresiasi 1,20 persen atas dollar AS jika dibandingkan posisinya pada akhir April 2022. Depresiasi tersebut disebabkan oleh aliran modal asing keluar sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global di tengah terjaganya pasokan valas domestik dan persepsi positif terhadap prospek perekonomian Indonesia.
Dengan perkembangan tersebut, nilai tukar rupiah sampai dengan 23 Mei 2022 terdepresiasi sekitar 2,87 persen dibandingkan dengan level akhir 2021, relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti India 4,11 persen, Malaysia 5,10 persen, dan Korea Selatan 5,97 persen.
Respons Bank
Untuk meminimalkan efek lanjutan dari kebijakan moneter AS tersebut Bank Indonesia tentu harus segera melakukan beberapa kebijakan moneter seperti misalnya ikut menaikkan suku bunga acuan. Naiknya suku bunga acuan ini akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi indonesia yang sedang dalam tahap pemulihan.
Secara teori kenaikan suku bunga akan memaksa pemilik dana untuk menahan laju investasi dan konsumsi. Demikian juga bagi para debitur. Tentu mereka juga akan menahan keinginan untuk meminjam dana karena beban bunga yang akan mereka tanggung akan lebih tinggi dari sebelumnya. Kondisi ini juga akan membuat uang yang beredar di masyarakat menurun karena masyarakat lebih memilih menyimpan uang di bank daripada membelanjakannya.
Menurunnya tingkat investasi dan konsumsi tentu akan membuat pertumbuhan kredit perbankan melambat bahkan bias menurun. Pada akhirnya keadaan ini akan mempengaruhi kinerja bisnis perbankan.
Untuk menghadapi kondisi perekonomian seperti ini maka bank harus menerapkan beberapa strategi agar walaupun pertumbuhan kredit menurun tetapi kinerja labanya tetap terjaga bahkan bertumbuh. Di antaranya bank bisa memilih kebijakan menaikkan net interest margin (NIM) serta melakukan efisiensi biaya non bunga.
Strategi bank dalam mengerek NIM ketika terjadi kenaikan suku bunga bisa dilaukan dengan menaikkan suku bunga pinjaman dan menunda kenaikan suku bunga simpanan. Selain itu bank juga bisa menahan kenaikan suku bunga simpanan agar bisa tetap proporsional dengan besaran kenaikan suku bunga pinjaman. Strategi ini akan membuat pendapatan bunga bersih bank membesar walaupun volume kredit mengalami penurunan.
Strategi dalam melakukan efisiensi biaya non bunga adalah berfokus pada pengembangan teknologi perbankan sehingga kegiatan bisnis bisa berjalan secara efisien dan cepat. kegiatan bisnis yang dilakukan secara efisien dan cepat ini selain menghemat biaya non bunga juga akan membuat nasabah deposan untuk memilih bank tersebut walau memiliki suku bunga yang lebih rendah sehingga biaya bunga bisa lebih murah juga.
Strategi bank untuk mengerek NIM dan melakukan efisiensi merupakan strategi yang ideal dalam menghadapi perubahan kondisi ekonomi, tetapi strategi ini hanya ideal diterapkan oleh bank besar yang memiliki skala ekonomi yang lebih baik, untuk bank kecil maka akan kesulitan karena skala ekonomi yang tidak sebesar Bank KPMI 3 dan 4. Untuk itu bank-bank kecil bisa menahan pembagian dividen untuk menjadi modal kegiatan bisnis bank.***
















